Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Mengapa Arsitek Sudah Terpisah dari Kelimuan Teknik?

Pemisahan ini bertujuan agar masyarakat nggak rancu melihat engineer dengan arsitek. Hal ini ditandai dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia dan luar negeri yang memisahkan arsitektur dari falkutas teknik.

Di Indonesia, kuliah arsitektur masih masuk dalam falkutas teknik. Sedangkan perguruan tinggi di luar negeri justru sudah memisahkan arsitektur dari keilmuan teknik. Hal ini dikarenakan masyarakat masih rancu antara arsitek dengan engineer dan banyak pekerjaan mereka yang tumpah tindih.

Hal ini bukan tanpa alasan melihat kebingungan dan kesalapahaman orang tentang arsitek. Sedangkan untuk mata kuliah arsitek fokus pembelajarannya sangat jauh. Arsitek banyak bermain dengan pendekatan imajinasi dan kreativitas, sedangkan engineer harus dengan pendekatan matematika dan sains.

Karena banyak maba dan para profesional kebingungan dengan kedua hal tersebut, maka perlu mencari tahu apa saja poin-poin yang membedakan antara arsitek dengan engineer.

1. Arsitek melihat dari sisi kreativitas sedangkan engineer dengan matematika dan sains

Perbedaan yang bisa direka-reka oleh orang awam adalah cara pandang dari mereka berdua. Arsitek menggunakan kacamata kreativitas sedangkan engineer malah memakai kacamata matematika.

Mengapa demikian, ketika membuat desain bangungan, arsitek berfokus pada bentuk, ruang, suasana bangungan dan elemen fisik lailnnya. Sedangkan engineer memastikan bahwa desain dari arsitek bisa diterapkan dengan menerapkan prinsip-prinsip ilmiah. Karena engineer harus bisa menjelaskan kepada orang lain dari sisi teknis.

2. Arsitek nggak bisa mengeksekusi desainnya sendirian

Arsitek adalah otak dari sebuah desain konstruksi bangungan, walau begitu ia nggak bisa seenaknya mewujudkan rancangannya. Ini berbeda dengan desainer pakaian yang bisa langsung mengeksekusi hasil coretannya. Arsitek perlu persetujuan engineer terlebih dahulu untuk merealisasikan hasil rancangannya.

Engineer bertanggung jawab pada untuk menerjemahkan visi dari rancangan arsitektur menjadi sesuatu yang terukur dan mudah dipahami orang awam. Engineer harus memastikan apakah rancangan tersebut aman bagi manusia atau tidak. Mereka nggak mau mempertaruhkan nyawa orang demi gedung catchy.

3. Perkuliahan arsitektur dengan engineering dibebankan pada hal yang berbeda

Mengingat cara kerja arsitek dengan engineer berbeda maka sejak kuliah harus memahami apa saja yang dibutuhkan ketika terjun di dunia profesional. Hal ini bertujuan agar tidak ada kerancuan dan job desk yang tumpah tindih.

Mata kuliah yang diambil oleh engineer, sebut saja teknik sipil adalah tentang matematika, fisika, konstruksi, sistem mekanik bangungan, kalkulus, gambar teknik, desian teknik dan rangkaian listrik.

Kalau mata kuliah arsitekur, ada beberapa yang sama dengan anak teknik seperti gambar teknik dan matematika. Namun yang jadi fokus utamanya adalah sejarah arsitektur, manejemen proyek, teknik konstruksi, bangungan ramah lingkungan berkelanjutan.

4. Engineer bisa masuk ke ranah asritek sedangkan arsitek nggak bisa masuk ke ranah engineer

Hal ini mungkin akan menyakitkan tetapi arsitek hanya mampu masuk di bidang tertentu saja. Kebanyakan arsitek bisa masuk ke struktur komersil, perumahan atau industri. Bahkan bisa saja mereka menjadi perancang dan mendesain kota.

Berbeda dengan engineer yang bisa masuk ke segala lapisan bidang, selama sesuai kebutuhan. Engineer bisa masuk ke lapaknya elektro hingga lingkungan sampai arsitek sekalipun, keahlian engineer memang dibutuhkan di segala aspek.

Pada dasarnya pemisahan ini bukan semata-mata siapa yang lebih baik, melainkan masyarakat kita yang nggak bisa bedain antara arsitek dengan engineer. Maka dari itu mereka perlu dipisah agar pekerjaan mereka nggak ketukar. Walau begitu tetap saja arsitek dan engineer masih mutualisme, dari dulu sampai sekarang.

Sumber : newschoolarch.edu | topuniversities.com

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Ishak Okta Sagita

Universitas Sanata Dharma

“”