Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Pernah Membayangkan Gas CO2 Di Atmosfer Bisa Diserap Lagi? Perusahaan Kanada Ini Telah Membuktikannya

Karbon Dioksida adalah gas buangan yang salah satunya menyebabkan permukaan atmosfer menipis. Sehingga lahirnya ide untuk menyerap CO2 dari atmosfer dan digunakan untuk kebutuhan manusia

Bahan bakar fosil yang semakin menipis, membuat para ahli memutar otak mencari solusi dari permasalahan ini. Ditambah dengan pemasan global karena karbon dari kendaraan bermotor membuat tingkat kesulitan jadi berlipat. Namun tahukah ada perusahaan yang bisa membuat bahan bakar dan sumber energi dengan mengambil CO2 dari atmosfer?

Carbon Engineering, perusahaan dari Kanada telah membuat alat penangkap karbon dan pengerjaannya sejak tahun 2015 serta membangun fasilitas emisi negatif pertamanya. Perusahaan mengatakan bahwa sistemnya dapat menghilangkan CO2 dari atmosfer dengan laju dibawah $ 100 per ton.

1. Carbon Engineering mampu menarik satu megaton CO2 dari atmosfer

Carbon Engineering di salah satu pabrik komersilnya akan menempati 30 hektar tanah dan mampu menarik satu megaton CO2 per tahun dari atmosfer. Hal ini setara dengan menanam 40 juta pohon.

Kemampuan untuk mendapat keuntungan dari konversi karbon tentunya dapat membantu proses menjadi hemat biaya, dan membantu banyaknya karbon yang ditarik dari atmosfer. Sedangkan Carbon Engineering hanya mampu menarik 1% dari total emisi karbon.

"Seorang investor keuangan berinvestasi karena mereka menyukai rencana bisnis Anda. Kami dapat membawa beberapa modal ventura Silicon Valley yang cukup besar kepada kami," kata presiden dan CEO Carbon Engineering Steve Oldham, yang perusahaannya didukung oleh miliarder seperti Bill Gates.

2. Penyerapan CO2 memakai proses sistem penyerapan reversibel

Secara teoritis, sangat sudah untuk menangkap CO2 dari atmosfer saja. Alasannya karena kandungan CO2 pada udara adalah 0,04 persen. Jika dilakukan akan memakan waktu lama, apabila hanya CO2 yang disaring saja. Atau sekitar satu dari 2500 molekul udara.

Sebagian proses untuk menangkap CO2 tergantung pada proses "penyerapan reversibel". Idenya adalah bagaimana menjalankan campuran gas (udara) bahan yang secara selektif menyerap CO2. Kemudian, secara terpisah, bahan tersebut dimanipulasi untuk menarik CO2 keluar. CO2 yang terpisah kemudian dikompresi dan disuntik di dalam tanah. Biasanya ada batas pasokan bahan penyerap, sehingga akan dimasukan melalui siklus kembali untuk menangkap lebih banyak gas rumah kaca.

Carbon Engineering menggunakan sistem cair, dengan kalsium oksida dan air. Pihak perusahaan mengatakan terlalu dini untuk pengembangan teknologi untuk kisaran biaya. "Rasanya seperti jika Anda bertanya kepada seseorang di tahun 1960 berapa harga roket komersial hari ini," kata David Keith dari Carbon Engineering

3. Tahun 2017, perusahaan bernama Climeworks membuat unit komersil di Zurich, Swiss

Climeworks berhasil membuat penyerap karbon pertamanya di daerah Zurich, Swiss pada bulan Mei tahun 2017 silam, dan menangkap kira-kira 1000 meter ton CO2 dari udara tiap tahun. Setara dengan emisi tahunan 20 rumah tangga Amerika Serikat. CO2 yang ditangkap lalu dipasok ke rumah kaca terdekat, dimana konsentrasi gas yang tinggi meningkatkan hasil panen sebesar 20%.

Untuk membangun fasilitas penyerap karbon, Climeworks membutuhkan pembangkit listrik "karbon netral". Mereka menemukannya di Hellisheidi, Islandia, di mana perusahaan utilitas publik, Reykjavik Energy mengoperasikan pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Pabrik tersebut memanfaatkan panas dari daerah vulkanis aktif untuk menghasilkan panas dan listrik, dengan mempompa air melalui jaringan pipa bawah tanah. Ketika air bergerak di bawah tanah, suhu air meningkat dan berubah jadi uap yang digunakan untuk menjalankan turbin. Daya yang dihasilkan sebesar 300 MW dan panas sebesar 130 MW.

4. CO2 yang ditarik dari atmosfer dapat disimpan di bawah tanah

Berdasarkan studi tahun 2016, para ilmuwan mengatakan jika karbon dioksida dalam campuran air bereaksi dengan Batuan Balistik Besar Islandia. Batuan tersebut dapat ditemukan di bawah dasar laut yang untuk membentuk mineral. Proses ini biasanya memakan waktu ratusan sampai ribuan tahun, namun berbeda dengan di Islandia yang cuma kurang dari dua tahun.

Faktor kecepatan dan geografis disinyalir memillki hubungan dengan proses tersebut. Akuifer batu pasir, sistem batuan yang banyak dipelajari dalam sistem injeksi karbon dioksida bereaksi sangat lambat dengan CO2. Di sisi lain, batu basal yang lain bereaksi lebih cepat yang kemungkinan disebabkan oleh adanya logam seperti besi dan alumunium.

Studi ini menunjukan, penyimpanan CO2 di bawah tanah lebih aman dan mudah daripada cara yang umum digunakan. Setelah terkunci dalma mineral, CO2 tidak bisa kembali ke atmosfer selama jutaan tahun. Sebaiknya juga, batuan basal seperti ini ada dalma endapan besar di seluruh dunia.

5. Penyerapan karbon dari atmosfer diharapkan agar pemanasan global kurang dari 2 derajat Celcius, bahkan dijadikan bahan bakar bebas karbon

Agar tercapai tujuan internasional yaitu menjaga pemanasan global kurang dari 2 derajat Celcius, mengurangi emisi dan menggunakan energi terbarukan masih kurang. Inilah yang membuat sebagain orang tertarik pada teknologi emisi negatif, yang menyerap CO2 dari atmosfer dan menyimpannya di dalam tanah. Bahkan bisa juga digunakan sebagai bahan bakar netral karbon. Sayangnya untuk dilakukan dalam skala besar masih kurang biaya.

Walau Carbon Engineering mampu menjual CO2 seharga $ 100 per ton, saat ini nggak banyak konsumen yang membeli CO2. Jadi mereka memutuskan untuk membuat bahan bakar netral karbon cair. CO2 yang ditangkap, dikombinasikan dengan nhidrogen dengan melalui elektrolisis air. Sementara prosesnya membutuhkan banyak listrik, pembangkit pilot di Squamish sudah menggunakan tenaga air terbarukan.

Bahan bakar sintesis yang dihasilkan dapat dicampur atau digunakan sebagai bensin, diesel, avtur. Ketika dibakar, ia mengeluarkan jumlah CO2 yang sama dengan ketika desang dibuat, sehingga efektivitas karbon netral.

Sumber : bigthink.com | qz.com | sciencemag.org | bigthink.com

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Ishak Okta Sagita

Universitas Sanata Dharma

“”