Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Membaca Personal Branding Pemimpin Kita Melalui Jejak Digital

Semakin kesini kita semakin tahu karakter para pemimpin kita melalui Personal Branding yang dapat kita lihat di berbagai media. Dan di pemilihan kemarin kita telah memilih legislatif ataupun presiden di pemilu 5 tahunan. Lalu bisa apa kita?

Tak terasa kita telah merayakan hari bersejarah dalam musim 5 tahunan yakni pemilihan presiden dan legislatif. Tak hanya calon pemimpinnya yang panas menghadapi hari bersejarah ini, para pendukungnya pun juga sudah sangat panas

Era digital yang tidak terlepas dari penggunaan internet saat ini membawa perubahan dalam pola komunikasi masyarakat. Salah satu yang paling dirasakan adalah hadirnya media sosial. Penggunaan media sosial sangat beragam, tidak hanya sebagai ajang berhubungan sosial antar kerabat, namun juga sebagai tempat berjualan atau “menjual diri”. Tentu makna menjual diri disini dalam hal positif ya, seperti halnya berkarya sebagai content creator ataupun selebgram. Tak jarang anak muda kreatif seperti ini yang memanfaatkan media sosial sebagai ajang mendapatkan penghasilan, misalnya melalui jasa endorse atau berjualan produk tertentu yang sejenis dengan konten yang mereka buat.

A. Peran Media Sosial dalam Personal Branding

Peran media sosial disini bukan lagi tentang bersosialisasi saja seperti halnya hidup bersosial-masyarakat. Tetapi juga sebagai tempat unjuk gigi personal branding. Dimana personal branding ini adalah sebagai usaha menarik perhatian orang lain atas kemampuan, keunikan, spesialisasi dan citra diri yang kita dimiliki. Dan tujuannya jelas, yakni sebagai identitas diri baik personal, produk atau perusahan yang kita miliki. Selain itu juga bisa sebagai promosi atas daya tarik. Bukan hanya sekedar janji-janji kampanye para caleg, Personal branding lebih dari itu. Ia adalah jaminan sebuah kualitas, pertanggungjawaban dan ikatan emosional dengan para pengikut ataupun konsumen. Maka kekuatan personal branding ini sangat penting dimiliki oleh para millenial, pemimpin dan pelaku digital khususnya sosial media.

Bisa kita lihat dan jumpai orang-orang yang tak memiliki ilmu personal branding, mereka akan terkesan inkonsisten, tidak jelas identitas dirinya, dan kurang dipercaya oleh pengikutnya. Sebagai contoh ketika kita melihat olshop yang menjual berbagai jenis produk seperti ; buku, elektronik, peninggi badan, kendaraan bermotor hingga berbagai pakaian pria dan wanita tentu kita sebagai calon pembeli tidak akan tertarik membeli di tempat itu. Karena terkesan kurang fokus dan inkonsisten. Maka bagi kita generasi millennial wajib hukumnya untuk tahu caranya membangun reputasi personal branding di media sosial. Tidak hanya sebagai tempat berjualan, tetapi juga bisa kita gunakan untuk mengetahui pemimpin yang paling baik dan cocok untuk memimpin negeri ini. Tentu didasari dengan personal branding yang beliau-beliau gunakan. Apakah mengacu pada program-program yang membangun, atau justru hanya sebagai huru-hara dalam pemilu tahunan.

Cara melihat karakter pemimpin kita melalui personal brandingnya di sosial media sangatlah mudah kok. Bisa kita lihat dari postingan-postingannya yang menunjukkan sisi ceria, tegas, sabar atau karakter-karakter lain. Seperti halnya calon pemimpin yang kebanyakan mengajak masyarakat kearah positif atau hanya sekedar mencaci maki paslon lain, memberikan solusi terhadap permasalahan atau hanya sekedar janji, memiliki kepekaan sosial atau hanya sekedar membanggakan dirinya sendiri. Tentu banyak cara yang bisa kita lihat dari perspektif dan sudut pandang kita masing-masing. Apalagi personal branding ini secara tidak langsung memperlihatkan kepribadian calon tersebut. Lalu muncul pertanyaan, “apakah sepenuhnya bisa kita lihat dari postingan-postingannya saja di media sosial? Padahal ada juga pemimpin tersebut yang menyerahkan media sosial kepada manajemennya. Sehingga bisa jadi tidak otentik/asli dari pemiliknya.

B. Cara Ampuh Menilai Karakteristik Seseorang melalui Personal Branding

Tentu personal personal branding tak hanya sebatas di sosial media saja, tetapi juga bisa kita lihat dari kesehariannya. Keseharian seperti apa? Yakni kita bisa lihat mulai dari cara mereka bersikap terhadap isu sosial yang berkembang, cara pandang dan kebijakan yang bisa mereka lakukan terhadap permasalahan, atau juga bisa kita lihat dari kedekatannya bersama masyarakat. Lalu muncul pertanyaan lagi, “ Kalau di kesehariannya juga kita sulit melihat sikap para calon pemimpin itu bagaimana?” Nah kalau di kesehariannya saja kita sulit melihat sikap para calon pemimpin kita, perlu dipertanyakan kembali “apakah mereka tak ingin menjalin kedekatan dengan rakyatnya? Apakah mereka akan menyelesaikan permasalahan rakyatnya hanya dengan keputusan dibelakang meja saja”. Padahal pemimpin sudah seharusnya tahu penderitaan rakyat dan bahkan kalau bisa mencium bau keringat kerja keras rakyatnya.

Manusia jangka pendek ngomongin politik. Manusia jangka menengah ngomongin IPTEK. Manusia jangka panjang ngomongin CINTA” Sujiwo Tedjo

Walaupun yang tercermin di sosial media tidak sepenuhnya dapat dijadikan patokan utama dalam penggambaran karakter seseorang secara utuh. Dalam ilmu psikologi, membaca karakter dilakukan dengan metode kombinasi antara observasi, tes psikologi, dan wawancara. Hal tersebut dilakukan guna meminimalisasi tingkat kesalahan terhadap hasil analisa. Membaca karakter ini dapat kita lihat dari aktivitas menuliskan status, berkomentar, memberikan like, daftar following dan followers hingga cara mengunggah foto. Tentu mengenali karakter seseorang dalam hal ini adalah pemimpin. Dimana mengenali lewat media sosial bisa dibilang susah-susah gampang. Gampang karena bisa dilakukan tanpa sang bersangkutan tahu, sulit karena kita juga harus jeli dalam mengobservasi tiap perilaku yang ditampilkan. Sebab media sosial sangat rawan dengan Faking Good, yaitu apa yang ditampilkan berbanding terbalik dengan karakter aslinya. Oleh karena itu perlu waktu dan observasi yang lebih dalam lagi untuk bisa tahu lebih jauh tentang karakter seseorang. Jika perlu kita lakukan wawancara secara langsung baik melalui email, DM, komen atau di suatu pertemuan.

Membaca karakter melalui personal branding ini sangat penting bagi kita untuk tahu dan mengantisipasi kepercayaan yang berlebihan kepada seseorang apabila nantinya orang tersebut ternyata tidak melakukan apa yang dia janjikan. Hal ini juga penting bagi kita untuk menimbulkan kepekaan insting bersosial media dan menjalin hubungan dengan orang yang baru dikenal. Apalagi dalam lingkungan baru kita pasti akan melihat orang-orang yang lebih banyak menunjukkan sisi positifnya ketimbang sisi negatifnya. Seperti halnya dalam memilih pemimpin dalam masa kampanye kemarin, kita pasti akan cenderung melihat sisi positifnya saja. Apalagi pendukung atau tim suksesnya yang melebih-lebihkan sifat kepahlawanan calon pemimpin tersebut. Maka dari itu, saringlah sebelum sharing dan pastikan betul-betul!

“Berbuih-buih mbahas politik di sosmed, tapi bersosialisasi sama tetangga gak pernah.. Bangun bos, mimpimu kejauhan!”

Yoram Bachrack, dkk pada tahun 2012 dalam penelitian yang berjudul Personality and Patterns of Facebook Usage yang telah dipresentasikan dalam Assosiation for The Advancement of Artificial Intelligence (AAAI) memperlihatkan bahwa kepribadian seseorang dapat berkorelasi dengan pola penggunaan sosial media. Sehingga karakter dan kepribadian seseorang dapat tergambar dari perilaku di media sosial. Adapun cara-cara yang bisa kita aplikasikan untuk membaca dan mengetahui karakter seseorang khususnya melalui media sosial adalah :

1. Mengetahui Karakter Seseorang dari Foto Profil

Hal yang dapat kita ketahui dari foto profil sangatlah banyak parameternya, khususnya dari warna, ekspresi dan latar yang digunakan. Seperti contoh orang yang sering memasang profil gelap, tidak artistik, dan jarang memunculkan wajahnya terlihat cenderung mudah cemas, dan banyak menyimpan emosi negatif. Sedangkan seseorang yang selalu menampilkan foto tersenyum, ia berarti ramah, bersahabat dan ulet. Jika yang ditampilkan adalah mata yang selalu melihat ke samping, ia berarti berpendirian teguh, keras kepala dan percaya diri. Jika berfoto bersama teman-temannya, kerabat dan sahabat berarti dia termasuk orang yang setia kawan, dan mudah bergaul.

2. Mengetahui Karakter Seseorang dari Status atau Caption

Dari segi status dan konten yang ditulis juga menggambarkan karakter seseorang. Seperti orang ekstrovert yang mudah bergaul dan terbuka biasanya senang berinteraksi baik dalam hal memposting, like dan komentar hal yang berhubungan dengan pengguna media sosial lainnya. Sedangkan introvert yakni orang yang tertutup terhadap siapapun cenderung kurang senang berkomunikasi dan update status di sosial media. Sebagian besar mereka lebih memilih sahabat yang dikenalnya dan sahabat terdekatnya saja. Dan tipe selanjutnya adalah pencemas. Mereka memiliki kebiasaan meng-update status yang berisi kekhawatiran kejadian yang ia takuti. Ada juga yang termasuk orang bijak, dimana beberapa yang diposting di media sosial cenderung pencitraan, seperti menceritakan kisah hidup inspirasi, motivasi dan beberapa ilmu pengetahuan yang berguna. Dan adapun quotes yang ditampilkan biasanya mengacu pada sumber lain yang mewakili perasaanya sebagai sindiran atau satir.

3. Mengetahui Karakter Seseorang dari Pekerjaan yang digeluti

Hal ini juga merupakan bagian dari personal branding. Kita bisa mengetahui seseorang juga dari apa yang menjadi rutinitas pekerjaannya. Seperti penulis yang selalu memposting karya-karyanya, gagasannya, gathering bersama penggemar atau bahkan jualan bukunya. Seperti halnya calon presiden atau calon anggota dewan yang pasti lebih sering menunjukkan rasa simpatiknya terhadap keluhan rakyatnya, kebersamaanya bersama rakyat ketika kampanye, gagasan-gagasan yang bisa diberikan atau bahkan kritikan terhadap sistem pemerintahan yang sedang berjalan.

4. Mengetahui Karakter Seseorang dari Komentar Postingan Sendiri atau Orang lain

Sebuah platform dikatakan sebagai sosial media sosial jika memiliki fungsi interaktif. Sehingga terkadang untuk menaikkan engagement atau memperluas konten yang kita miliki biasanya para pembuat konten haruslah aktif mengajak followersnya untuk berinteraksi dengan dia. Baik likes, comment, follow. Sehingga kegitan interaksi ini bisa jadi fungsi menilai karakter seseorang. Karena bisa saja status / captionnya yang menjiplak dari caption orang lain sehingga terlihat bijak, namun pada saat berkomentar malah memancing perdebatan hingga menimbulkan kontroversi.

Sehingga kita bisa dapat melihat orang tersebut dari komentarnya di postingan sendiri. Orang yang ramah akan terlihat dari keaktifan membalas komentar yang relevan dengan caption / gambar yang diposting. Kalo orang kritis, ia akan terlihat dari keingintahuan dia terhadap komentar yang bersifat menuduh, memfitnah dirinya. Sedangkan orang yang hanya mencari perhatian saja akan terlihat dari komentarnya yang tidak ada kaitannya dengan caption bahkan hanya memancingmancing orang untuk terus berkomentar tanpa isi yang jelas. Apalagi ketika orang tersebut juga aktif berkomentar di postingan orang lain tentu akan semakin terlihat jelas karakter orang tersebut.

“Gara-gara pilpres ini orang se-Republik sibuk jungkir balik jadi sales agama, tapi kantor Menteri agama di segel KPK”

C. Media Sosial dan Penggunaannya di Indonesia

Sosial media di Indonesia adalah termasuk yang terbesar di dunia, kurang lebih 150 juta jiwa. Hal ini menjadikan media sosial bukan lagi sebagai media komunikasi semata, melainkan menjadi gaya hidup. Bayangkan saja, hampir semua bisa dilakukan di media sosial. Mulai dari jual beli barang atau properti, mencari lowongan kerja, belajar ilmu-ilmu pengetahuan, hiburan, mencari orang atau barang yang hilang, meminta saran dan pendapat, dll. Hampir semua transaksi bisa dilakukan melalui media sosial. Cukup mengetik dilayar smartphone semua akan tertampil dan terkirim dengan mudahnya. Mulai dari obrolan tidak penting hingga transaksi bisnis yang bernilai jutaan bahkan milyaran juga bisa dilakukan di media sosial. Sehingga tak sulit anak millennial saat ini menjadi popular dan mendapatkan uang dari media sosial. Karena begitu mudahnya dan semua orang bisa mencitrakan dirinya sesuai personal brandingnya masing-masing.

Tak hanya anak muda, orang tua pun bisa juga menjelma menjadi generasi melek sosmed kekinian di berbagai media sosial. Awalnya hanya anak generasi Y dan Z yang mendominasi, kini generasi baby boomers pun ikut-ikutan popular di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa sosmed bukan lagi alat, melainkan kebutuhan gaya hidup. Sebab jika kita tak mengikuti arus perkembangan jaman, kita akan hancur dan tenggelam ditelan jaman itu sendiri.

“Media Sosial bukan lagi menjadi kebutuhan tambahan, tetapi sudah menjadi candu”

Media sosial merupakan representasi setiap penggunanya. Hal itu tergambar dari profil, aktivitas, relasi, dan caption yang telah mereka tulis. Sehingga platform ini sangat berguna bagi mereka yang ingin berbagi ide, gagasan, saran, pandangan, dan ajakan. Dan akan memudahkan mereka dalam menunjukkan aktifitas sosial ini. Namun disisi lain jika orang tersebut kurang paham betul dan tidak memenuhi kaidah beraktifitas dalam media sosial, justru akan menghancurkan citra diri dan nama baiknya. Maka perlu beberapa hal yang menjadi point penting dalam sebuah media sosial untuk dapat membangun personal branding yang baik. Yakni diantaranya :

1. Adanya partisipasi yang positif

2. Adanya keterbukaan dan tranparansi

3. Adanya percakapan yang membangun

4. Adanya komunitas yang mendukung

5. Adanya koneksi yang sevisi

Kelima point tersebut akan membentuk pola komunikasi yang baik antar berbagai pihak. Dan dari partisipasi tersebut akan tercipta personal branding yang baik dalam diri anda. Dan hal yang harus terus dilakukan adalah konsistensi dalam membangun personal branding yang ingin dicapai. Karena akan memperlihatkan keseriusan dan kemantapan diri untuk menunjukkan sisi-sisi yang menjadi pemikiran, karya dan kebaikan yang ingin ditunjukkan kepada audiens.

Apalagi percakapan intens yang dibangun memiliki visi yang sama dan akhirnya menciptakan sebuah wadah komunitas di media sosial. Komunitas tersebut akhirnya menciptakan kondisi saling terkoneksi antara sesama anggota komunitas. Dan setiap obrolan atau pembahasan seseorang itu akan menjadi kepercayaan dan citra diri yang kuat. Hal inilah yang sering kita kenal dengan tren. Siapapun yang mengikuti tren, akhirnya membuat sebagian dari pengguna sosial mengalami perasaan diterima di lingkungan sosialnya.

“Jadilah pembuat tren, bukan orang yang mengikuti dan bergonta-ganti tren”

|Arkastra Bhrevijana (@bhrearka) - Founder Anak Teknik Indonesia (@anakteknikindo)|

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

arka

Surabaya - Kupang

“#SuccessBefore30”