Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Beberapa Softskill Yang Harus Dimiliki Anak Teknik

Dalam dunia kerja, sebagai anak teknik tidak hanya memiliki kemampuan yang dimilikinya namun harus diimbangi dengan softskill yang baik sehingga akan menjadi nilai tambah pada saat melamar pekerjaan nantinya.

Dari judul diatas, apa yang terlintas dikepala kalian mendengar kata softskill ? Apa yang harus selalu dilatih agar softskill terus meningkat, yuk kita simak pembahasan kali ini !

Soft skills adalah istilah sosiologis yang berkaitan dengan kecerdasan emosional, sifat kepribadian, ketrampilan sosial, komunikasi, berbahasa, kebiasaan pribadi, keramahan, dan optimisme yang mencirikan kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain.

Soft skill menyangkut karakter pribadi seseorang yang dapat meningkatkan interaksi individu, kinerja pekerjaan dan prospek karir. Tidak seperti hard skill yang berkenaan dengan kemampuan menyerap ilmu atau keahlian dan kemampuan untuk melakukan jenis tugas atau kegiatan tertentu, soft skill berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk berinteraksi secara efektif dengan sesamanya  baik di dalam dan di luar tempat kerja.

Berikut beberapa contoh softskill yang harus dilatih oleh Anak Teknik dalam menghadapi dunia kerja nantinya yaitu :

1. Kemampuan Berkomunikasi

Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain. Communication skill dalam dunia kerja adalah kemampuan untuk mengekspresikan ide pemikiran, perasaaan, keinginan, melalui komunikasi verbal atau komunikasi non-verbal untuk mendapat pengertian orang lain. Oleh sebab itu, komunikasi tergantung pada kemampuan kita untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya.

Komunikasi itu merupakan tanda kehidupan. Komunikasi dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal. Yang termasuk komunikasi verbal adalah ucapan dan yang termasuk komunikasi non-verbal adalah tonasi dan body language. Ternyata pengaruh komunikasi verbal dalam berkomunikasi hanya 7 persen, sedangkan 93 persen lainnya adalah komunikasi non-verbal.

2. Pendengar yang aktif

Pendengar aktif adalah pendengar yang mampu mengontrol diri untuk menghargai lawan bicara dengan cara memberikan respon singkat dan memberikan input terhadap respon lawan bicara setelah lawan bicara mengemukakan idenya terlebih dahulu. Sebagai contoh pada saat rekannya menyampaikan pendapat atau gagasan dia tidak mencela apa yang disampaikan temannya, memberikan respon jika diminta dan menghargai pendapat orang lain.

3. Fleksibelitas dan kemampuan beradaptasi

Beradaptasi berarti proses menyesuaikan diri. Kadang dalam prosesnya, kita bisa menjadi influence juga bisa menjadi pengikut, bisa menginspirasi atau terinspirasi.

Jika kalian tidak mampu beradaptasi dengan baik maka hal yang mungkin terjadi anda mengajukan resign dan tidak bertahan lama di perusahaan tersebut. Dengan beradaptasi, manusia bisa bertahan dengan situasi dan kondisi. Menjadi banyak tahu, menjadi rajin belajar, menjadi termotivasi karena dorongan naluri.

4. Profesionalisme

Profesional adalah orang yang memiliki profesi atau pekerjaan yang dilakukan dengan memiliki kemampuan yang tinggi dan berpegang teguh kepada nilai moral yang mengarahkan serta mendasari perbuatan. Atau definisi dari profesional adalah orang yang hidup dengan cara mempraktekan suatu keterampilan atau keahlian tertentu yang terlibat dengan suatu kegiatan menurut keahliannya. Jadi dapat disimpulkan profesional yaitu orang yang menjalankan profesi sesuai dengan keahliannya.

Seorang profesional tentunya harus mempunyai keahlian yang di dapatkan melalui suatu proses pendidikan dan disamping itu terdapat unsur semangat pengambilan dalam melaksanakan suatu kegiatan kerja. Dalam melakukan tugas profesi, seorang profesional harus dapat bertindak objektif, yang artinya bebas dari rasa sentimen, benci, malu maupun rasa malas dan enggan bertindak serta mengambil keputusan.

5. Berpikir Kritis dan mampu menyelesaikan masalah

Dalam dunia kerja pasti akan selalu dihadapi dengan masalah, baik masalah perusahaan atau pun yang lain. Maka dari itu kita dituntut untuk mampu berpikir kritis guna memberikan solusi dalam penanganan masalah tersebut.

Berpikir Kritis adalah seni menggunakan akal untuk menganalisa gagasan dan menggali lebih dalam untuk mencapai potensi sejati kita. Pemikiran kritis bukan tentang berpikir lebih jauh atau berpikir lebih keras; Ini tentang berpikir lebih baik. Namun perjalanan untuk mengembangkan keterampilan yang penting ini tidaklah sederhana. Mungkin alat kecil, seperti sticky notes, bisa membantu Anda.

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

M. Afffandi

Politeknik Negeri Bengkalis

Riau-Indonesia

“"Dream, Plan, Do It"”