Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

6 Arsitek Asal Indonesia Dengan Karya Yang Menakjubkan

Hasil tangan-tangan mereka membuat dunia arsitektur Indonesia nggak bisa dipandang sebelah mata. Intinya mau berinovasi dan selalu melihat sesuatu yang baru. Karena aristek nggak sekedar mendesain bangungan semata.

Arsitek merupakan pekerjaan yang berkecimpung dalam perancangan desain sebuah gedung, rumah atau tempat umum lainnya. Menurut Royal Architectural Institute of Canada, arsitek adalah seorang profesional yang memiliki kapasitas untuk merancang dan memberi saran baik secara estetika maupun teknis, pada objek yang dibangun di ranah pribadi dan umum.

Tugas arsitek ialah penasihat, mengambil peran holistik, memadukan persyaratan dan disiplin dalam proses kreatif, melayani kepentingan publik tanpa mengabaikan amsalah kesehatan dan keselamatan.

Baca : Apasih Bedanya Teknik Sipil Sama Teknik Arsitektur? Padahal Sama-Sama Ngurusin Bangunan.

Indonesia sendiri memiliki arsitek dengan karya yang masih bisa dinikmati sampai sekarang. Baik berupa fasilitas publik atau komersil. Bahkan diantaranya sudah menggemparkan dunia.

Berikut ini 6 arsitek asal Indonesia yang memiliki karya yang menakjubkan.

1. Ridwan Kamil

instagram.com/ridwankamil

Ridwan Kamil adalah salah satu arsitek terbaik yang dimiliki Indonesia. Alumnus Institut Teknologi Bandung memiliki berbagai rancangan yang bisa dinikmati publik. Diantaranya adalah Museum Tsunami Aceh,  Bandung Creative Park Project dan  Rumah Gempa Padang.

Selepas kuliah dari Amerika, Kang Emil, mendirikan perusahaan arsitektur bernama Urbane. Berdiri sejak tahun 2004, Urbane sudah mengerjakan proyek dari pemerintah hingga swasta diberbagai bidang. Hingga pada tahun 2013, Kang Emil putar setir menjadi Walikota Bandung periode 2013-2018.

Kang Emil sampai sekarang masih menekuni bidang arsitektur, hanya sekarang pekerjaannya jadi lebih banyak. Hal ini dikarenakan sejak 5 September 2018, Kang Emil menduduki jabatan Gubernur Jawa Barat.

2. Fredich Silaban

travel.kompas.com

Fredich Silaban merupakan arsitek yang berkarier saat awal Indonesia merdeka. Ia mendapatkan pendidikan arsitektur ketika studi di Aacademie voor Bouwkunst di Amsterdam. Pria asal Tapanuli, Sumatera Utara merupakan anak seorang pendeta.

Rancangan karyanya masih bisa dinikmati sampai sekarang, tengok saja Gedung Bank Indonesia, Gedung BNI, Departemen Kejaksaan, Monumen Pembebasan Irian Barat, dan Markas Besar Angkatan Udara. Tapi yang membuat namanya semakin dikenal ketika rancangan maket Masjid Istiqal yang dibuatnya lolos pada sayambara yang dibuat Bung Karno di tahun 1955.

Selama pengerjaan Masjid Istiqal, Fredich sangat memperhatikan kualitas bahan bangungan dan interior. Hal ini dibuktikan dalam suratnya kepada  Menteri Sekretaris Negara pada 1977.

"Sebagaimana telah berkali kali saya kemukakan, bahwa plaat2 untuk lantai Masjid Istiqlal kurang bijaksana, karena plaat2 marmer sebagai lantai Masjid yang besar dan yang akan dikunjungi oleh ribuan manusia, dalam waktu 10 tahun akan sudah mulai aus dan rusak. Sehingga jauh daripada seimbang dengan kekokohan Gedung Masjid Istiqlal secara keseluruhan," tulis Friedrich

3. Y.B Mangunwijaya

pundi.or.id

Terlahir dengan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, arsitek yang sering disapa Romo Mangun lahir di Ambadawa, 6 Mei 1929. Romo Mangun belajar arsitektur di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1959, melanjutkan lagi di  Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman dari tahun 1960 sampai 1966.

Romo Mangun mendapat julukan bapak arsitektur modern Indonesia. Ini karena beliau  mendapat penghargaan Aga Khan bidang arsitektur pada tahun 1992. Kampung Kali Code di Yogyakarta adalah karya yang mengantarkan beliau meraih penghargaan tersebut. Hingga akhir hayatnya pada tanggal 10 Februari 1999, Kampung Kali Code masih berdiri dan dinikmati warga sekitaran Kali Code.

4. Achmad Noeman

penayasin.com

Arsitek yang satu ini bisa dibilang spesialis masjid, karena beliau banyak mendesain masjid di Indonesia dan dunia. Sejak kecil ia tertarik arsitektur lantaran orang tuanya membangun infrastruktur pendidikan di pemukinan Muhamadiyah Garut. Beliau juga salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia (IAI)

Perjalanannya untuk belajar arsitektur penuh liku, waktu itu Universitas Bandung (sekarang ITB) belum ada jurusan arsitektur, sehingga ia memilih kuliah teknik sipil pada tahun 1948. Beliau pernah meninggalkan kuliah sipil dan masuk militer sampai tahun 1953. Hingga ITB membuka jurusan arsitektur, ia keluar dari militer dan kuliah lagi di sana.

Salah satu karyanya yang terkenal dikalangan civitas ITB adalah Masjid Salman. Ide ini sempat mendapat pantangan dari Kosasih, rektor ITB saat itu. Tetapi beliau nggak menyerah, lewat mahasiswanya yang punya keluarga tentara, impian beliau berhasil diwujudkan. Pembangunan masjid dari tahun 1964 dan diresmikan di tahun 1974.

Uniknya dari Masjid Salman adalah atapnya tidak ada kubah. Beliau berpendapat karena dalam Al- Quran tidak diwajibkan untuk memasang kubah pada masjid. Sedangkan alasan teknisnya adalah bobot kubah yang tinggi dan harus ditompang oleh tiang. Takutnya tiang-tiang tadi mengganggu pandangan jamaah ke khatib dan  menghalangi shaf.

5. Soejodi Wirjoatmodjo

virtualarsitek.wordpress.com

Mungkin banyak orang yang tidak mengenal beliau, tapi mengenal gedung DPR-MPR. Beliau ini adalah orang yang mengarsiteki gedung tersebut.

Soejoedi Wirjoatmodjo menyelesaikan studi arsitekturnya di Institut Teknologi Bandung. Setelah itu, ia melanjutkan studi ke eropa karena mendapat beasiswa dari pemerintah Prancis. Karena alasan politik, Soejodi terpaksa pindah kuliah di Jerman. Disana ia mendapat gelar  Master Dipl. Ing dari Technische Universitat, Berlin Barat dengan predikat cumlaude.

Beliau juga menjadi penggagas dibukanya sekolah aristektur di  Jakarta (Universitas Indonesia), Yogyakarta (Universitas Gajah Mada), Semarang (Universitas Diponegoro), Surabaya (Institut Teknologi Surabaya), dan Makassar (Universitas Hassanudin).

6. Daliana Suryawinata

idntimes.com

Daliana Suryawinata adalah arsitek wanita Indonesia yang fokus di urban planner. Menempuh pendidikan S1 di Universitas Tarumanegara dan melanjutkan S2 di  Berlage Insititue, Belanda. Jalannya menjadi arsitek bermula ibunya menyarankan untuk kuliah arsitektur karena lowongannya bisa kemana saja.

Selama di Belanda, ia bekerja sebagai konsultan dan perancang di Office for Metropolitan Authorities (OMA), MVRDV, dan USH. Semasa berkarier, ia menyadari kalau arsitek nggak melulu merancang bangungan, tapi harus berdampak untuk masyarakat.

Bersama suaminya, ia mendirikan perusahaan arsitektur bernama  SHAU. Nggak tanggung-tanggung kantor ini memiliki 3 cabang yaitu  Rotterdam-Belanda, Munich-Jerman, dan Bandung-Indonesia.

Salah satu ide besarnya untuk Indonesia adalah Proyek Superkampung 2045 di Jakarta. Tujuan dari proyek tersebut adalah memaksimalkan potensi kampung serta meningkatkan taraf ekomoni warganya.

Mereka semua membuktikan bahwa arsitek asal Indonesia nggak jelek-jelek amat. Intinya adalah bagaimana mau belajar dan terus berinovasi.

Sumber : tirto.id | raic.org | travel.kompas.com | arsitektur.asia | rumah.com | kebudayaan.kemdikbud.go.id | economy.okezone.com | idntimes.com

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Ishak Okta Sagita

Universitas Sanata Dharma

“”