Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Raldi Artono Koestoer: Professor UI Yang Berhasil Membuat Inkubator Low-Bugdet Untuk Warga Kurang Mampu

Bayi lahir prematur adalah masalah yang serius jika nggak ditangangi dengan baik. Inilah yang membuat lahirnya inovasi inkubator portable sederhana

Indonesia berada dalam urutan jumlah kelahiran prematur terbesar ke lima di dunia dengan jumlah 675.700 pertahun. WHO mengatakan bahwa komplikasi persallinan prematur adalah penyebab utama kematian di kalangan balita.

Inkubator merupakan alat yang digunakan ketika ada bayi yang lahir secara permatur. Fungsi dari inkubator antara lain menjaga suhu bayi, memberi suplai oksigen, menantau kondisi bayi dan mengobati penyakit kuning. Sayangnya harga inkubator yang mahal sehingga nggak semua orang bisa menggunakannya.

Inilah yang menginspirasi Raldi Artono Koestoer untuk membuat inkubator low budget yang dapat digunakan untuk masyarakat dengan tingkat ekonomi ke bawah. Ia adalah professor teknik mesin dari Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.

1. Proyek inkubator low budget bermula dari memperbaiki alat-alat kesehatan

Awal mula Pak Raldi tertarik dengan inkubator pada saat memperbaiki alat kesehatan milik kakaknya, seorang dokter anak, hingga rasa penasarannya muncul untuk membuat inkubator low-budget. Tahun 2012, ia memulai skema peminjaman dan membuat inkubator portable yang ringan.

Modal awal pembuatan inkubator dengan mencari pinjaman sebesar 3,5 juta rupiah untuk satu inkubator dan mengantar ke keluarga yang membutuhkan. Donatur banyak dari kalangan menengah ke atas dan berkecimpung di dunia kesehatan.

Jika ada yang membutuhkan maka harus memesan dahulu, lalu dilakukan pengecekan. Apabila dirasa membutuhkan maka akan ada orang yang mengirim ke lokasi.

2. Rasio keberhasilan inkubator mencapai 100 persen

Pertama-tama pelayanan ini dibuka di Jakarta saja, namun sekarang sudah masuk ke daerah Sumatra dan daerah pegunungan di Papua. Karena banyaknya peminat, Pak Raldi mengajak mahasiswanya untuk bekerja dengannya, dan harapannya dapat mencangkup 300 kota di Indonesia.

"Pemerintah memiliki program asuransi kesehatan masyarakat, tetapi tidak dapat mencakup semua orang," kata Raldi Artono Koestoer

Sejauh ini sudah membuat 180 inkubator yang membantu 1500 bayi, di antaranya adalah kembar.

"Rasio keberhasilan kami adalah 100 persen," katanya. "1.500 bayi — 100 persen hidup, sehat."

3. Dengan inkubator buatannya, menjadikan Pak Raldi "Orang paling bahagia di dunia"

Salah satu keluarga berhasil menyelamatkan bayinya yang bernama Maryamah. Sewaktu melahirkan Maryaman, Hermawati menjalani operasi caesar karena tekanan darahnya tinggi pada kehamilan ke delapan. Pada awalnya bayinya diizinkan tinggal di inkubator berkat bantuan pemerintah.

Setelah tujuh minggu dirawat di rumah sakit, komdisi Maryaman dianggap stabil oleh dokter sehingga boleh dibawa pulang. "Kami perlahan pulih dari keterkejutan memiliki bayi prematur, tetapi kemudian kami memiliki masalah lain. Bagaimana kami akan merawatnya di rumah?" kata Prayogi, suami Hermawati.

Singkat cerita, Maryaman mendapat bantuan layanan peminjaman inkubator dari seseorang.

"Saya mengirim pesan teks dan responsnya sangat cepat. Setelah beberapa menit, operator menghubungi saya, dan mengatakan bahwa inkubator dapat diambil segera setelah bayi di rumah," katanya.

Sekarang Maryaman memiliki bobot 2,4 kg dan masih membutuhkan inkubator, setidaknya orang tuanya nggak khawatir dengan kesehatannya.

"Ketika seorang ibu datang ke sini dengan bayinya dan kesehatannya baik, saya adalah pria paling bahagia di dunia," Pak Raldi

Sumber : gineersnow.com | medicalxpress.com

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Ishak Okta Sagita

Universitas Sanata Dharma

“”