Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Senang Selepas Wisuda Boleh Tapi Jangan Berlebihan. Setelahnya Kamu Akan Dihadapkan Pada Perjuangan Sebenarnya

Apa kabar para pejuang skripsi? Sudahkah kamu merasakan momen-momen menyebalkan yang sering menghambat perjuanganmu? Sudah mulai emosi karena dosen pembimbingmu kurang peduli? Atau kamu sudah merasakan petaka akhir dunia bagi skripsi-ers, alias laptop rusak dan hasil kerjamu berjam-jam sampai berhari-hari lenyap? Mungkin saat ini kamu sedang merapal sumpah serapah, sekaligus merapal doa agar skripsi ini segera berlalu hingga kamu bisa memakai toga dan melenggang menuju panggung wisuda.

Kamu yang telah berhasil melalui skripsi merasa halangan terberat hidupmu telah terlampaui. Padahal belum juga. Setelah skripsi berlalu, dan setelah kamu melepas togamu, kamu akan memasuki dunia baru yang barangkali lebih berdarah-darah dibandingin perjuangan mengerjakan skripsi. Pada saat itu, bisa jadi kamu malah merindukan masa-masa saat permasalahanmu hanyalah revisi skripsi dan dosen pembimbing yang nggak balas SMSmu.

1. Euforia bahagia saat melihat skripsi dicetak itu hanya sementara, ujian sesungguhnya sudah di depan mata

Membayangkan skripsimu dicetak dengan hard cover dan sampulnya ditulis dengan tinta emas pasti membuat perasaan haru guys. Apalagi saat kamu dengan balutan toga naik ke panggung, bersalaman dengan rektor, lalu berfoto bersama keluarga dan teman-teman. Saat itu kamu bisa merasa lega dan juga bangga karena perjuanganmu selama ini nggak sia-sia. Tapi euforia bahagia itu nggak akan bertahan lama. Cepat atau lambat, kamu akan menyadari bahwa tanggung jawabmu tidak berkurang setelah skripsimu tamat, tapi justru bertambah besar.

2. Selanjutnya setelah toga dilepas, perihal mencari kerja adalah problematika utama

Tantangan pertama setelah lulus kuliah, tentulah persoalan mencari kerja. Ini bisa menjadi tantangan pertama yang akan sangat menyiksa. Bagaimanapun juga, selain untuk mendapatkan ilmu, kuliahmu selama tiga tahun, empat tahun atau lebih dipersiapkan untuk mencari kerja. Orang tuamu pasti juga mengharapkan kamu bisa segera punya penghasilan, makin bagus jika bisa membantu perekonomian keluarga. Apalagi kalau kamu anak pertama pasti harapan ortu besar banget buat kamu bantu adik-adik kamu. Nah untuk mendapatkan pekerjaan saingan kamu bukan hanya ratusan atau ribuan tapi jutaan.  Menentukan kerja yang kamu inginkan pun tidak mudah. Kadang kamu harus realistis, lowongan pekerjaan yang tersedia nggak sesuai dengan passion dan keinginanmu, sementara bidang yang kamu inginkan nggak ada lowongan. Di saat ini, kamu juga harus mempertimbangkan banyak hal saat menerima sebuah tawaran pekerjaan. Mulai dari akomodasi, gaji, sampai jenjang karir yang dimungkinkan.

3. Kamu akan dihadapkan pada dunia yang akan menguji ilmu-ilmu yang sudah kamu dapat di bangku kuliah

Siapa bilang setelah lulus kuliah kamu kewajibanmu untuk belajar juga berhenti? Kamu mungkin senang karena setelah ini kamu nggak lagi harus mengulik-ulik teori yang bahkan selama kuliah nggak pernah kamu mengerti. Kamu juga nggak harus mengerjakan tugas-tugas yang menggunung dan presentasi yang menegangkan. Salah. Justru setelah kuliah, ilmu-ilmu yang kamu dapatkan di bangku kuliah akan diuji. Baik ilmu di bidang akademik, maupun softskill yang kamu dapatkan.

4. Bebanmu justru semakin berat, saat kamu sadar bahwa sudah saatnya kamu membahagiakan orang tua

Dulu saat kamu masih kecil hingga kuliah, orangtuamu sudah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanmu. Mereka memastikan bahwa fasilitasmu terpenuhi sehingga proses belajarmu juga maksimal. Saat akhirnya kamu menyelesaikan kuliah dan sudah bisa mencari penghasilan sendiri, tentu muncul keinginanmu untuk gantian membahagiakan orangtua. Meski kasih orangtua nggak mungkin bisa kamu balas, dan orang tuamu cukup bahagia hanya dengan melihat hidupmu baik-baik saja, kamu tetap ingin memberikan ini itu kepada orangtuamu.

5. Pekerjaan juga nggak semudah saat kamu menulis skripsi. Atasanmu bisa lebih galak daripada dosen pembimbing paling kejam sekalipun

Kamu yang sering mengeluh selama mengerjakan skripsi dan ngomel-ngomel saat harus revisi di sana-sini, mulai sekarang berhentilah mengeluh. Persoalan revisi nggak hanya hadir di skripsi. Nanti kalau kamu sudah kerja, atasan dan klienmu bisa memaksamu revisi berkali-kali. Atasanmu juga bisa lebih galak dari penguji di ruang sidang dan lebih menyebalkan dari dosen pembimbing yang membatalkan jadwal. Skripsi adalah tanggung jawabmu, yang jika kamu gagal atau malas-malasan, efeknya hanya terjadi padamu. Yang akan marah paling orang tuamu karena kamu nggak lulus-lulus. Berbeda dengan dunia kerja. Apa yang menjadi tanggung jawabmu akan mempengaruhi semua bidang jika kamu malas-malasan. Yang akan marah bisa mulai rekan sedivisi, atasan, sampai klien. Banyak.

6. Hingga akhirnya kamu sadar bahwa perjuanganmu mengejar dosen, revisi berkali-kali, sampai dibantai di ruang sidang, hanya seujung kuku dari tantangan yang kamu hadapi sekarang

Setelah kamu mengalami itu semua, kini kamu pun sadar. Bahwa halangan dan berbagai momen menyebalkan saat menyusun skripsi masih tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang kamu temui saat ini. Revisi skripsi nggak sebanding dengan revisi kerjaan dari atasan. Dosen pembimbing yang menyebalkan juga ternyata jauh lebih baik hati dari atasanmu sekarang. Tapi setidaknya kamu bersyukur mengalami momen-momen itu, karena bagaimanapun perjuangan mengerjakan skripsi bisa menjadi tahap latihanmu untuk menjalani hidup yang lebih keras lagi.

Karena itu, untuk kamu yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi, pastikan kamu lebih kuat dari semua cobaan yang kamu alami. Karena kehidupan setelah itu, akan jauh lebih menggigit guys.

Selamat wisuda buat kalian yang baru wisuda, congrats guys. Welcome to the real life! Tetap semangat dan berdoa!

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Dhea Gultom

Politeknik Negeri Medan

Medan

“do what you love and love what you do”