Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Cara Baru BPPT Kembangkan Alat Deteksi Tsunami

Baru saja Lombok dan Palu diterpa bencana yang merenggut banyak jiwa. Pada kasus tsunami seperti ini, keadaan menjadi miris ketika alat deteksi tsunami buoy hilang akibat oknum vandalisme.

Indonesia saat ini krisis alat pendeteksi tsunami. Terlebih sebanyak 22 alat pendeteksi gelombang pasang dan tsunami bernama Buoy, ternyata sudah tidak berfungsi sejak 2012. Melihat kerentanan kawasan pesisir Indonesia dalam menghadapi bencana tsunami, jelas sangat membutuhkan solusi teknologi.

Dan dalam jumpa pers yang dilaksanakan pada Kamis (04/10/2018) di Jakarta, BPPT menawarkan sebuah skema pemodelan ataupun simulasi kedatangan tsunami yang mungkin bisa menggantikan posisi buoy. Terobosan tersebut dinamai Cable Based Tsunameter atau CBT.  Dan dianggap cukup akurat untuk menanggung resiko korban nyawa.  CBT ini telah dikembangkan di beberapa negara dan dimanfaatkan antara lain oleh Kanada, Jepang, Oman, dan Amerika Serikat.

"Kita ingin CBT ini menjadi program nasional karena kita memiliki sistem komunikasi kabel laut yang merupakan upaya kita untuk membangun broadband network lewat Palapa Ring," ujar  Deputi BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT  Hammam Riza.

Hammam berharap BPPT diberikan kesempatan untuk menjalankan tugas dan fungsinya dalam merekayasa teknologi untuk kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.  Namun, diakui Hammam, proses pembuatan CBT baru menghabiskan biaya yang lebih mahal dari pembuatan buoy.

"Kalau dibandingkan, kalau pembuatan buoy itu bisa menghabiskan miliiaran, CBT itu triliunan. Tapi perawatannya lebih murah dari buoy. Tapi (biaya) ini kalau buat baru ya," ujar Hammam. Ia mengatakan, cara ini bisa disiasati dengan cara sistem komunikasi kabel laut yang merupakan broadband network lewat Palapa Ring. BPPT hanya perlu untuk memasang sensor tersebut di kabel dasar laut yang sudah ada di Indonesia.

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

arka

Surabaya - Kupang

“#SuccessBefore30”