Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Jangan Terlalu Membanggakan diri sebagai Anak Teknik.

Sebagai Anak Teknik, kita memang harus bangga karena kita kuliah di Fakultas yang terkenal keras, kesolidannya, kekompakannya, wajah sangar mahasiswanya, tugas-tugasnya yang kadang “tak manusiawi”, proyek-proyek lapangan yang harus dilaksanakan. Tetapi berbanggalah dengan cukup karena kita tidak hebat sendirian

Mahasiswa Teknik mungkin mahasiswa yang paling beruntung di dunia. Berkuliah di Fakultas Teknik bukanlah hal yang gampang, Iklim perkuliahan yang keras, tugas-tugas yang sulit namun harus dikerjakan dan bisa berhari-hari mengerjakannya baik kelompok maupun individu seperti tugas yang mengharuskan kita praktik di lapangan, tugas membuat alat atau mesin, tugas membuat proyek software dan website. Belum lagi tugas akhir yang mengharuskan kita turun meneliti langsung ke laboratorium atau langsung terjun ke lapangan menyelesaikan permasalahan yang ada. Membentuk sebagian kita sebagai mahasiswa teknik yang mukanya sangar, berambut gondrong, namun tekun, kreatif, mampu bekerja keras, lebih serius saat bekerja namun bisa sangat santai saat waktu senggang, kucel, kadang tidak mandi karena sibuk kerja tugas, kurang pandai merawat diri (kecuali mahasiswi Teknik), apalagi kekompakan dan kesolidan dengan kawan seangkatan telah terbentuk semenjak masa bimbingan mahasiswa baru membuat banyak orang menganggap Fakultas Teknik adalah Fakultas yang agak ditakuti selain Fakultas Ilmu Alam lainnya (walaupun Fakultas lainnya juga tidak kalah hebatnya dengan FT).

Tanpa disadari Anak Teknik atau AnTek, para Insinyur Teknik juga turut menentukan arah kemajuan bangsa, saat ini sebuah negara tidak akan maju jika teknologi yang mereka gunakan tidak “canggih”, infrastruktur mereka tidak berkembang, Listrik yang kurang “andal”, dan banyak produk para insinyur lainnya yang turut mempengaruhi arah kemajuan bangsa baik dalam segi ekonomi, hukum, sosial, lingkungan hidup dan lainnya. Apalagi Kampus Terbaik didunia adalah kampus Teknik yaitu MIT (Massachusets Institute of Technology), Salah satu kampus terbaik di Indonesia adalah kampus teknik, presiden pertama dan ketiga Negara ini adalah Insinyur Teknik yang berjiwa Nasionalis.

Dari semua fakta diatas, patutlah kita berbangga sebagai AnTek. Tetapi apakah kita harus terlalu bangga sampai menyombongkan diri dengan status kita sebagai AnTek? Sepatutnya tidak. Kita harus berbangga secara cukup dengan status kita ini namun jangan berlebihan, tapi percaya diri boleh. Masih banyak orang diluar sana yang berbeda dengan kita baik budaya, latar belakang ilmu, kepribadian, kepintaran yang lebih baik dari kita.

Beberapa waktu lalu, penulis mengikuti sebuah Kelas Saham yang diselenggarakan oleh Sebuah Perusahaan Bursa Efek. Penulis mengikuti ini bersama dengan teman penulis yang sudah menjadi sarjana Ekonomi. Nyatanya saat mengikuti kegiatan ini, penulis terpukau dengan kegiatan ini karena banyak orang pintar dibidang saham dan ekonomi, yang telah mempunyai dasar pemahaman bidang ekonomi dan investasi saham yang sangat baik, termasuk teman penulis yang sewaktu SMA dulu biasa saja namun saat seminar, sangat aktif bertanya dan sudah punya pengalaman untuk investasi saham. Penulis hanya bisa diam saja selama kelas berlangsung karena penulis menyadari penulis tidak ahli dibidang ini, penulis bercerita kepada teman penulis bahwa pnulis hanya mendapat sekilas tentang ilmu ekonomi di mata kuliah ekonomi teknik, perencanaan teknik dan manajemen proyek saja, yang bagi orang ekonomi, ilmu ini termasuk ilmu “mikroekonomi”, teman penulis setelah mengetahui itu akhirnya mau membantu bahkan bertanya, apakah saya bisa mengikuti kelas ini dengan baik atau tidak, penulis hanya bisa menjawab sedikit mengerti. Dari sinilah penulis menyadari bahwa sebagai AnTek kita tidak boleh sombing dengan status kita itu.

Berikut beberapa alasan logis yang membuat kita harus sadar bahwa sebagai AnTek, kita tidak boleh bangga secara berlebihan dengan statu kita:

1.      Sadarilah bahwa kita hanya hebat dibidang kita

Semua orang diciptakan dengan Talenta dan kemampuan yang berbeda-beda, dan bisa saja talenta itu terbentuk saat kita kuliah. Ahli ekonomi bisa menganalisa tentang ekonomi Makro dan Mikro karena mereka mempelajarinya, lulusan Hukum bisa menganalisa pasal-pasal dalam KUHP secara baik, lulusan pertanian sangat paham tentang cara menanam yang baik bahkan sampai waktu panennya padi di sawah termasuk cara memasarkan produk pertanian. Tetapi seorang lulusan Teknik belum tentu bisa berbicara soal pertanian, seorang lulusan Ekonomi belum tentu jago soal Teknik, lulusan MIPA belum tentu jago berbicara soal Teknik, Lulusan Teknik belum tentu bisa berbicara soal hukum. Bahkan Seorang lulusan teknik sipil jago dibidang mesin dan elektronika, seorang lulusan teknik mesin belum tentu jago soal kelistrikan, seorang lulusan teknik listrik jago dibidang elektronika, komputer, dan mesin, seorang lulusan teknik geologi belum tentu tahu tentang ilmu teknik pertanian atau mekanisasi pertanian dan lainnya.

2.      Ada orang yang bisa saja jago di bidang Teknik tetapi berlatar belakang pekerjaan dan ilmu yang berbeda.

Pada kasus ini bisa diambil contoh seorang teknisi di bengkel di pinggir jalan ataupun seorang tukang tambal ban, tanpa perlu sekolah di  STM dan hanya bermodal pengalaman belajar dari orang lain saja mereka bisa melakukan hal itu. Adapula yang tahu banyak tentang instalasi listrik padahal dia lulusan ekonomi, ini dikarenakan sewaktu sekolah dia mengambil STM Listrik dan kemudian kuliah di ekonomi.

3.      Sadarilah bahwa kita belum tentu akan bekerja dibidang teknik setelah lulus nanti.

Idealnya, seorang sarjana Teknik harus bekerja dibidang Teknik. Banyak kasus dimana seorang sarjana Teknik “Murni” mendapat pekerjaan dibidang marketing bank, sales officer suatu produk, akuntan, sekretaris manager, administrator di sebuah perusahaan, satpam, sopir, manajer keuangan, guru fisika di SMA, guru STM dll. Sebenarnya kuliah hanya membentuk pemahaman dasar kita saat bekerja nantinya, termasuk keterampilan kita dibidang teknik hanya sebagian dibandingkan orang-orang yang telah bekerja dibidang teknik. Pada saat kerja nantinya kita harus belajar lagi, mengembangkan diri lagi apalagi jika pekerjaan kita berbeda dengan gelar sarjana kita, mau tidak mau kita harus belajar ekstra keras demi pengembangan karir kita kedepannya. Misalnya seorang sarjana Teknik menjadi pengusaha kontraktor, sebenarnya dasarnya sudah kita dapatkan di matakuliah ekonomi teknik dan kewirausahaan. Banyak kasus juga tokoh terkenala Indonesia yang sukses keluar jalur dari gelar sarjananya, seperti Cak Lontong yang adalah pelawak namun bergelar sarjana teknik elektro, Rizal Ramli yang sangat kritis trhadap perekonomian negara padahal lulusan Teknik Industri, Johan Budi Sapto Prabowo (Mantan Juru Bicara KPK), Nicholas Saputra dan Tulus yang adalah seorang arsitek, Basuki Tjahaja Purnama “Ahok” yang adalah lulusan Teknik Geologi namun pernah menjadi seorang Bupati Bangka Belitung, Anggota DPR, Gubernur DKI Jakarta, sekarang menjadi Komisaris Utama Pertamina.

4.      Hidup untuk belajar, belajar untuk hidup.

Selama hidup kita akan terus belajar, belajar untuk tetap mepetahankan diri dan mengembangkan diri. Media pembelajaran bukan hanya dari buku, tetapi juga dari pengalaman diri sendiri, pengalaman orang lain, melihat kerja orang lain.

Pada akhirnya jangan menyombongkan diri dan berbangga berlebihan dengan status AnTek, tetapi jadikan ilmu pengetahuan yang kita miliki untuk meng-edukasi- orang lain, membantu orang lain, serta jangan menghakimi orang lain hanya karena mereka tidak lebih jago dengan kita, hanya karena dia tidak mengerti penjelasan kita ketika meminta saran kita mengenai masalah mereka yang sesuai dengan bidang kita, kita perlu menjelaskan kepada mereka dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dimengerti oleh mereka. Karena kita semua berbeda, dan mempunyai keahlian yang berbeda-beda.

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Dhanang H. L. Rohi

Universitas Nusa Cendana

Kupang NTT

“In God I Trust, and keep Moving Forward”