Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

NASA : Meluncurkan Satelit Iklim Terbaru Dengan Teknologi Laser Super Presisi

NASA merupakan Badan Antariksa milik pemerintah Amerika Serikat yang meluncurkan satelit bernama Gravity Recovery and Climate Experiment Follow-On (GRACE-FO) mengaktifkan laser guna melakukan pemantauan untuk pertama kalinya.

Misi Gravity Recovery and Climate Experiment Follow-on (GRACE-FO) adalah bekerjasama antara NASA dan Pusat Penelitian Jerman untuk Geosains (GFZ). GRACE-FO adalah penerus misi GRACE asli, yang mulai mengorbit Bumi pada tanggal 17 Maret 2002. GRACE-FO akan melanjutkan pekerjaan yang sangat sukses dari pendahulunya saat menguji teknologi baru yang dirancang untuk secara dramatis meningkatkan ketepatan yang sudah luar biasa dari sistem pengukuran.

Selain itu, GRACE mengukur variasi gravitasi di permukaan Bumi, menghasilkan peta baru medan gravitasi setiap 30 hari. Jadi, GRACE menunjukkan bagaimana gravitasi planet berbeda tidak hanya dari satu lokasi ke lokasi lainnya, tetapi juga dari satu periode ke periode lainnya.

Diluncurkan oleh SpaceX ke orbit pada bulan Mei lalu, satelit pemantauan iklim milik NASA yang baru hampir siap untuk mengawasi lapisan es, atmosfer, dan permukaan laut planet kita. Pada tanggal 13 Juni, satelit kembar Gravity Recovery and Climate Experiment Follow-On (GRACE-FO) mengaktifkan laser guna melakukan pemantauan untuk pertama kalinya.

Dilansir Endadget, laser tersebut akan membuat satelit terhubung satu sama lain saat mengorbit Bumi. Pada gilirannya nanti data yang terkumpul akan membantu para ilmuwan untuk lebih memahami dan memantau penipisan lapisan es, naiknya permukaan laut, dan bahkan aliran magma di bawah tanah.

Pendahulu satelit tersebut (diberi nama GRACE) menggunakan teknik yang sama, tetapi satelit ini hanya dilengkapi dengan instrumen gelombang mikro. Selain dilengkapi sistem microwave, GRACE-FO juga dilengkapi dengan Laser Ranging Interferometer (LRI). Misi ini berfungsi sebagai deminstrasi teknologi LRI yang dimaksudkan untuk membuktikan bahwa teknologi tersebut mampu memberikan pengukuran yang jauh lebih akurat.

“LRI adalah terobosan untuk pengukuran jarak yang presisi di ruang angkasa. Ini adalah interferometer laser antar pesawat pertama dan puncak dari satu dekade penelitian dan pengembangan yang didanai NASA dan Jerman,” kata NASA JPL, Kirk McKenzie.

Kemampuan laser satelit harus diarahkan ke lubang seukuran koin ke satu sama lain dengan jarak 220 km saat kedua satelit mengorbit bumi dengan kecepatan 25.750 km/jam. Ini menjadikan teknologi laser tersebut jauh sangat mengesankan.

Menurut NASA, pengujian tanggal 13 membuktikan bahwa instrumen LRI berkerja seperti yang diharapkan. Teknologi ini mampu menghubungkan pada upaya pertama dan bahkan mampu mengirim data pertama mereka ke tim yang ada di darat. Para ilmuwan kini akan menghabiskan beberapa minggu hingga bulan ke depan untuk menyempurnakan instrumen laser tersebut.

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

M. Afffandi

Politeknik Negeri Bengkalis

Riau-Indonesia

“"Dream, Plan, Do It"”