Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Fenomena Langit Jambi Memerah, Bagaimana Penjelasan Ilmiahnya?

Beberapa hari lalu kita dikejutkan oleh fenomena langit berwarna merah di Muaro Jambi. Banyak yang bertanya-tanya mengapa hal tersebut terjadi? Untuk menjawabnya, mari simak penjelasan ilmiahnya.

Beberapa hari belakngan kita dikejutkan dengan video yang merekam warna langit Muaro Jambi berwarna merah. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan ilmiah terkait fenomena tersebut.

Informasi tersebut disampaikan melalui akun twitter (@InfoHumasBMKG) pada Minggu (22/9). Bagaimana penjelasan ilmiah terkait fenomena langit merah? Ini dia penjelasan menurut BMKG.

1. Terdapat Titik Panas dan Sebaran Asap yang Tebal di Sekitar Muaro Jambi

Menurut analisis citra satelit Himawari-8 pada tanggal 21 September 2019 terdapat banyak titik panas dan sebaran asap tebak di sekitar Muaro Jambi. Asap dari kebakaran hutan dan lahan ini berbeda dari daerah lain yang mengalami kebakaran.

Muaro Jambi menunjukkan warna putih yang mengindikasikan lapisan asap yang sangat tebal. Yang kemungkinan disebabkan oleh kebakaran lahan atau hutan, terutama pada lahan-laha gambut.

2. Meninjau Langit Merah dengan Teori Fisika Atmosfer

Langit memerah di Jambi dapat dijelaskan jika ditinjau dari teori fisika atmosfer pada panjang gelombang sinar tampak. Langit merah disebabkan adanya hamburan sinar matahari oleh partikel di udara yang berukuran kecil (aerosol). Biasanya dikenal dengan istilah hamburan mie (Mie Scattering).

Kemarin, tengah malam di Jambi tebalnya asap didiukung oleh tingginya konsentrasi debu partikulat polutan berukuran <10 mikron (PM10). Konsenterasi PM10 = 373,9 ug/m^3.

3. Apa itu Mie Scattering?

i terjadi jika diameter aerosol dari polutan di atmosfer sama dengan panjang gelombang dari sinar tampak matahari. Untuk panjang gelombang sinar merah berukuran 0,7 mikrometer.

Berdasarkan data BMKG, konsentrasi debu partiklat polutan berukuran <10 µm. Ini berarti mengindikasikan debu polutan di daerah Jambi dominan berukuran 0,7 µm.

4. Mata Manusia Mampu Melihat Spektrum Visibel

Selain konsetrasi tinggi, sebaran partikel polutan juga tersebar luas untuk dapat membuat langit berwarna merah. Pada dasarnya mata manusia hanya mampu melihat pada spektrum visibel (0,4-0,7 µm). Sedangkan di daerah jambi partikel polutan dominan berukuran 0,7µm dengan begitu manusia yang melihatnya berwarna merah.

5. Bukan Kejadian Pertama Kali

Fenomena langit merah ini bukan peristiwa yang pertama kali. Pada 2015, di Palangkaraya pernah mengalami beberapa kali fenomena langit orange akibat karhutla.

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Doohan Aditya Saputro

STT Adisutjipto

Bekasi

“Work Hard Dream Big”