Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Bahaya Dari Penggunaan Wi-Fi Gratis Di Ruang Publik

Pada umumnya anak-anak muda sekarang ketika sedang berada diluar selain berkumpul dengan teman-teman namun sambil menikmati layanan publik secara gratis namun mereka tidak menyadari bahaya yang mengintainya.

Sering kita temui di era digital saat ini, banyak para pemuda khususnya mahasiswa yang sering nongkrong dikafe atau hanya sekedar ngumpul untuk menikmati akses internet secara gratis.  Internet saat ini bisa dengan sangat mudah diakses berkat teknologi nirkabel, atau biasa disebut WiFi. Namun, tanpa mereka sadari dari penggunaan internet secara gratis  ada bahaya tersendiri bagi para pengguna wifi publik tersebut. Maka dari itu khusus bagi para penikmat WiFi publik dan juga masyarakat dihimbau untuk tetap berhati-hati dalam  memanfaatkan fasilitas tersebut. Hal ini dikarenakan,  penggunaan WiFi gratisan ini justru menimbulkan risiko terhadap keamanan data pribadi para pengguna intenet.

Hal ini telah disampaikan oleh seorang ahli di London yang baru-baru ini telah melakukan riset mengenai pemanfaatan WiFI di tempat umum. Melalui riset tersebut, para ahli keamanan siber di Inggris, Colin Tankard menyampaikan bahwa tempat yang menyediakan fasilitas WiFi di tempat umum sangatlah rawan dari pencurian data. Bukan hanya itu saja, kejahatan siber mampu untuk membobol kartu kredit seseorang tanpa disadari secara langsung oleh korban yang bersangkutan.

Tankard juga menunjukkan situasi itu secara langsung kepada wartawan Dailymail, Toby Walne. Sebagian besar yang menjadi target sasaran seperti tempat penginapan bintang lima, stasiun, atau kafe kelas atas bisa dibilang kelas elit.

Selama percobaan, Walne hanya duduk tepat di kursi dekat resepsionis di sebuah hotel. Dia merasa aman untuk membuka dan menyalakan laptop. Namun halaman depan situs web hotel tersebut muncul peringatan pada saat menghubungkan ke jaringan internet melalui WiFi.

Meskipun telah ada peringatan bahwa penggunaan WiFi ini tidak aman, namun Walne tidak memperdulikan peringatan tersebut. Sehingga Tankard datang menemui Walne dan menanyakan apakah soket dinding di tepat disebelah Walne ada yang tidak dipakai. Lalu Tankard pun kemudian mengeluarkan sebuah benda yang berbentuk  kotak seukuran dengan bungkus rokok yang telah dilengkapi dua antena.

Tankard menyebut alat itu ‘nanas’ melihat tepat di bagian atas alat tersebut ditempeli sticker buah nanas. Meski tidak memberikan ancaman yang begitu menegangkan seperti melihat rakitan bom, Namun benda ini memiliki kemampuan khusus untuk memata-mati korban.

Alat tersebut bernilai 200 poundsterling jika di Rupiah kan sekitar Rp3,4 juta rupiah itu mampu memalsukan sinyal Wi-Fi yang telah digunakan korban dalam kasus ini adalah Wi-Fi di hotel tersebut. Tanpa disadari, Tankard sukses memata-matai  setiap pergerakan yang dilakukan Walne di dunia internet, dimulai dari saat masuk ke dalam email, media sosial, hingga pada saat Walne melakukan transaksi menggunakan kartu kredit.

“Pada saat korban memasukkan nomor dan password kartu kredit mereka, maka pada  saat itu pula hacker dapat mengetahuinya dan langsung menyimpannya sebelum melakukan aksi kriminal,” tutur Tankard. Dalam hitungan menit saja, Tankard juga dapat mengakses seluruh kontak yang terdapat di dalam laptop Wilne, biasanya dimanfaatkan untuk dijadikan korban penipuan.

Selanjutnya, Tankard juga mengeluarkan alat yang berbeda kali ini yaitu alat penguat sinyal yang seukuran bungkus korek api berwarna perak. Alat kecil tersebut dijual seharga 30 poundsterling kalau di Rupiahkan senilai 500.000 ribu rupiah itu dapat membantu hacker untuk meretas dan menguras habis kartu kredit milik korban dari jarak yang cukup jauh, baik dari tempat parkir mobil ataupun di lokasi lain di dalam hotel.

Tidak hanya itu Tankard juga menjelaskan bahwa hacker sering melakukan aksi mereka di sekitar hotel sebab selain disediakan WiFi gratis tempat ini  juga menjadi jalan bagi mereka untuk mendapatkan akses dari para pebisnis. “Jika hacker berniat melakukan aksi yang lebih jauh, mereka juga mampu untuk meretas sistem internal hotel, dimulai dari reservasi, kunci ruangan, hingga nomor kartu kredit tamu setiap tamu yang datang,” tegas Tankard.

Jaringan Palsu

Menurut Tankard, proses pencurian data dapat dilakukan melalui WiFi  dengan cara membuat duplikasi jaringan Wi-Fi yang telah disediakan oleh pihak hotel atau kafe. Dengan mudah, Tankard mulai memainkan sebuah permaian yang sering digunakan dan sangat popular di kalangan hacker, yakni man-in-the-middle (MITM).

Hacker tersebut hanya menunggu korban sampai memakan umpan Wi-Fi mereka, baik melalui  jaringan sendiri ataupun jaringan imitasi dari jaringan publik. Setelah itu, korban yang melakukan akses ke situs bank atau e-commerce via Wi-Fi palsu akan mudah diretas. Selain itu korban yang sekadar melihat  Amazon akan menerima tagihan tak terduga tanpa mereka sadari.

“Meskipun saya tidak membuka kartu kredit, ia tetap dapat meretasnya dikarenakan kartu kredit saya dikaitkan dengan akun Amazon. Dengan cara ini, dia dapat berbelanja sepuasnya menggunakan akun Amazon saya lalu mengirimnya ke alamat palsu. korban tidak akan sadar apa yang telah dilakukan peretas sampai tagihan muncul,” ujar Walne.

Kondisi yang sangat berbahaya ini tidak mengenal tempat. Disetiap lokasi yang telah menyediakan WiFi gratis maka dapat diyakini selalu rawan dengan gerombolan hacker, dimulai dari stasiun kereta api, restoran, kafe hingga rumah sakit. Tankard juga menyampaikan bahwa hacker tersebut tidak dapat dengan mudah untuk dilacak dan mereka memiliki 1.000 cara untuk menipu setiap calon korban.

Dengan memasang virtual private network (VPN) yang disertai anti-virus. VPN bekerja mengenkripsi aktivitas di internet sehingga dapat menyulitkan hacker. Meskipun hampir sebagian besar jasa VPN tersebut berbayar, namun VPN gratis yang disediakan oleh Avira atau Sophos itupun sudah cukup untuk melancarkan aksi mereka.

Harus Ekstrahati-hati

Perihal dari penggunaan WiFi gratis yang diakses secara langsung di ruang publik, Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Ferdinandus Setu menyampaikan bahwa masyarakat di Indonesia harus tetap berhati-hati dalam memanfaatkan layanan gratis ini. Sebab,  telah muncul muncul isu pencurian data yang menggunakan medium WiFi.

Selain itu, dia juga menyarankan agar para nasabah pengguna layanan perbankan secara online tidak menggunakan jaringan wifi publik disebabkan sangat rentan di ketahui oleh para peretas.

"Para peretas bisa masuk karena wifi publik dipakai untuk mengirimkan data penting, di saat itu dapat memberikan akses kepada peretas untuk masuk," ujar Ferdinandus Setu.

Dalam kasus tindakan kejahatan pencurian data, pemerintah telah memberikan payung hukum berupa pasal 32 ayat 2 dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang mengatur soal pencurian data dengan ancaman pidana 9 tahun penjara. Menurutnya, ancaman ini seharusnya dapat mampu menghentikan orang menggunakan data orang lain untuk keperluan pribadi.

"Seharusnya orang jadi lebih berpikir sebelum berniat dan membobol data orang, apalagi sampai mencuri isi rekening korban," ujarnya.

Dia menilai perbankan juga dinilai telah berhati-hati mengantisipasi kasus kejahatan siber. Nasabah yang menjadi korban kejahatan siber di layanan perbankan dilindungi, di mana uang nasabah bisa dikembalikan apabila terbukti menjadi korban tindak kejahatan siber. Namun, ujar dia, hal ini adalah wewenang regulator yang berbeda.

"Seharusnya uang nasabah dikembalikan bank tapi ini sudah wewenang OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan BI (Bank Indonesia) sebagai regulator," ujarnya.

Demi keamanan bersama, dia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan transaksi keuangan dengan menggunakan jaringan wifi yang tidak jelas keamanannya. Beberapa bank, ujar dia, sudah mengembangkan tindak pencegahan di mana nasabah tidak bisa menggunakan mobile banking saat menggunakan wifi publik. Hal itu, sudah menjadi keharusan demi keamanan pengguna.

"Yang pasti, transaksi keuangan jangan dilakukan sembarangan," sarannya.

Direktur Teknologi Informasi dan Operasi Bank BNI Dadang Setiabudi mengatakan, pihaknya memiliki pengamanan untuk mencegah hacker yang mengincar rekening bank menggunakan WiFi publik.

Adapun untuk aplikasi yang digunakan bertransaksi melalui jaringan internet oleh nasabah, bank menerapkan enkripsi dengan menggunakan protokol https untuk akses aplikasi.

"Namun selain hal ini kami mengumumkan awareness/ pemahaman kepada nasabah, untuk tidak menggunakan wifi publik saat transaksi maupun akses aplikasi sensitif," ujar Dadang.

Selain itu, Juru bicara Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Anton Setiawan juga mengakui bahwa keberadaan wifi publik menjadi salah satu titik kerentanan dalam keamanan siber. Maka dari itu BSSN mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk selalu berhati-hati dalam menggunakan WiFi publik.

"Pada saat menggunakan WiFi publik, hindari akses masuk ke dalam akun yang bersifat penting seperti akun perbankan saat menggunakan wifi publik. Selalu gunakan wifi publik yang terpercaya, biasanya dibatasi dengan parameter password dan hindari WiFi yang bersifat open," tegasnya.

Source : Sindonews

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

M. Afffandi

Politeknik Negeri Bengkalis

Riau-Indonesia

“"Dream, Plan, Do It"”