Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

9 Hal Tentang Anak Teknik yang (Masih) Bikin Banyak Orang Gagal Paham

Jadi orang teknik memiliki perbedaaan daripada orang pada umumnya. Sayangnya masih banyak yang gagal paham tentang kehidupan orang teknik.

Siapapun kalian yang pernah/ sedang kuliah teknik atau menjadi professional pasti mendapatkan berbagai stereotype yang berkembang di lingkup sosial. Stereotype bisa berarti positif namun bisa berarti negatif, tergantung bagaimana orang mempersepsikannya.

Secara nggak langsung, stereotype tersebut dapat menganggu para pelaku sendiri. Hal ini dikarenakan masyarakat awam memandang anak teknik mengerti segalanya dan serba bisa. Atau berbagai spekulasi asal-asalan yang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Alhasil banyak orang mengalami gejala gagal paham.

Lalu apa saja hal-hal dari anak teknik yang sampai sekarang masih membuat orang awam gagal paham?

1. Anak teknik itu anti sosial

pexels.com/@rebcenter-moscow-179322

Orang awam masih banyak yang mempercayai kalau anak teknik itu anti sosial. Memang sih kerjaan bidang teknik nggak bersinggungan dengan banyak orang dan lebih banyak melakukan perancangan. Walau begitu, bukan berarti mereka anti sosial dong.

Apapun keperluannya, orang teknik akan berhadapan dengan berbagai macam orang dari berbagai profesi dan latar belakang. Tetapi memang butuh penyesuaikan lebih lama karena di kesehariannya terbiasa berbicara secara teknis. Memang harus sabar untuk bisa ngobrol sama orang teknik.

2. Anak teknik lingkupnya cuma itu-itu aja

pexels.com/@startup-stock-photos

Memang ada sebagian orang teknik yang lingkupnya sempit, tetapi bukan berarti bisa dipukul rata. Karena ada kok orang teknik yang suka bergaul, ikut komunitas bahkan jadi anak organisasi. Semua itu kembali pada tiap individu masing-masing.

Jika bicara lingkungan kerja, orang awam taunya lulusan teknik kerjanya di area pertambangan, migas atau lapangan. Intinya bukan dalam kantor seperti pekerjaan lainnya.

Padahal banyak kok lowongan khusus lulusan teknik yang kerjanya di dalam kantor. Ada juga orang lapangan sering pindah-pindah tempat karena urusan kerjaan. Jadi salah kalau lingkupnya orang teknik cuma situ-situ aja.

3. Anak teknik kerjaannya cuma gitu-gitu aja

pexels.com/@alexander-dummer-37646

Orang manapun kalau mengerjakan sesuatu yang itu-itu aja pasti bosan. Kebosanan itu wajar dan dialami setiap orang. Tetapi kalau masih percaya kerjaan orang teknik membosankan, apakah kerjaan lain nggak ada yang membosankan? Apa jaminannya?

Padahal bosan atau tidak itu relatif. Namun bidang teknik selalu menawarkan sesuatu yang baru setiap tahunnya. Atau kalau masih kurang dapat yang greget, pindahlah ke industri yang belum pernah dicoba sebelumnya. DIsana pasti dapat sesuatu yang berbeda.

4. Perempuan nggak cocok jadi anak teknik

openaccessgovernment.org

Kita akui bersama kalau anak teknik kebanyakan adalah kaum laki-laki tetapi bukan berarti perempuan dilarang masuk dong. Teknik nggak mengenal gender, jadi siapapun bisa masuk. Dan banyak kok perempuan lulusan teknik yang berhasil di bidangnya.

Sebagai contoh, Indonesia punya Arvilla Delitriana dan Silvia Halim. Arvilla Delitriana adalah perempuan dan otak dibalik jembatan lengkung LRT. Sedangkan Silvia Halim adalah sutradara konstruksi MRT Jakarta.

Untuk insinyur dari luar negeri ada Sarah Guppy, pembuat tiang pancang untuk jembatan. Selain itu ada lagi sosok bernama  Edith Clarke. Ia adalah penemu kalkulator grafis yang mampu menyelesaikan persamaan garis 10 kali lebih cepat dari pendahulunya. Dan masih banyak lagi.

5. Anak teknik bisa memperbaiki barang apa saja

pexels.com/@maltelu

Stereotype ini selalu terjadi oleh seluruh anak teknik dimanapun mereka berada. Hanya karena ambil kuliah teknik bukan berarti bisa melakukan apa saja? Sebagai contoh, motor rusak langsung lari ke anak mesin, laptop rusak langsung menuju anak informatika dan lampu konslet langsung tancap gas ke anak elektro.

Kenyataannya adalah nggak semua orang teknik ngerti tentang reparasi barang elektronik. Karena orang yang bisa ngelakuin reparasi adalah mereka yang paham teknis sebuah benda, umumnya mereka adalah teknisi.

Sedangkan insinyur adalah mereka yang merancang barang dari perencanaan sampai tahap produksi. Jarang sekali insinyur memiliki kemampuan teknis macam teknisi.

Maka dari itu, orang teknik terdiri dari dua jenis yaitu insinyur dan teknisi. Teknisi lebih ke arah penyelesaian praktis. Sedangkan insinyur adalah perancang. Jadi jangan sembarangan minta anak mesin benerin motor, anak eleltro benerin lampu dan anak informatika benerin laptop.

6. Anak teknik nggak memiliki jiwa seni dan kreativitas

dw.com

Orang teknik sering digambarkan sosok yang kaku, kuper dan selalu berkutat dengan hal-hal bersifat teknis dan duduk di depan komputer berjam-jam. Apa yang kamu lihat itu hanya ada di film. Realitanya nggak ada yang seperti itu. Justru orang teknik memiliki sisi kreativitas yang nggak kalah "gila".

Jika kamu nggak percaya, perhatikan perubahan smartphone, laptop dan barang-barang yang ada disekitarmu. Ada satu kesamaan dari barang-barang tersebut yaitu mengalami perubahan signifikan mulai dari desain, fungsi hingga fleksibilitas. Semua hal itu berawal dari pemikiran seorang insinyur.

Bahkan produk yang terkesan nggak masuk akal dan aneh juga merupakan bentuk dari kreativitas seorang perancang (insinyur). JIka nggak ada orang teknik maka peradaban nggak mengalami perkembangan seperti sekarang ini.

7. Anak teknik hanya mau kerja di bidang teknik

thejakartapost.com

Kenyataannya anak teknik nggak selalu berkerja sesuai bidangnya kok. Banyak kok yang nyasar dari bidang yang digeluti selama kuliah. Hal ini udah umum kita lihat dalam berbagai profesi. Semisal lulusan teknik kerja di bank, kementerian, politisi, musisi hingga sutradara film.

Untuk beberapa perusahaan justru membuka peluang lulusan teknik untuk mengisi posisi jabatan lulusan non teknik. Tentu bukan tanpa alasan mereka butuh lulusan teknik. Orang perusahaan menganggap lulusan teknik memiliki ketrampilan berfikir logis, pemecahan masalah dan kemampuan kalkulasi baik manual atau dengan software.

8. Anak teknik baru mulai kerja usia masuk kepala tiga

bridgemastersinc.com

Memang ada berbagai lowongan kerja yang melonggarkan batasan usia untuk bidang engineering. Sangat berbeda dengan perusahaan pada umumnya yang memiliki batasan usia lebih pendek. Namun bukan berarti orang teknik harus nunggu umur 30 baru mulai kerja.

Kenyatannya nggak seperti itu kok. Buktinya ada perguruan tinggi membuka kelas karyawan bagi lulusan teknik agar mereka bisa kuliah sambil kerja. Atau kuliah online dan program profesi insinyur. Sehingga mereka memiliki pilihan yang variatif.

9. Anak teknik juga manusia biasa, sama seperti manusia lainnya

movieweb.com

Walau orang teknik memiliki perbedaan yang mencolok, tetapi kami tetaplah manusia biasa sama seperti warga sipil lainnya. Hidup orang teknik nggak melulu tentang hal-hal logis dan engineering. Ada masanya kita memiliki kehidupan diluar identitas teknik.

Sisi lain itulah yang membuat kehidupan anak teknik lebih beragam dan berwarna. Jadi hidup mereka nggak monokron. Aplalagi kalau punya pacar pasti ngebucin adalah hal yang nggak bisa dilewatkan.

Sumber : eduadvisor.my | newengineer.com

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Ishak Okta Sagita

Universitas Sanata Dharma

“”