Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Menurut Studi, Uap Air Dapat Dimanfaatkan Sebagai Sumber Energi Listrik?

Udara panas disebabkan oleh kelembaban udara yang tinggi. Berdasarkan studi yang dilakukan Tel Aviv University, uap air udara panas dapat dimanfatakan sebagai sumber energi listrik

Energi terbarukan merupakan sebuah kebutuhan suplai energi kelak di masa depan dan masih terus dikembangkan sampai saat ini. Alasan pembuatan energi terbarukan adalah sumber daya alam fosil dapat habis sewaktu-waktu karena konsumsi masyarakat.

Salah satu potensi energi terbarukan berikutnya ialah energi dari uap air yang dari atmosfer. Temuan ini telah diteliti oleh tim Tel Aviv University. Penelitian ini sudah dipublikasikan di Scientific Report dengan pembahasan interaksi molekul air dengan permukaan logam supaya dapat menghasilkan energi listrik.

1. Memanfaatkan uap air supaya dapat menghasilkan listrik

pixabay.com/users/music4life-19559

Penelitian ini dipersiapkan untuk produksi baterai bertegangan rendah berukuran kecil yang memanfaatkan kelembaban udara, yang dipimpin oleh Colin Price dengan kolaborasi dengan Hadas Saaroni dan mahasiswa doktoral dari Judi Lax dan Sekolah Porter Lingkungan dan Ilmu Bumi dari TAU.

Dalam konferensi pers, Colin Price  mengatakan akan mengusahakan memanfaatkan fenomena alam untuk menghasillkan energi listrik uap air dari atmosfer.

"Dalam badai, listrik dihasilkan dari oleh air pada fase yang berbeda yaitu uap air, droplet air dan es, dan bagaimana cara mendapatkan tetesan air ke pelepasan listrik besar atau petir adalah dengan membuat pengembangan awan selama 20 menit sepanjang setengah mil."

Penelitian ini bertujuan untuk megetahui apakah baterai ukuran kecil dapat diisi uap air dari udara, bukan semata-mata menciptakan pelepasan listrik skala besar.

2. Pada kelembaban tinggi, tegangan listrik dapat terbentuk

pixabay.com/users/charlemagne-21733

Michael Faraday permah melakukan pengamatan bagaimana tetesan air mampu mengisi permukaan logam akibat gesekan pada abad ke 19. Studi baru tentang hal yang sama menunjukan terdapat logam tertentu dapat menciptakan muatan listrik secara spontan pada kelembaban tertentu.

Para peneliti melakukan pengujian untuk menentukan tegangan antara dua logam berbeda dalam kondisi kelembaban tinggi, tujuannya untuk melakukan pengujian baterai. Menurut Price, pada kondisi udara kering tidak dapat terbentuk tegangan listrik.

"Pada kelembaban diatas 60%, tegangan mulai terbentuk pada dua permukaan logam yang terisolasi. Sedankan pada kelembaban dibawah 60%, tegangan menghilang. Kondisi serupa juga terjadi pada kondisi alam." lanjut Price

"Air merupakan molekul yang istimewa. Ketika molekul bertumbukan, ia mampu mentransfer muatan listrik antar molekul. Hasilnya menyerupai listrik statis dengan cara memberi gesekan." sambungnya

"Pada saat mencoba memproduksi listrik di laboratorium dan menemukan jika permukaan logam terisolir menghasilkan muatan berbeda dari uap air di atmosfer dengan syarat kelembaban relatif harus diatas 60%." ujarnya

3. Sangat cocok untuk diimplementasikan di negara berkembang di daerah tropis

pixabay.com/users/music4life-19559

Para peneliti menunjukan jika udara lembab dapat dipakai untuk mengisi tegangan hingga satu volt. Dan metode ini sangat cocok untuk diterapkan di negara-negara berkembang dan daerah yang masih kesulitan mengakses listrik. Tentu saja ide ini memiliki potensi untuk membuat pembangkit listrik tenaga kelembaban.

"Ada kemungkinan di masa depan terdapat aplikasi praktis untuk mengembangkan baterai isi ulang dari uap air dari udara." Terang Price

Konsep ini sangat cocok untuk diterapkan di negara-negara berkembang yang masih kesulitan menikmati listrik, apalagi dengan wilayah bercuaca panas. Indonesia adalah salah satu tempat potensial untuk penerapan pembangkit listrik dengan uap air.

Sumber : interestingengineering.com | nature.com

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Ishak Okta Sagita

Universitas Sanata Dharma

“”