Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Prof. Subagjo : Guru Besar ITB Dibalik Katalis Merah Putih

Katalis ini adalah peluang Indonesia untuk mengolah minyak nabati menjadi bahan bakar fosil dan mengurangi beban negara dalam urusan impor bahan bakar.

Ketersediaan bahan bakar fosil di Indonesia semakin berkurang dan penggunannya semakin bertambah. Untuk mengatasinya, pemerintah import bahan bakar fosil dari luar negeri. Untuk mengolah nabati menjadi bahan bakar dengan kualitas seperti bahan bakar fosil diperlukan katalis.

Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi kimia pada suhu tertentu tanpa mengalami perubahan atau terpakai reaksi itu sendiri. Industri di Indonesia biasanya memakai katalis impor karena secara ekonomis lebih murah dan cepat.

Sekarang Indonesia sudah bisa memproduksi katalis sendiri yang diberi nama Katalis Merah Putih. Sang pembuatnya adalah Prof. Subagjo, Guru Besar Fakultas Teknologi Industri ITB. Katalis ini direncanakan siap produksi tahun 2020.

1. Penelitiannya tentang katalis dimulai sejak tahun 1982

Perjuangan Prof. Subagjo untuk membuat Katalis Merah Putih bukan hal yang mudah. Ia menghabiskan lebih dari 30 tahun untuk menemukan formula katalis yang cocok.

Awal mulanya ia mengembangkan katalis untuk mengubah sisa minyak goreng menjadi bensin. Namun gagal karena nggak menguntungkan. Sampai tahun 1996, ITB dilirik industri untuk mengembangkan katalis.

PT. PIM (Pupuk Iskandar Muda) mengajak ITB untuk mengembangkan adsorben H2S dalam gas bumi. Pada tahun 1999, peneliti ITB berhasil menemukan formula adsorben yang memiliki kapasitas adsorpsi dua kali lipat dari yang dimiliki PT. PIM.

Sayangnya absoeben yang diberi nama PIMIT-B1.nggak bertahan lama. Hal ini dikarenakan  PT. PIM mendapat pasokan gas baru. Disaat yang sama kepercayaan industri dengan buatan dalam negeri masih rendah.

Tahun 2010, ITB bekera sama dengan Pertamina melakukan uji coba katalis reaktor skala pilot dan dinyatakan memiliki aktivitas lebih tinggi dari katalis yang ada dipasaran. Katalis ini diberi nama PITN 100-2T. Inilah yang menjadi cikal bakal Katalis Merah Putih.

2. Saat ini ITB dan Pertamina sudah mengembangkan dua katalis lainnya

Pada tahun 2012, ITB dan Pertamina melakukan uji komersil Katalis Merah Putih selama setahun. Hasilnya adalah Katalis Merah Putih memiliki unjuk kerja lebih baik dan lebih stabil dari katalis impor, dan akhirnya Pertamina menggunakan Katalis Merah Putih untuk proses Hydrotreating, baik untuk nafta, kerosin, maupun diesel.

Tahun berikutnya, ITB dan Pertamina mengembangkan dua katalis lainnya yang diberi nama PITD 120-1.3T untuk Treating Diesel dan  PIDO 130-1.3T untuk mengkonversi minyak nabati menjadi hidrokarbon parafinik.

3. Kebutuhan katalis di Indonesia kebanyakan didapat dari impor

Pembuatan Katalis Merah Putih ini menjasi solusi bagi Indonesia untuk mengurangi defisit anggaran dan sebagai substansi sumber bahan bakar. Khususnya bagi industri kelapa sawit yang belum dapat memanfaatkannya dengan baik. Dengan katalis ini, Indonesia dapat membuat minyak nabati menjadi bahan bakar non fosil dengan kualitas tinggi.

Setiap tahun Indonesia membutuhkan 500 juta dollar AS dan semuanya impor dari luar negeri. Belum lagi impor 360 ribu barrel per hari minyak mentah dan 400 ribu per hari bahan bakar minyak.

4. Prof. Subagjo ingin Katalis Merah Putih segera diproduksi

ITB menjalin kerja sama dengan PT Pupuk Kujang untuk membangun pabrik Katalis Merah Putih yang ditargetkan selesai pada tahun 2020.

"Sekarang akan mulai direalisasikan, kita bekerjasama dengan Kujang serta lokasinya akan di sekitar pabrik Kujang di daerah Cikampek," ujar Prof. Subagjo di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung

Diharapkan pabrik nanti dapat memenuhi kebutuhan katalis industri minyak, petrokimia, kimia dan industri oleokimia. Rencana groundbreaking akan dilaksanakan pada 17 Agustus 2019.

"Pengaruhnya sekarang katalis tidak semuanya dijual bebas di pasaran. Sehingga untuk kebutuhan sangat tergantung impor di luar negeri, itu yang membuat kita ingin mengembangkan katalis. Sehingga pertama kita bisa mandiri katalis dan katalis menjadi kunci industri," katanya.

Dengan katalis buatan Prof. Subagjo bisa meringankan beban Indonesia di bidang ketersediaan bahan bakar. Jangka panjangnya bisa menghentikan impor bensin.

Sumber : itb.ac.id | liputan6.com | merdeka.com | suara.com

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Ishak Okta Sagita

Universitas Sanata Dharma

“”