Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

10 Teknologi Canggih Untuk Membantu Penyandang Disabilitas

Perkembangan teknologi setiap tahun semakin berkembang pesat, tidak banyak teknologi yang bisa digunakan oleh para penyandang disabilitas. Namun kini, semua bisa merasakan teknologi canggih berkat penemuan yang dilakukan oleh ahli profesional.

Pada tanggal 3 Desember dunia memperingati Hari Disabilitas  Internasional untuk memberikan dukungan dan perhatian kepada perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. Sejak tahun 1992 setiap tanggal 3 Desember diselenggarakan peringatan Hari Disabilitas Internasional atau the United Nations International Day of Persons with Disabilites/ UN IDPD) yang didasarkan pada Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa 47/3 pada tahun 1992.

Di Indonesia sendiri, komitmen pelaksanaan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas terwujud dalam lahirnya Undang-Undang No 8 tahun 2016  tentang penyandang desabilitas. Peringatan ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan masyarakat akan persoalan-persoalan yang terjadi berkaitan dengan kehidupan para penyandang disabilitas.

Berbeda dari kebanyakan orang, para penyandang disabilitas kerap mengalami hambatan di dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari. Permasalahan tersebut ternyata direspon oleh beberapa penemu untuk bisa menciptakan teknologi yang dapat menunjang kehidupan mereka sehari-hari.

Berikut ini adalah 10 penemuan yang diciptakan khusus untuk para penyandang disabilitas :

1. Google Glass

Teknologi yang dikembangkan oleh Google ini dapat membantu penderita autisme dalam meningkatkan kemampuan mereka bersosialisasi. Penyandang Autisme Spektrum Disorder (ASD) memiliki gangguan dalam bersosialisasi. Namun, terdapat penelitian yang mengemukakan bahwa perangkat google glass ini dapat melatih penyandang autisme dalam membaca emosi pada wajah seseorang. Oleh karena itulah kemampuan mereka dalam berinteraksi dengan orang lain dapat meningkat.

Pendiri Proyek Kacamata Autisme, Catalin Voss mengatakan bahwa tidak cukup banyak tenaga terapis yang tersedia untuk membantu penyandang autisme. Hadirnya kacamata ini diharapkan dapat membantu mereka. Setidaknya untuk meningkatkan kemampuan penyandang autisme dalam berinteraksi dan memahami emosi yang tersampaikan dalam wajah seseorang.

Kacamata keluaran Google ini bekerja dengan cara merekam wajah orang-orang yang dilihat pengidap autisme dan menambahkan berbagai informasi melalui aplikasi smartphone. Aplikasi tersebut akan membantu anak dalam mengenali ratusan wajah dan berbagai ekspresi, seperti gembira, sedih, marah, terganggu, terkejut, ketakuran, jijik, maupun tenang.

Ketika aplikasi mengenali ekspresi wajah seseorang, aplikasi tersebut akan mengirimkan informasi melalui kacamata goole untuk memberitahukan ekspresi wajah melalui headset atau layar kecil yang ada di sudut frame kacamata.

2. Braille EDGE 40 Display

Perangkat ini dapat membantu para penderita disabilitas untuk membaca konten yang ada di layar komputer dan kemudian mengubahnya menjadi karakter braille. Tidak hanya itu, perangkat ini juga mendukung beberapa aplikasi yang dapat digunakan bagi penyandang tuna netra, seperti notepad, scheduler, hingga stopwatch.

Untuk memudahkan pengguna, perangkat ini memiliki beberapa fitur seperti tombol navigasi dan beberapa tombol fungsi yang letaknya strategis, sehingga mudah untuk digunakan oleh penyendang disabilitas.

3. Bionic Arm

Proyek ini dikerjakan oleh Defense Advance Research Projects Agency (DARPA) atau Badan Penelitian Pertahanan. Ide dari proyek ini adalah bagaimana membantu mobilitas orang yang mengalami amputasi pada bagian lengan hingga tangan akan tetapi masih bisa menggunakan fungsi bagian yang diamputasi. Sehingga diciptakanlah inovasi sebuah lengan artifisial yang berfungsi seperti lengan pada umumnya meskipun terdapat sedikit perbedaan.

Para ilmuwan dari John Hopkins University telah menggunakan “Modular Prosthetic Limb” untuk menguji bagaimana otak dapat terhubung dengan elektroda sehingga mampu untuk menggerakkan lengan artifisial tersebut. Hal tersebut telah diuji coba pada bulan September 2011, di mana hasilnya sangat menggembirakan. Namun hingga kini, para ilmuwan masih terus berupaya mengembangan teknologi lengan artifisial ini.

4. iBot Stair Climbing Wheelchair

Pada tahun 2003, FDA menyetujui kursi roda yang mampu berjalan di bidang yang menanjak bertenaga baterai yang dapat memungkinkan kursi roda berjalan otomatis yang memiliki kemampuan menaiki tangga dan mengangkat seperti posisi berdiri. Dean Kamen, seorang penemu yang terkenal dengan skuter Segway, menciptakan iBOT dan melisensikannya kepada Johnson.

Terobosan yang satu ini memungkinkan penggunanya untuk dapat naik turun tangga tanpa bantuan orang lain. Kursi roda ini memiliki teknologi penyeimbangan sendiri agar dapat memastikan keamanan pengguna. Ketinggian kursi pun bisa diatur hingga mencapai ketinggian tertentu.

5. Eyeborg

Eyeborg merupakan hasil penemuan Neil Harbisson, seorang seniman dan musisi berusia 30 tahun. Beliau terlahir dengan mengidap achromatopsia, sebuah kondisi buta warna total dan hanya dapat melihat warna putih, abu-abu, dan hitam.

Sejak 2004, ia mengalami warna melalui suara melalui alat yang disebutnya "eyeborg". Ini adalah mata ketiga sibernetik yang selalu dia ikat di kepalanya setiap saat. Perangkat menerjemahkan panjang gelombang warna yang berbeda menjadi nada terdengar, kemudian mengirimkannya ke telinga dalam Harbisson melalui konduksi tulang. Eyeborg dapat mendeteksi 360 warna yang berbeda - beda tidak sebanyak mata manusia normal pada umumnya yang mampu mendeteksi lebih dari 360 warna, hal ini lebih baik dari pada tidak ada warna sama sekali.

Perangkat bekerja dengan dua cara juga. Harbisson rupanya begitu terbiasa dengan warna menjadi suara sehingga dia mampu mengubah nada dari skor musik menjadi lukisan.

6. Dyna Vox's Eyemax

EyeMAx menggunakan teknologi pelacakan mata untuk mengakses komputer, menonton tv, membaca buku, hingga berbicara bagi orang-orang yang memiliki keterbatasan. Penggunaan teknologi pelacakan mata ini memungkinkan penggunanya mengoperasikan perangkat hanya dengan menatap atau berkedip.

EyeMax System dapat digunakan oleh orang-orang dari segala usia dan kemampuan kognitif dengan penglihatan langsung di satu atau kedua mata. Ini memberikan kebebasan untuk gerakan kepala terbatas, menghilangkan kebutuhan untuk memfokuskan sistem secara manual. Sistem EyeMax dapat digunakan oleh individu dengan Cerebral Palsy, ALS, cedera tulang belakang dan banyak lagi kondisi genetik dan degeneratif lainnya, serta yang:

  • Mencari metode akses yang lebih cepat daripada yang tersedia dengan pemindaian
  • Membutuhkan opsi penyesuaian
  • Mengenakan lensa kontak atau kacamata
  • Menggunakan kedua mata atau satu mata
  • Berfungsi dengan tingkat gerakan kepala yang dikontrol

Untuk kontrol penuh atas sistem, pengguna harus memiliki kemampuan untuk mencari ke atas, bawah, kiri dan kanan. Bagi mereka dengan gerakan vertikal atau horizontal terbatas, halaman khusus dapat dibuat untuk memungkinkan akses. Membutuhkan penglihatan yang memadai untuk melihat layar dan menatap semua area layar Vmax 12,1 inci, terletak sekitar 24 inci di depan mata pengguna. Pengguna harus memiliki kemampuan untuk fokus pada satu tempat untuk jangka waktu yang singkat.

7. Lucy 4 Keyboard

Keyboard ini diciptakan untuk orang-orang yang memililki gangguan gerak, seperti celebral palsy. Dalam mengoperasikannya, pengguna tidak perlu menggunakan tangan mereka untuk mengoperasikan komputer. Namun cukup dengan menggunakan laser pointer yang dapat dilekatkan pada kacamata atau ikat kepala.

LUCY memungkinkan orang yang tidak dapat menggunakan keyboard biasa untuk menggunakan komputer pribadi. Ada beberapa metode kontrol, seperti laser, mouse, trackball dan kontrol saklar. Output ke komputer mencakup semua kemungkinan keyboard normal dan mouse. Dengan kontrol laser dan gerakan kepala, pengguna  dapat mencapai kecepatan berkelanjutan lebih dari 100 karakter per menit selama berjam-jam setiap hari.

LUCY tersedia dengan tata letak karakter yang dioptimalkan untuk bahasa Belanda, Inggris, Prancis, Jerman atau Italia. Pengaturannya mudah dipelajari dan jauh lebih efisien daripada QWERTY standar atau tata ruang abjad. Output ke PC adalah melalui kabel USB tunggal yang menyediakan keyboard, mouse, data pengguna dan koneksi daya.

LUCY juga memiliki konektor input USB untuk mouse, trackball, touchpad atau perangkat lain. Dua konektor input switch dan LED built-in memungkinkan penggunaan LUCY sebagai perangkat pemindaian. LUCY adalah plug and play dan tidak memerlukan driver khusus. Namun, ia hadir dengan perangkat lunak khusus Windows untuk mengubah berbagai pengaturan agar sesuai dengan preferensi pribadi dan memberikan umpan balik di layar kepada pengguna.

Sehingga para penyandang tunadaksa tidak perlu lagi merasa kesulitan dan kelelahan ketika mengoperasikan komputer.

8. Smart Belt

Para pengidap epilepsi, terutama anak-anak, kerap mengalami kejang-kejang di saat yang tidak terduga. Di tahun 2013, tim peneliti dari Rice University Texas yang terdiri dari professor dan beberapa mahasiswa, menciptakan alat yang bernama Seizure Monitoring and Response Transducer (SMART).

Alat ini berbentuk seperti ikat pinggang atau sabuk yang dilengkapi dengan monitor, serta dapat mengirim informasi via bluetooth yang terhubung pada handphone atau komputer milik orangtua dan pengasuh.

Alat ini dapat mendeteksi peningkatan konduktasi listrik di kulit dan perubahan tingkat pernapasan ketika pengguna sedang mengalami kejang. Pada mulanya, alat ini diperuntukkan bagi anak-anak agar orangtua dapat dengan mudah memantau anak-anak mereka terutama pada saat malam hari. Namun kini penderita epilepsi usia dewasa juga dapat mengenakan sabuk ini.

9. Braille Smartphone

Jika selama ini sudah tersedia ponsel dengan tombol braille, kini ada smartphone braille pertama di dunia. Prototipe teknologi ini dibuat oleh seorang pria asal India bernama Sumir Dagar, serta kemudian berkolaborasi dengan Indian Institute of Technology Delhi dan LV Prasad Eye Institute Hyderabad untuk mengembangkan teknologi tersebut.

Cara kerja ponsel ini menggunakan layar sentuh haptik dan terdiri dari rangkaian pin kecil canggih, yang mampu bergerak ke atas serta ke bawah untuk mengakomodasi teks dan gambar, atau dikenal pula dengan sebutan shape-memory alloy technology.

Dengan ponsel ini, seorang penyandang tunanetra dapat menyentuh atau mengenali wajah seseorang melalui video chat, sekaligus dapat mengenali ekspresi wajah lawan bicaranya. Tidak hanya itu, Dagar juga mendemostrasikan bahwa dengan teknologi ini, memungkinkan para penyandang tuna netra untuk menggunakan peta, bermain games, dan sebagainya.

10. Kanguru Electric Car

Selama ini memang banyak sekali berbagai mobil modifikasi yang dapat digunakan oleh para penyandang disabilitas, khususnya yang memakai kursi roda. Hanya saja, pengguna harus berpindah dari kursi roda terlebih dahulu untuk bisa mengendarai mobil. Hal ini dirasa agak menyulitkan, terlebih jika penggguna tersebut sedang bepergian seorang diri.

Kanguru Electric Car  adalah kendaraan listrik yang dirancang khusus untuk pengguna kursi roda. Pengemudi menggunakan kursi roda bisa masuk melalui pintu belakang pop-up dan menggunakan setang seperti sepeda motor untuk menyetir. Mobil ini mulai diproduksi pada tahun depan, menyediakan akses yang belum pernah ada sebelumnya untuk transportasi bagi 3,3 juta pengguna kursi roda yang ada di dunia.

Sebuah perusahaan otomotif menawarkan solusi atas permasalahan tersebut dengan membuat mobil khusus bagi para pengguna kursi roda yang bernama “Kenguru Electric Car”. Dengan desain khusus, pengguna kursi roda tidak perlu lagi berpindah dari kursi roda karena mobil ini telah mendukung segala aksesibilitasnya.

Mobil listrik menggunakan baterai yang dapat bertahan hingga 8 jam, serta dapat melaju dengan kecepatan maksimal 25 km/jam dan hanya ditujukan untuk berkendara di dalam kota.

Source : IDN Times

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

M. Afffandi

Politeknik Negeri Bengkalis

Riau-Indonesia

“"Dream, Plan, Do It"”