Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

7 Alasan Mengapa Indonesia Krisis Programmer Walau Banyak Lulusan Informatika

Padahal Indonesia punya perusahaan unicorn tapi kompetensi orang IT masih banyak yang jauh dari kebutuhan. Padahal lulusannya paling banyak lho dari semua teknik.

Indonesia diprediksi menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar pada tahun 2025. Sayangnya pasokan SDM lulusan teknik informatika belum mencukupi kebutuhan industri, Walau lulusan sarjana dan vokasi banyak, namun yang memiliki kompetensi hanya sedikit.

Hal ini juga diakui oleh Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika yang dilansir dari CNN.

"Kita ini kekurangan pasokan SDM, engineer. Lihat yang besar seperti Gojek dan Tokopedia mereka harus lari kemana," ujar Rudiantara.

Padahal menurut data Kemenristekdikti, lulusan teknik informatika pada tahun 2016 sebesar  41.023 orang. Tetapi hanya sedikit yang kerjanya sebagai programmer.

Belum lagi perkembangan industri yang melaju pesat nggak diimbangi dengan kompetensi pendidikan dari perguruan tinggi. Inilah yang menyulitkan lulusan IT untuk memiliki kompetensi yang dibutuhkan lapangan.

Padahal kita ada Gojek, Tokopedia dan Bukalapak yang perusahan digital terbesar di Indonesia. Lalu apa sajakah faktor yang membuat Indonesia sampai sekarang krisis programmer.

1. Kebanyakan programmer kerjanya duduk depan komputer setiap hari

Jika ingin menjadi programmer maka seseorang harus mau duduk depan komputer sepanjang hari, baik itu membuat atau mengawasi program. Terkadang jam kerja seorang programmer bisa lebih dari jam kantor.

Memang nggak semua orang mau duduk seharian depan komputer disaat teman-temannya bersenang-senang. Tetapi itulah resiko yang harus diambil ketika mau kerja sebagai programmer.

2. Belajar pemrograman bayak berkutat dengan logika, bukan hafalan

Kesalahan besar apabila menganggap membuat program adalah hafalan. Sebaliknya, membuat program itu didasari oleh pemahaman logika. Indonesia sendiri masih menganut sistem pendidikan hafalan, bukan berlogika. Alhasil ketika mempelajari bahasa pemrograman, banyak dari kita yang tersendat.

3. Menjadi programmer harus sabar dan teliti

Sabar dan teliti adalah keahlian yang harus dimiliki oleh calon programmer. Karena tugas kita adalah membuat program dan banyak kode yang harus dimasukan. Apabila kurang satu karakter saja, program nggak bisa jalan.

Karena biar bagaimana pun, kita berhadapan dengan komputer. Komputer hanya bisa beroperasi jika manusia memasukan program yang dibutuhkan.

4. Bahasa pemrograman berkembang, pelakunya nggak

Ini merupakan salah satu kesulitan terbesar mahasiswa informatika. Meraka harus selalu belajar pemrograman. Dikarenakan tren pemrograman selalu berkembang dair tahun ke tahun.

Jadi perkuliahan selama 3-4 tahun belum mencukupi kebutuhan yang ada. Seorang programmer harus selalu belajar pemrograman, bisa saja 4 tahun perkuliahan itu baru menguasai satu bahasa pemrograman. Sedangkan industri butuhnya lebih dari satu.

5. Pemrograman erat kaitannya dengan matematika

Nggak mau belajar matematika? maka tempatmu bukan di teknik informatika. Walau sebenarnya matematika selalu ada di semua jurusna kuliah, termasuk bahasa dan kesenian.

Hal ini dikarenaan membuat program erat kaitannya dengan matematika. Persamaan pada matematika sangat membantu proses berlogika seorang programmer. Karena programmer bertugas untuk memudahkan pekerjaan manusia, jadi pembuatan program harus efektif.

6. Malas belajar bahasa inggris

Sebenarnya semua buku acuan teknik mayoritas memakai bahasa inggris, termasuk bahasa pemrograman. Sangat disayangkan jika seorang programmer bahasa inggrisnya lemah.

Bayangkan jika seorang programmer nggak bisa bahasa inggris. Jika mereka nggak ngerti bahasa inggris, gimana mau belajar coding. Kalo nggak ngerti coding, gimana mau ngajarin orang lain.

7. Kurangnya influencer yang membahas coding

Jaman sekarang sosok influencer dapat menebar inspirasi untuk banyak orang karena punya banyak pengikut. Untuk bisa mempengaruhi seseorang belajar coding nggak bisa disamakan dengan lainnya. Programmer selalu ada dibalik layar dan jarang mendapat sorotan.

Hal ini juga yang membuat pekerjaan dosen dan pengajar informatika semakin berat. Selain harus mengikuti tren coding, mereka harus menanamkan mahasiswanya untuk selalu haus ilmu coding.

Ini kode keras buat mahasiswa informatika biar selalu update dan punya kompetensi agar Indonesia nggak ketinggalan dengan negara lain.

Sumber : makinrajin.com | tekno.kompas.com

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Ishak Okta Sagita

Universitas Sanata Dharma

“”