Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Karbon Dioksida, Unsur Kimiawi Pemegang Peran Penting Dalam Perubahan Iklim

Perubahan Iklim adalah sesuatu yang saat ini sudah tidak dapat kita hindari, penggunaan teknologi, pemanfaatan energi dan banyak aktifitas lainnya menghasilkan karbon dioksida, dan perlu diketahui bahwa Karbon dioksida memegang peranan penting dalam perubahan iklim akhir-akhir ini di dunia kita ini

Akhir-akhir ini, umat manusia membutuhkan suplai eenergi yang berasal dari minyak fosil. Setiap tahunnya pembangkit-pembangkit listrik dan kendaraan dalam planet kita membutuhkan biomasa fosil yang membutuhkan waktu ribuan tahun lebih untuk menjadi minyak bumi.

Setiap tahun, dihasilkan 24 miliar ton dari karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer diseluruh dunia. Hampir 80% besarnya bersumber dari akticitas manusia seperti pembakaran minyak mineral, gas alam dan batu bara. Karbon dioksida alami yang terdapat di atmosfer bumi sebenarnya rendah komposisinya namun pada akhirnya terus naik jumlahnya.

photos from researchgate

keterangan: meningkatnya kadar dioksida di atmosfer sejak tahun 1765

Pembakaran yang menggunakan sumber fosil seperti minyak mineral dan batu bara sudah dilaksanakan dalam 100 tahun terakhir telah meningkatkan tingkat karbon dioksida di atmiosfer bumi mencapai 27%. Semenjak tahun 1765, kandungan CO2 di atmosfer berkisar 280 ppm(parts per million), saat ini berkisar  ppm (lihat data sekarang). Para pakar berpendapat bahwa hal inilah yang menjadikunci dari peningkatan efek rumah kaca atau greenhouse effect secara global.

Efek rumah kaca mepengaruhi perkembangan iklim dalam jangka panjang yang akan meningkatkan temperatur secara tahunan di atmosfer bumi. Sama baiknya dengan karbon dioksida, berbagai gas yang dianggap berbahaya berkontribusi bagi pemanasan global.

Berikut beberapa gas yang relevan dengan efek rumah kaca:

-          Karbon dioksida (CO2)

-          Water Vapour (H2O)

-          Ozone (O3)

-          Metana (CH3)

-          Dinitrogen oxida (Nitrous Oxide) (N2O)

Peningkatan gas-gas di atmosfer bumi diakibatkan dari efek antropogenik seperti:

-          Pengrusakan hutan (15%)

-          Penggunakan bahan bakar fosil(50%)

-          Emisi dari produksi dan pengaplikasian dari rekasi kimia (20%)

-          Emisi dari peternakan (15%)

Rata-rata, 342 W/m2 (Watts per square meter) dari gelombang pendek radiasi surya mencapai bumi. Dari sini, sekitar 77 W/m2 berefleksi balik menuju atmosfer, aerosol dan awan. Atmosfer bumi menyerap hampir 67 W/m2 dri radiasi surya.

keterangan : proses efek rumah kaca dihasilkan

Karenanya 198 W/m2 dari datangnya radiasi surya mencapai lautan dan daratan. Permukaan bumi menyerap hampir 168 W/m2 dan berefleksi sekitar 30 W/m2 balik tegak lurus ke atmosfer. Spektrum radio dari gelombang pendek (Short-wave) menuju radiasi gelombang panjang (long-wave).

Ukuran sinar panas gelombang panjang ridak semudah kemampuan penetrasi atmosfer bumi sebagai sinar panjang gelombang pendek matahari. Mereka berefleksi balik kembali ke permukaan bumi oleh atmosfer emperkaya karbon dioksida dan uap air, sebagai efek rumah kaca. Permukaan bumi memberikan sekitar 390 W/m2 dari gelombang panjang radiasi panas, dimana hanya 66 W/m2 tetap bertahan di atmosfer. 324 W/m2 direfleksikan kembali menuju permukaan bumi.

Sejak awal abad 19, terjadi peningkatan temperatur rata-rata bumi mencapai 0,5o C. Berdasarkan estimasi dari pakar iklim, dalam beberapa abad kedepan, peningkatan panas akan mencapai antara 1,4oC dan 5,60C.

Seketika temperatur ini menggambarkan seberapa kecil manusia di jalanan. Dampak pemanasan global pada skalanya akan menjadi katastropik untuk beberapa negara. Peningkatan temperatur rata-rata tahunan menandakan susutnya area es di bumi. Konsekuensinya peningkatan temperatur bumi, peningkatan level air laut antara 11 sampai 88cm, mengancam pengurangan daerah pantai dimana 50% populasi manusia tinggal.

keterangan : badai yang terekam satelit NASA

Beberapa antisipasi perubahan sudah mulai terlihat. Daerah kutub es di Arktik berkurang 10-14% selama 35 tahun belakangan. Seketika dari ini kita harus mengucapkan “welcome” bagi sebuah pengembangan, yang akan menghasilkan perubahan. Peningkatan temperatur juga menghasilkan berbagai fenomena cuaca ekstrem seperti petir dan badai, termasuk akhir-akhir ini gelombang panas di berbagai tempat termasuk di awal tahun 2020 di Australia yang selain karena kebakaran hutan besar-besaran di Australia. Kerugian yang diakibatkan poleh badai topan juga meningkat sejak 1950-an. Pada tahun 1990-an, kerugian akibat badai Topan di Amerika mencapai angka US$ 40 Juta per tahun.

Sumber gambar utama:  Photo by Markus Spiske on Unsplash

Referensi gambar dan artikel dari buku “Planning and Installing Bioenergy Systems, A Guide for Installers, Architects and Engineers” oleh The German Solar Energy Society (DGS), Ecofys dan diterbitkan oleh James & James (Science Publishers) Ltd di Inggris dan Amerika tahun 2005.

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Dhanang H. L. Rohi

Universitas Nusa Cendana

Kupang NTT

“In God I Trust, and keep Moving Forward”