Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Artificial Intelligence Masuk ke Ranah Hukum, Apakah Pengacara Akan Tergantikan Oleh Komputer?

Perkembangan teknologi yang pesat mulai merambah ke bidang hukum. Kali ini mereka memposisikan diri sebagai pengacara. Apakah profesi pengacara akan tergantikan oleh kecerdasan buatan?

Sebuah studi di Amerika Serikat sangat mengejutkan bagi pengacara. Pasalnya 20 pengacara spesialisasi bisnis kalah dengan LawGeex AI. Para pengacara ditantang untuk menyelesaikan kasus permasalahan lima perjanjian Non-Disclosure (NDAs), yang mana merupakan dasar kontrak kesepakatan bisnis.

Hasil studi tersebut menunjukan LawGeex AI memiliki tingkat akurasi 94% dibandingkan para pengacara tingkat akurasinya 85%. LawGeex AI menyelesaikan kasus dalam waktu 26 detik, sedangkan pengacara membutuhkan waktu rata-rata 92 menit untuk kasus yang sama. Ironisnya mereka adalah pengacara korporat terlatih yang berpengalaman di firma hukum global.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa dan bagaimana komputer bisa bersikap serta berpikir layaknya pengacara berpengalaman?

1. AI menganalisa fakta berdasarkan statistik kalimat

AI menggunakan model untuk memproses bahasa alami yang juga berada dalam lingkup deep learning. Model tersebut memproses bahasa asli, dari situ kita bisa mendapatkan jutaan data yang dimuat ke komputer berdasarkan kelas. Dalam proses ini, sistem mempelajari hubungan antar kata dari semua dokumen dan memprediksi kata-kata yang muncul dengan probabilitas tertinggi.

AI bisa memprediksi bahwa sebuah fakta karena kata-kata tersebut melakukan analisa berdasarkan status statistsik dalam kalimat. Ini memungkinkan untuk meringkas atau mengklarifikasi panjang paragraf, termasuk informasi ruang-waktu dalam satu kalimat

2. AI membentuk 'jaringan makna' untuk menjadi pengacara

Setiap hari semakin banyak data yang terakumulasi di internet. Berkat data yang melimpah, maka kita bisa mewujudkan aplikasi kecerdasan buatan yang memiliki 'jaringan makna' tersebut.

Jaringan makna dapat memberitahukan informasi tentang tingkat sosiologis, psikologis, etnis, budaya, ekonomi masyarakat atau seseorang yang tinggal di suatu wilayah, tetapi bisa juga sebagai alat memprediksi kejadian yang sedang berkembang, misalnya saja pemilihan presiden. Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana cara AI berperan sebagai pengacara?

Pengacara sekaliber Hotman Paris harus melakukan riset tentang kasusnya selama berminggu-minggu, sedangkan AI membutuhkan beberapa detik saja. Ditambah AI dapat bekerja selama 24 jam non stop.

Tahun 1672, Gottfried Wilhelm Leibniz, matematikawan asal Jerman mempresentasikan empat mesin operasi aritmatika di Inggris. Leibniz mengatakan "Satu-satunya cara untuk memperbaiki alasan kita adalah menjadikannya sama nyata dengan matematikawan 'sehingga kita dapat melihat kesalahan kita secara sekilas, dan ketika ada perbedaan pendapat di antara orang-orang, mari kita hitung dan lihat siapa yang benar!"

Pernyataan Leibniz tadi jadi landasan terbentuknya pengacara AI.

3. AI NOW menfasilitasi untuk menciptakan AI yang mengerti hukum dengan mengumpulkan para ahli

Juni 2018, AI NOW, lembaga institusi yang mengimplikasikan sosial dari AI mengadakan workshop yang dihadiri oleh advokat, peneliti dan praktisi yang fokus pada litigasi pembuatan keputusan algoritma di bidang hukum.

Tujuan praktis dari penyusunan adalah membahas strategi dan praktik terbaik serta berdiskusi dan sharing pengalaman dalam litigasi dan advokasi di tempat itu. Pertemuan tersebut meliputi beberapa pengacara yang membawa kasus bersama advokat, peneliti, praktisi dan sosiolog serta orang-orang yang paham tentang bidang akuntanbilitas algoritmik.

Tahun 2017, empat mahasiswa hukum di Havard berpendapat jika menggunakan AI untuk merumuskan dan merumuskan rancangan kontrak hukum adalah langkah yang tepat. Dengan cara membuat mesin pencari yang kuat bernama Evisort yang memanfaatkan penyimpanan awan dan AI, harapannya adalah merevolusi pengeluaran yang saat ini ditangani oleh para pengacara dalam kontrak dan pekerjaan transaksional, dan membebaskan mereka untuk tugas yang lebih kreatif dan menarik.

"Dalam enam detik mereka dapat meninjau kontrak 30 halaman dan mengeluarkan informasi untuk Anda", pengacara mengatakan, "Mengapa saya menghabiskan 10 tahun hidup saya melakukan itu?" kata mereka.

Cara untuk mengurangi biaya tanpa mengorbankan kinerja dan keakuratan adalah dengan penggunaan model deep learning dan mesin yang mempelajari model dalam pemrosesan bahasa asli untuk korespondensi hukum.

4. Apakah AI dan manusia bisa berkolaborasi di bidang hukum?

Pertanyaan yang muncul dibenak pengacara adalah apakah peran manusia akan tergantikan? Jawabannya adalah tidak. Peran AI disini adalah mengumpulkan data dari referensi serupa dengan melihat kasus-kasus di masa lalu sambil memberikan kinerja yang lebih tinggi dari pengacara.

Dengan menggunakan AI, manusia mendapatkan waktu mereka yang hilang karena menyelesaikan kasus hukum. AI memungkinkan pengacara dapat bekerja lebih cepat dengan banyak data. Ini menunjukan bahwa AI dan manusia harus bisa bekerja sama itu penting.

Hal ini bisa didefinisikan sebagai human-in-loop. Tujuannya agar pengacara dapat memberikan lebih banyak konsultasi hukum daripada membebaskan diri dari kasus hukum.

Jadi pada intinya adalah AI tidak menggantikan peran pengacara manusia. Peran AI sebagai pengumpul data berdasarkan kasus yang dihadapi. Selagi AI sibuk mengumpulkan fakta-fakta persidangan, pengacara punya banyak waktu untuk bersenang-senang seperti yang dilakukan Hotman Paris di Bali.

Sumber : forbes.com | hackernoon.com | interestingengineering.com

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Ishak Okta Sagita

Universitas Sanata Dharma

“”