Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

PLN Surplus Daya! Tapi Konsumsi Listrik di Indonesia Kurang, Bahkan Terendah di Asia ?

Bisnis kelistrikan mengalami perkembangan yang sangat luar biasa. Sebanding dengan kemajuan teknologi dan kebutuhan warganya. Namun tahukah bahwa Indonesia adalah negara dengan kebutuhan listrik terendah di asia?

Perlu diketahui bersama sobat, bahwa akses terhadap listrik adalah kunci untuk mengurangi kemiskinan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di suatu kawasan. Ini bukan hanya berlaku di Indonesia, tapi juga di seluruh belahan dunia. Tercantum jelas dalam inisiatif global Sustainable Energy For All pada September 2011 yang memasukkan akses universal untuk layanan energi modern sebagai salah satu komitmen yang harus dipenuhi oleh setiap negara.

Komitmen ini kemudian diadopsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan masuk sebagai salah satu 17 program Sustainable Development Goals. Untuk pembangunan yang berkelanjutan (sustainable), listrik dan pelayanan energi modern lainnya harus bisa dinikmati oleh semua penduduk di dunia pada 2030.

Indonesia yang saat itu defisit listrik, asumsi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pembangkit yang malfungsi, laju pertumbuhan penduduk begitu cepat, konsumsi BBM untuk pembangkit yang masih besar, segala hal inilah yang akhirnya mendorong Presiden Joko Widodo mencetuskan program 35.000 MW pada Mei 2015. Keputusan yang wajar jika melihat kondisi kelistrikan yang terjadi saat itu. Segala upaya dilakukan pemerintah untuk mengentaskan kekhawatiran defisit listrik di masa depan. Namun walaupun saat ini Indonesia sudah dikatakan surplus listrik yang mencapai  95%, dan kapasitas listrik terpasang sudah mencapai 60 Gigawatt (GW). Jauh tertinggal dari China yang mencapai 1.600 GW. Konsumsi listrik per kapita Indonesia merupakan salah satu yang terendah di Asia, yakni 811,90 KwH per Kapita.

Dibanding negara-negara ASEAN saja nih, konsumsi per kapita Indonesia berada di urutan ke-6 di bawah Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.  Dibandingkan dengan negara-negara lainnya di Asia, seperti China (3.927,04 KwH/kapita), Jepang (7.819,71 KwH/kapita), Korea Selatan (10.496,51 KwH/kapita), Arab Saudi (9.444,22 KwH/kapita), dan Hong Kong (6.083 KwH/ kapita). Lalu Indonesia ? Masih tertinggal jauh !!!!

Konsumsi listrik per kapita Indonesia dulu dikisaran 800-an KwH hampir sama dengan India (805,6 KwH/kapita), dan tipis saja di atas rata-rata konsumsi listrik negara Lower Middle Income.  Namun secara time series, konsumsi listrik per kapita Indonesia mengindikasikan pertumbuhan yang konsisten positif dari tahun ke tahun, meski melambat pada 2014 (4,99%) dibandingkan dengan periode 2010-2012 yang tumbuh di atas 7%. Selain itu, menurut data terbaru dari PLN, konsumsi listrik per kapita Indonesia berada di angka 994 kilowatt hour (Kwh). Angka ini jauh lebih rendah dari Malaysia yang mencapai 4.500 Kwh per kapita pada 2014 dan China 2.500 Kwh per kapita.

Padahal, menurut Anggota Dewan Energi Nasional Tumiran bahwa " Terdapat korelasi yang kuat antara konsumsi listrik per kapita dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Semakin tinggi konsumsi semakin cepat pula pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan target pembangunan sosial suatu negara."  Selain itu juga perlu diingat beberapa wilayah yang tercatat defisit pasokan energinya masih berstatus tambal-an sementara dengan kapal-kapal pembangkit. Untuk itu, dilihat dari sisi kebutuhan listrik dan kondisi di atas proyek 35 ribu MW masih sangat krusial untuk dilaksanakan. Ini jika pemerintah ingin mencapai kedaulatan energi yang hakiki di mana tidak berpusat pada pasokan listrik saja, tapi juga sumber energi yang lebih ramah dan tidak tergantung dari impor, tarif yang terjangkau, dan tentunya daya tahan dari energi tersebut.

sumber : jurnal FOKUS,  CNN, Kompas

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

arka

Surabaya - Kupang

“#SuccessBefore30”