Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Mengapa Kita Harus Pro-PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) ?

Ingar bingar untuk menolak pembangunan PLTN kembali muncul ke permukaan. Banyak masyarakat yang tidak menerima nuklir sebagai energi alternatif dengan alasan beresiko tinggi.

Nuklir ? mendengar kata nuklir saja biasanya masyarakat langsung berfikir mengenai hal-hal negatif tentang nuklir apalagi kalau dijadikan menjadi pembangkit listrik di Indonesia. Banyak masyarakat mendesak pemerintah membatalkan PLTN dengan berbagai alasan. Misalnya, resiko terlalu tinggi, tidak ada urgensinya dan masih banyak energi alternatif yang ramah lingkungan.

PLTN telah mendunia pada saat ini. Jumlah negara yang telah menggunakan PLTN mencapai lebih dari 30 negara dan tidak hanya terbatas pada negara maju saja, melainkan juga telah dan akan menjadi sumber energi pembangkit listrik utama di negara Asia (Jepang, Korea Selatan, Vietnam, India, Thailand dan lain-lain).

Oleh karena itu mengapa kita terus saja mengatakan PLTN beresiko terlalu tinggi di Indonesia, jika di negara sekelas India dan Vietnam, PLTN mendapat tempat yang layak guys?. Bahkan berbagai literatur menjelaskan bahwa nuklir adalah energi bersih dan efisien juga telah banyak dipublikasikan. Fakta juga membuktikan bahwa penggunaan nuklir dalam pembangkit listrik relatif lebih murah  dibandingkan sumber energi non nuklir. Yang mahal dalam pembangunan PLTN hanya biaya awal pembangunannya guys.

Memang PLTN belum atau tidak urgen. Sebaliknya jika hitungannya berdasarkan kebutuhan ekonomi jangka menengah dan panjang, mengapa harus memaksa menyatakan PLTN tidak urgen. Apalagi, berbagai ketidaktentuan ekonomi dalam penyediaan sumber energi saat ini dan mendatang tengah berlangsung. Belum lagi jika kita menyoal tentang dampak lingkungannya yang mengerikan jika kita hanya bergantung hanya pada energi fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas alam). Mestinya upaya untuk “sedia payung sebelum hujan” dalam bidang energi yang dilakukan pemerintah patut dihargai. Sayangnya kita masih saja berkutat dengan argumentasi yang out of date. Padahal perkembangan teknologi PLTN sudah semakin canggih dalam keamanan dan keselamatan. Tentu siapa pun boleh-boleh saja khawatir terhadap resiko PLTN tapi jangan sampai harus membayar mahal di masa yg akan datang untuk membuat keputusan yang tidak tepat.

Padahal, menurut Nasir (ahli bidang nuklir), secara hitung-hitungan tenaga nuklir merupakan salah satu sumber daya penghasil listrik yang murah. Sebagai perbandingan pembangkit listrik tenaga nuklir dengan batu bara. Pembangkit listrik dengan batu bara menghasilkan listrik seharga 11-12 sen per kwh.  "Kalau ditambah risiko kerusakan alam akibat polusi menjadi 32 sen per kwh," kata Nasir.  Sedangkan pembangkit listrik tenaga nuklir seharga 3,9-4,4 sen per kwh. Angka tersebut sudah termasuk risiko polusinya. Alhasil, Nasir meminta Batan dan ilmuwan nuklir melakukan sosialisasi penggunaan tenaga nuklir. Caranya, dengan mengoptimalkan produksi listrik dari PLTN mini milik Batan. Selanjutnya tenaga listrik yang dihasilkan bisa dijual ke PLN dan disalurkan ke masyarakat. "Biar masyarakat merasakan langsung listrik dari nuklir tersebut, semacam sosialisasi langsung. Kalau (optimalisasi PLTN mini) gagal, ya tinggal ditutup saja, kan fasilitasnya masih kecil." Jika berhasil, Nasir akan meminta Batan dan pihak-pihak terkait membuat laboratorium PLTN mini serupa ke berbagai daerah. Tujuannya agar sosialisasi tenaga nuklir bisa dirasakan masyarakat banyak. Soal risiko kerusakan reaktor nuklir mini tersebut, Nasir mengatakan bahwa peneliti Batan berani menjamin keamanannya.

Maka dari itu menurut aku sendiri, pemerintah juga perlu menyosialisasikan dan mengedukasi PLTN pada masyarakat. Pemerintah penting untuk menetapkan kebijakan berupa penyediaan fasilitas sosial ataupun pemberian subsidi tarif listrik kepada masyarakat di lokasi PLTN. Tanpa langkah-langkah yang disebut tadi, sulit bagi kita mewujudkan pembangunan PLTN disini.

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Dhea Gultom

Politeknik Negeri Medan

Medan

“do what you love and love what you do”