Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Apakah Bisa Salju Menjadi Energi Terbarukan Selain Air, Angin dan Matahari?

Bicara energi terbarukan, orang lansung nyantol sama air, angin dan matahari. Tetapi ada penelitian yang menemukan bahwa salju dapat menjadi energi alternatif di masa depan. Lalu bagaimana caranya?

Ketika bicara tentang energi ramah lingkungan maka yang banyak terpintas di kepala adalah air, angin dan matahari. Sekarang ini orang, perusahaan dan lembaga berlomba-lomba membuat sumber energi terbarukan yang dapat dikomersilkan secara massal.

Walau banyak sumber energi terbarukan, tetap saja masih banyak kendala dalam pengaplikasian. Tenaga air dan angin hanya bisa dipakai di daerah tertentu, sedangkan matahari, banyak dipakai tetapi biaya operasionalnya mahal.

Inilah yang membuat peneliti dari University of California, Los Angeles (UCLA) membuat ekspirem dengan menggunakan salju. Apalagi mengingat negara-negara seperti sub tropis memiliki empai musim, di antaranya adalah musim dingin.

Dua ilmuwan UCLA telah menemukan alat yang memakai silikon untuk menangkap muatan listrik dari salju dan menghasilkan listrik. Alat yang mereka buat sangat sederhana, kecil, tipis dan fleksibel dan nggak perlu baterai karena dapat menghasilkan daya sendiri.

1. Penemuan dari UCLA diberi nama snow TENG

Tim dari UCLA telah mengembangkan sebuah alat yang diberi nama "snow-based triboelectric nanogenerator", atau disingkat menjadi snow TENG.

Cara kerja alat ini adalah dengan menghasilkan daya dari saju yang berjatuhan. Karena salju bermuatan positif, maka para peneliti membuat snow TENG dari bahan yang mengandung muatan negatif, sehingga menghasilkan listrik statis ketika bersentuhan dengan salju.

"Sementara salju suka melapas elektron, performa alat ini tergantung efisiensi bahan lain dalam mengekstrasi elektron" kata peneliti UCLA Maher El-Kady

2. Snow TENG bekerja dengan prinsip efek triboelektrik dan bahan utamanya adalah silikon

Maher El-Kady bersama Richard Kaner menjelaskan prinsip kerja snow TENG memakai efek troboleketrik. "Ketika menggerakan kaki ke karpet maka muatan akan dipindahkan dari karpet ke tubuh kita". Sekarang, jika kita menyentuk kenop pintu dari logam, muatan pada tubuh ditransfer ke kenop, dan kita mendapatkan sengatan listrik. Mekanisme inilah yang dapat menghasilkan listrik.

Salju menimbun muatan di permukaannya karena molekul air mengatur dirinya ketika mengkristal menjadi kepingan salju, kata El-Kady

"Kami mikir, mengapa nggak membawa bahan lain dengan muatan berlawanan untuk mengekstrasi elektron ini untuk menghasilkan listrik menggunakan konsep generator triboelektrik?' setelah nyoba bahan yang udah nggak kehitung banyaknya, akhirnya kami menemukan bahwa silikon menghasilkan lebih banyak muatan daripada bahan lainnya."

Untuk membuat alatnya, mereka meletakan lapisan karet silokon dan lapisan plastik konduktif lainnya untuk mengumpulkan kontak setelah dengan partikel salju. Silikon tahan air dan "kami percaya bahwa bahan ini dapat dicat ke bangunan untuk menghasilkan listrik, dan juga memberi perlindungan terhadap air dan kelembaban" katanya.

3. Ketika dilekatkan dengan pakaian, dapat berfungsi sebagai charger

Uniknya dari alat ini adalah ketika dipasang pada pakaian maka dapat berfungsi sebagai charger perangkat elektronik, tapi juga bisa jadi platform pelacak, katanya

"Sama seperti jam pintar, perangkat ini dapat mengetahui apakah pemakainya sedang jalan, lari atau lompat" sambungnya

"Ini juga berpotensi mengidentifikasi pola penggerak utama yang digunakan dalam ski lintas-alam, yang nggak bisa dideteksi dengan jam pintar. Ini juga bisa dipasang pada sepeda untuk mengumpulkan energi gesekan yang nggak digunakan, seperti dari menggulung ban di atas salju."

Namun mereka memperkirakan bahwa salah satu aplikasi terpentingnya adalah penggunaan seperti pada stasiun cuaca mini yang dapat memonitor salju secara real time, menyediakan data laju salju, akumulasi, arah angin dan kecepatan.

"Setiap kali salju menyentun permukaan perangkat, ia menghasilkan listrik, sehingga dapat memperoleh sinyal tegangan dan arus" kata El-Kady. Dalam percobaan, mereka memperhatikan bahwa bentuk sinyal listrik tergantung pada sudut jatuhnya salju. Jika salju jatuh pada hari berangin, maka bisa memberi tahu kecepatan dan arah angin.

"Jadi, secara teknis, kami membuat stasiun cuaca, tetapi stasiun yang swadaya," tambahnya. "Tidak seperti stasiun cuaca konvensional yang berukuran besar dan sering mengandalkan baterai untuk daya, perangkat kami dapat bekerja tanpa batas."

Sumber : popsci.com | techspot.com | newsroom.ucla.edu | sciencedirect.com

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Ishak Okta Sagita

Universitas Sanata Dharma

“”