Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Translatorton : Penerjemah Dari Google yang Dapat Mempertahankan Karakter Suara Aslinya

Perkembangan AI membuat Google mulai berinovasi. Mereka mengembangkan alat penerjemah yang mampu mempertahankan karakter suara asli.

Sekarang ini Google memiliki inovasi baru dalam masalah penerjemahan. Jika dahulu kita hanya mengandalkan google translate, maka sekarang google membuat alat penerjemah yang diberi nama Translatotron.

Translatorton merupakan model penerjemah pertama yang secara langsung mengubah pidato dari satu bahasa ke bahasa lain dengan mempertahankan suara dan irama pembicara. Alat ini melupakan cara terjemahan dari ucapan ke teks dan kembali ke ucapan, yang sering terjadi kesalahan selama proses berlangsung.

Aplikasi in masih belum sempurna, namun Google menyarankan sistem barunya akan segera memberikan pengalaman menerjemahkan yang lebih presisi dari alat penerjemah yang sudah ada.

1. Cara kerja Translatorton adalah menggunakan jaringan saraf untuk mengubah spektogram

Ketika menggunakan Google Translate, proses penerjemahan terdiri dari tiga tahap yaitu : "pengenalan ucapan otomatis untuk menuliskan sumber pidato sebagai teks, terjemahan mesin untuk menerjemahkan teks yang ditranskripsi ke dalam bahasa target, dan teks -untuk-pidato sintesis (TTS) untuk menghasilkan pidato dalam bahasa target dari teks yang diterjemahkan."

Hasilnya adalah bahwa kata-kata yang sudah diucapkan dikonversi menjadi teks, teks kemudian dikonversi menjadi bahasa yang berbeda, dan kemudian mesin mengucapkan kata-kata tadi dalam bahasa yang berbeda.

Berbeda dengan Translatorton karena melewati langkah-langkah representasi teks perantara. Google menyelesaikan ini dengan memakai jaringan saraf untuk mengubah spektogram dari satu bahasa ke bahasa lain. Spektogram adalah representasi visual dari spektrum frekuensi dalam suara.

"Itu menggunakan dua komponen lain yang dilatih secara terpisah: sebuah neoder vocoder yang mengubah spektogram output ke bentuk gelombang domain waktu, dan, secara opsional, sebuah enkoder speaker yang dapat digunakan untuk mempertahankan karakter suara sumber pembicara dalam pidato terjemahan yang disintesis, "Google menulis di posting blognya.

2. Translatorton dapat mempertahankan karakter vokal

Dengan menggabungkan jaringan speaker encoder, Translatorton juga mempertahankan karakter vokal pembicara asli dalam terjemahan suara, yang membuat ucapan terjemahan terdengar natural dan kurang gemuruh.

Pengkode pengeras suara didahului dengan tugas verifikasi pengeras suara, belajar mengkodekan karakteristik pengeras suara dari sebuah contoh ucapan singkat. Pengkondisian dekoder spektogram pada pengkodean untuk mensintesis pidato dengan karakteristik pembicara yang sama, meskipun dalam konten bahasa yang berbeda.

Aplikasi ini sangat berguna untuk editor suara yang membuat dubbing untuk film atau tv. Atau kita pernah melihatnya sistem ini dalam film, dimana ada adegan mendengarkan rekaman dalam bahasa asing lalu langsung diterjemahkan dalam bahasa inggris.

3. Sayangnya Translatorton masih berupa model, belum ada demonya

Google kemungkinan akan membutuhkan waktu untuk menerapkan sistem baru dalam tingkat konsumen, karena masih dalam berupa model. Walau begitu Google telah membuat permodelan arsitektur dari Translatorton.

Walau begitu masih ada aplikasi serupa dengan Translatorton seperti iTranslate dan SayHi yang mencoba menerjemahkan satu bahasa ke bahasa lainnya. Namun pada penerapannya masih nggak semulus Translatorton dan banyak kesalahan yang terjadi.

Pada beberapa bulan terakhir Google telah menyempurnakan terjemahannya. Tahun lalu, perusahaan tersebut memperkenalkan akses dalam Google Translate yang dapat berbicara dalam berbagai bahasa dalam pengucapan berbasis wilayah dan menambahkan lebih banyak bahasa ke fitur terjemahan real time.

Awal tahun ini, Google Assistant mendapatkan "interpreter mode" untuk tampilan cerdas dan pengeras suara yang dapat menerjemahkan anatra 26 bahasa.

Semoga Google dapat menyelesaikan Translatorton dan bisa dipakai secara massal.

Sumber : bigthink.com | engadget.com | thenextweb.com

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Ishak Okta Sagita

Universitas Sanata Dharma

“”