Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Damar Canggih Wicaksono, Putra Dono Warkop Yang Jadi Ahli Nuklir

Siapa sangka pria berkacamata yang bernama Damar Canggih Wicaksono merupakan ahli nuklir adalah putra dari almarhum Dono Warkop. Keberhasilannya membuat orang kagum.

Pastinya kalian kenal dengan Dono Warkop, pelawak dan aktor yang terkenal. Dono Warkop bukan hanya sekedar aktor dan pelawak, beliau juga merupakan seorang dosen di fakultas ilmu sosial dan politik Universitas Indonesia namun, sayangnya ia telah wafat karena kanker paru-paru pada tangga 30 september 2001 dan istrinya Titi Kusumawardhani telah wafat lebih dulu pada tanggal 14 Agustus 1999 karena kanker payudara.  Semenjak menjadi yatim piatu, ketiga anak mereka dirawat oleh nenek serta paman dan bibinya. Ketika itu masing-masing masih berusia 21 tahun, 15 tahun, dan 9 tahun. Mereka kompak saling dukung satu sama lain hingga bisa menempuh pendidikan tinggi.

Damar Canggih yang merupakan putra kedua dari almarhum Dono  dikenal sebagai orang yang pendiam dan agak nyentrik. "Waktu kecil dan remaja hobinya kayaknya baca deh, dan setiap kali belajar suka pakai senter. Jadi lampu dia matiin dan bukunya dia senter. Kalau ditegur bapaknya, alasannya biar fokus. Tapi akhirnya ya memang jadi anak yang jenius," ungkap Indro Warkop. Sejak kecil Damar merupakan sosok yang dianggap kutu buku. Rasa keingintahuannya sangat besar, terutama di bidang ilmu pengetahuan alam. Meski pendiam, Damar selalu belajar lebih keras dibanding kakak maupun adiknya. Beberapa hal eksentrik yang diingat oleh adiknya adalah ketika Damar duduk di bangku SMA, ia kerap mencatat rumus-rumus matematika dengan menggunakan kapur di lemari pakaiannya. Hal ini dilakukannya agar selalu ingat dengan rumus tersebut.

Nggak hanya soal karakter dan kebiasaan saja, Damar pun memiliki preferensi yang berbeda terkait jurusan perkuliahan. Kakaknya, Andika Aria Sena, adalah seorang lulusan sarjana Broadcast UI dan kini bekerja di salah satu televisi swasta. Sedangkan si bungsu, Satrio Sarwo Trengginas, kini menjadi seorang reporter majalah anak setelah lulus dari Sastra Belanda UI. Keduanya sama-sama mengambil jurusan sosial dan bekerja di ranah media. Lain halnya dengan Damar yang lebih memilih UGM sebagai almamaternya pada 2004 silam. Jurusan yang ia sasar juga nggak main-main. Damar berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana di jurusan Teknik Nuklir pada tahun 2009 dengan predikat cum laude. Setahun setelahnya, ia mendapat kesempatan untuk melanjutkan S2 di Swiss dan berhasil lulus pada tahun 2012 dengan mengantongi gelar summa cum laude dari Institut Teknologi Federal di Swiss atau ETHZ dan Ecole Polytechnique Federale de Lausanne(EPLF). Kedua institut ini bergabung dalam Institut Teknologi Konfederasi Swiss (ETH). Selepas kelulusannya meraih gelar master, Damar nggak berhenti dan puas sampai di situ saja. Nggak tanggung-tanggung, ia lantas melanjutkan studi S3 nya untuk menjadi seorang ahli nuklir di kampus yang sama di usianya yang tergolong muda.

Dengan segudang prestasi yang berhasil diraih Damar hingga saat ini, ia hanya ingin meneruskan jejak ayahnya sebagai seorang dosen. Keinginan Damar sejalan dengan akar keluarga Dono selama ini yang berada di lingkungan akademisi. Ketika ditanya soal pekerjaan apa yang ingin ia lakoni kelak, Damar menjawab bahwa ia hanya ingin jadi dosen dan melakukan penelitian. Dunia pendidikan dan penelitian yang cukup mulia rupanya lebih menarik perhatiannya daripada harus terjun ke dunia hiburan. Kesempatannya untuk meneruskan kuliah hingga ke jenjang yang seperti sekarang ini ia dapatkan melalui perjuangan yang panjang tanpa kedua orang tuanya sejak usia 15 tahun. Semangat ketiganya mengingatkan kita pada almarhum Dono Warkop. Tidakkah semangatmu juga sebesar mereka??

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Dhea Gultom

Politeknik Negeri Medan

Medan

“do what you love and love what you do”