Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Ancaman Pemblokiran Facebook oleh Kominfo, Mark Angkat Bicara

Tak kurang dari 87 juta data pengguna Facebook dibobol firma riset analis Cambridge Analytica. Firma ini merupakan konsultan politik yang dipakai Donald Trump dalam kampanye Pilpres AS pada 2016. Tentu hal ini menggemparkan beberapa pihak, bahkan beberapa pihak mendesak pemerintah mengambil tindakan tegas dengan memblokir Facebook.

Menurut data yang dibagikan Newsroom Facebook setidaknya ada 1.096.666 data pengguna Facebook di Indonesia dicuri Cambridge Analytica. Menanggapi hal tersebut, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan tak akan segan memblokir sang raksasa Facebook. Hanya saja, semua harus sesuai prosedur agar langkahnya tak gegabah. Dan saat ini telah dilayangkan Surat Peringatan kedua dan ke satu. Dengan dilayangkannya SP ini, maka indikasi Kominfo akan memblokir Facebook di Indonesia juga akan semakin kuat.

Sebelumnya juga diketahui, Facebook telah mengakui pihaknya bertanggung jawab atas penyebaran informasi palsu penghasutan, seperti yang terjadi di Myanmar sehingga terjadi saling hasut menghasut antar-kelompok agama di Myanmar. Ujung-ujungnya terjadi pembantaian terhadap kaum Rohingya.

Untuk saat ini, dalam Surat Peringatan Pertama dan Kedua yang diberikan Kominfo ke Facebook, pihaknya meminta agar layanan pihak ketiga yang berpotensi membahayakan harus dihentikan, Seperti praktik CA yang dilakukan perusahaan lain yakni “CubeYou” dan “AgregateIQ”. Dimana mereka menghimpun data pengguna Facebook lewat kuis kepribadian. Selain itu, isi Surat Peringatan nya juga meminta penjelasan soal mekanisme pencurian data, meminta hasil audit, dan menagih jaminan perlindungan data pengguna Indonesia oleh Facebook.

Foto: Facebook/Mark Zuckerberg

Dari kejadian ini, Mark Zuckerberg menulis sebuah naskah pidato atas kesaksiannya didepan kongres Amerika Serikat, yang berisi bahwa  Facebook memiliki banyak manfaat untuk masyarakat, mulai dari membantu korban bencana alam hingga menyediakan wadah untuk usaha kecil menengah.  Dan dia juga mengatakan, tak bisa berbuat banyak untuk melakukan langkah yang cukup untuk mencegahnya digunakan untuk menyakiti orang lain juga. Misalnya lewat berita palsu, intervensi asing dalam pemilu, ujaran kebencian, serta privasi developer dan data.  Zuck menjelaskan bahwa Facebook, seperti juga segala hal lain, ibarat pedang bermata dua yang tak hanya bisa digunakan untuk memberi manfaat, tapi juga memberikan efek negatif.

Kami tak mengemban tanggung jawab dengan baik. Itu adalah kesalahan besar. Kesalahan saya dan saya meminta maaf. Sayalah yang mendirikan Facebook dan menjalankannya. Saya bertanggung jawab atas apa yang terjadi,” imbuh Zuckerberg.

Di dalam teks sepanjang 2.800-an kata itu, Zuckerberg turut menjelaskan langkah-langkah apa saja yang telah diambil Facebook untuk mencegah kebocoran data serupa di kemudian hari.  Informasi tersebut akan muncul di akun pengguna yang terdeteksi dicuri Cambridge Analytica ataupun tidak. Jika akun Anda terdampak, notifikasi akan memunculkan tombol "See How You're Affected" yang bisa ditekan untuk mendapatkan informasi selanjutnya. Jika akun Facebook Anda aman, tombol lain bertajuk "Go To Apps and Websites".

Tampilan notifikasi yang akan muncul berbeda untuk setiap pengguna. Untuk akun yang datanya dicuri, notifikasinya bisa dilihat dari gambar di bawah ini, di sisi kanan.

Namun, jika akun Anda aman dari Cambridge Analytica, tampilan notifikasinya akan muncul seperti pada gambar sebelah kiri.  Facebook turut menjelaskan langkah-langkah untuk mencegah kejadian serupa terulang. Secara garis besar, caranya adalah dengan membatasi akses data pengguna Facebook melalui application programming interface untuk digunakan di aplikasi lain seperti Instagram maupun pihak ketiga.  Di versi barunya nanti, Facebook akan membatasi pilihan data yang bisa diminta aplikasi, tanpa menggunakan tinjauan aplikasi, untuk hanya meliputi nama, foto profil, serta alamat email.

Facebook juga mengubah mekanisme fitur pencarian akun dengan mengetikkan nomor telepon atau alamat e-mail melalui layar login. Hal tersebut dinilai sering disalahgunakan dan membahayakan data pengguna, misalnya, orang lain yang berkedok pura-pura lupa password kemudian si pemilik akun tiba-tiba mendapat SMS berisi kode reset password.  Agar layanannya lebih aman dari celah-celah yang bisa dieksploitasi pihak tidak bertanggung jawab, Facebook akan mengembangkan program Bug Bounty, yang memungkinkan pengguna Facebook untuk melaporkan adanya penyalahgunaan data yang dilakukan oleh pengembang aplikasi.

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

arka

Surabaya - Kupang

“#SuccessBefore30”