Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Mudik VS Pulang Kampung

Beberapa waktu lalu ada jawaban yang dilontarkan oleh Bapak Presiden kita Jokowi kepada mbak Najwa Shihab di acara Mata Najwa mengenai perbedaan mudik dan pulang kampung, kok bisa beda sih? bukannya di KBBI itu mudik sama artinya dengan pulang kampung?

Pak Presiden bilang mudik dan pulang kampung itu beda, KBBI atau ahli bahasa gak bisa nyela. Awalnya aku juga bingung pas nonton loh kok malah pakde bilangnya mudik dan pulang kampung beda ya, malah sampai banyak masyarakat bilang pakde ngawur dalam menjawabnya.

Ya secara umum dua-duanya artinya sama sih ya sama-sama menuju ke kampung dan sama-sama kangen rumah. Tapi setelah ku pikir-pikir gaes ada juga sih perbedaannya. Berikut perbedaannya:

1. Mudik bawa Khong Guan, Pulang Kampung bawa perut kosong

Jadi di Indonesia biasanya jika hari raya apapun dan ketika kita mau berkumpul bersama keluarga kita gak pernah bilang "mau pulkam" yang ada pasti kita bilang mau mudik. Nah ketika mudik pasti kita bawa roti khong guan dong ya hehe atau makanan lain untuk oleh-oleh, sedangkan pulang kampung itu ya kita datang kerumah dan gak pas hari raya biasanya, dan itu pun gak ada namanya bawa oleh-oleh, yang ada ibu kita dirumah udah siapin makanan buat menyambut kita yang datang dari kampung. Kita cuma modal perut kosong ke rumah hehe...

2. Mudik bawa THR, Pulang Kampung bawa dompet tipis

Kalau mudik pasti bagi yang sudah bekerja tau rasanya membagi-bagi THR ke keluarga, beli sepatu, beli baju dan lain-lain sampai isi dompet ludes. Kalau pulang kampung mah boro-boro bicara THR, yang ada orang tua udah nyediain beras, tempe, ikan kering karena dia takut anaknya kelaparan. Ortu paling ngerti mah isi dompet anaknya.

3. Mudik minum sirup kurnia, Pulang Kampung minum ngopi dan nge-teh

Mudik identik juga dengan kuliner atau minuman loh, coba aja liat kalau kamu mudik pasti minumannya bermacam-macam, mulai dari sirup, es doger, es tsunami lah, sop buah lah dan lain-lain. Kalau pulang kampung ya paling seperti kegiatan biasa, kalau pengen minum sesuatu paling ngopi atau nge-teh bareng ibu atau bapak.

Sebenernya mudik dan pulang kampung sih hampir sama resiko nya ya sama-sama punya kemungkinan kita membawa virus ke keluarga kita. Makanya ya selagi gak terpaksa banget kalau bisa jangan balik ke kampung deh. Kecuali kalau memang mendadak .

Tapi mungkin disini yang dimaksud Pak Jokowi mudik itu ya misalnya kita tinggal di suatu kota lalu pergi ke kampung dalam rangka hari raya lalu pada waktu tertentu balik lagi ke kota untuk melanjutkan kegiatan.

Sedangkan pulang kampung ya biasanya pada hari biasa dilakukan dan itu dilakukan untuk orang yang sudah tak bisa bekerja di kota tempatnya bekerja sehingga menetap di kampung untuk berkumpul bersama anak, ibu, bapak, istri atau suaminya. Kenapa diizinkan pulang kampung? karena jika menetap di kota pun dalam keadaan yang gak bisa bekerja ya sama aja, daripada dia di kota tidak bekerja mending balik ke kampung bersama keluarga atau bisa saja melakukan sesuatu seperti bertani di kampung yang bisa menghasilkan uang.

Yawes sih daripada kita perdebatin arti mudik dan pulang kampung, intinya tetap #dirumahaja kalau memang gak mendadak banget.

Dari beberapa pernyataan itu sih mungkin ada pro dan kontra. Tapi dari arti pulang kampung yang disebutkan tadi, kita bisa tau gak ada yang bisa menjamin semua orang mendapat bantuan atau bantuan secara merata. Maka dari itu diperlukan kerja sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam menanganinya. Misalnya bantuan dari pemerintah 600 ribu/bulan yang berupa sembako, eh nyampe di tangan masyarakat cuma 200 rebuan, jangan sampai begitu ya. Apapun yang dilakukan pemerintah mari kiranya ya kita doakan supaya mereka bijak, jujur, adil dan mengayomi ke masyarakatnya dalam menghadapi pandemic ini.

Gapapa dong ya sekarang kangennya dilampiasin dari video call atau telpon dulu, daripada keluarga kita kenapa-napa karena kita yang kemungkinan membawa virus...

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Dhea Gultom

Politeknik Negeri Medan

Medan

“do what you love and love what you do”