Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Pentingkah Punya Gelar Profesi Insinyur Setelah Lulus Kuliah?

Sekarang ini untuk jadi insinyur harus ambil pendidikan profesi selama dua tahun. Sedangkan untuk kerja nggak diwajibkan punya gelar insinyur. Jadi masih pentingkah punya gelar insinyur?

Berdasarkan keputusan Mendikbud RI No. 36/U/1993 tentang Gelar dan Sebutan Lulusan Perguruan Tinggi mengubah sebagian besar gelar dan sebutan bagi lulusan pendidikan akademik sarjana di Indonesia saat itu. Lulusan kelompok program studi teknik yang sebelumnya menggunakan gelar insinyur (Ir) mulai sejak ditetapkannya keputusan tersebut menggunakan gelar Sarjana Teknik (ST).

Dampak dari keputusan ini adalah lulusan teknik setelah tahun 1993 sampai sekarang hanya mendapat gelar Sarjana Teknik. Jadi nggak lulus kuliah langsung auto insinyur seperti jaman si Doel.

Akibat aturan tersebut adalah Indonesia mengalami krisis insinyur hingga sekarang. Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan dari 100 ribu insinyur hanya lima ribu yang berkerja sesuai bidang dan kompetensinya.

Pasalnya lowongan kerja lulusan teknik nggak meminta persyaratan memiliki gelar profesi. Berbeda dengan dokter dan apoteker yang untuk dapat pekerjaan harus menyelesaikan studi profesi.

Lalu bagaimana pemerintah menyiasati defisit tesebut dan apa masih ada manfaatnya ambil pendidikan profesi insinyur?

1. Pemerintah sudah menyiapkan 40 perguruan tinggi untuk membuka program profesi insinyur

Keputusan ini dibuat berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No. 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi, dan UU No 11 tahun 2014 tentang keinsiyuran, hanya perguruan tinggi yang secara hukum mempunyai kewenangan untuk menyelenggarakan program profesi insinyur dan memberikan gelar insinyur (Ir.).

Atas dasar itu, penerintah melalui Direktur Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang berada dibawah Kemenristekdikti memberi mandat kepada 40 perguruan tinggi negeri dan swasta untuk menyelenggarakan Program Pendidikan Insinyur. Perguruan tinggi tersebut antara lain ITB, UGM, UI, ITS dan Unika Atma Jaya.

2. Tujuan diadakan program profesi adalah untuk meningkat kompetensi

Tujuan utama dari program profesi insinyur adalah untuk meningkatkan kompetensi insinyur Indonesia. Dilansir dari kompas.com, pada tahun 2016 jumlah insinyur ada 750.000 orang dan yang terserap sekitar 40% saja. Mirisnya lagi adalah sedikit sekali insinyur muda.

Alasannya adalah tanpa gelar profesi saja sudah bisa dapat pekerjaan di perusahaan BUMN atau swasta. Bahkan kerja beberapa tahun saja udah bisa beli ini-itu.

Sedangkan untuk mendapat gelar profesi kebanyakan mensyaratkan memiliki minimal dua tahun pengalaman kerja di industri. Mengapa harus dua tahun? hal ini karena penyelengara punya alasan sendiri. Ditambah harus mengeluarkan biaya per semerster yang menyentuh puluhan juta membuat orang makin malas keluar duit.

Melihat pemerintah sedang gencar pembangunan infrasturkur membuat perusahaan butuh banyak insinyur. Sedangkan di sisi lain, kebutuhan insinyur banyak diisi dari luar negeri. Ya mau gimana lagi? Stok insinyur asli Indonesia sedikit.

3. Jadi pentingkah memiliki gelar profesi insinyur?

Dari semua itu akan muncul pertanyaan, apa penting setelah kuliah lanjut ambil profesi? Jawabannya adalah tergantung kalian mau kemana dan jadi apa.

Kalau tujuannya adalah pengen kaya maka nggak disarankan ambil gelar profesi. Perhatikan 10 orang terkaya di Indonesia dan dunia, semuanya adalah pengusaha, nggak ada insinyur. Mending waktunya dipakai untuk mikirn caranya mengembangkan usaha dan menggandakan pendapatan.

Sedangkan untuk tujuan jadi seorang expert, maka gelar profesi penting untuk diambil. Dengan punya gelar profesi maka akselerasi karier bisa lebih cepat dibandingkan yang nggak. Walau masih ada kemungkinan bisa kaya raya, cuma statistik berbicara lain.

Kita mungkin boleh bangga karena pendaftar SBMPTN banyak yang milih jurusan teknik. Bahkan jurusan teknik masuk 10 jurusan terfavorit. Tetapi karena kompetensinya rendah jadi nggak banyak yang terserap.

Intinya kembali lagi ke diri masing-masing. Kalau memang mau masuk dunia engginering, kurangin tuh gagah-gagahan depan fakultas sebelah.

Sumber: mediatataruang.com | tirto.id | ppi.teknologiindustriumi.ac.id | sains.kompas.com

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Ishak Okta Sagita

Universitas Sanata Dharma

“”