Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Bagaimana WhatsApp Mengolah Data Pribadimu Menjadi Emas yang Tak Ternilai Harganya?

Dengan jumlah pengguna aktif mencapai 1.5 milliar orang, Whatsapp bukan hanya aplikasi bertukar pesan biasa. Melainkan sebuah aplikasi gandrungan banyak orang dengan segudang fitur luar biasa. Tapi, yang jadi pertanyaan. Bagaimana WhatsApp bisa memperoleh pemasukan (profit), sedangkan kita tahu sendiri WhatsApp tidak berbayar atau menampilkan iklan. Mmm, begini jawabannya...

Gb. 1. Statistik pengguna WhatsApp dari tahun ke tahun.

Intermezzo...

Aplikasi ini agaknya menjadi candu bagi kebanyakan orang.

Liatin aja orang-orang disekelilingmu.

Dari mulai bangun tidur: buka WA, sarapan pagi: sambil balesin si dia lewat WA, berangkat kuliah atau kerja: bikin status di WA.

Yang lagi kuliah bikin status, “Ngampus dulu ya Guys, biar jadi sarjana muda”

Yang kerja, “Semoga lelahku menjadi lilah-Mu” .

Ngaku deh, siapa yang suka begitu?

Gb. 2. Pacaran sama WA 😅

Yaaa, sebenernya boleh-boleh aja sih nyetatus WA kaya gitu. Yang jadi masalah adalah ketika aktivitas apapun itu, dibikinlah status WA.

Contohnya: “Duh perutku mules, pingin boker nih!”

Apa itu pantes?

Coba bayangin, jika temanmu yang lagi makan sambil baca status WA kamu.

Apa iya, masih nafsu makan?

Nah, fenomena-fenomena di atas ngegambarin kalau WhatsApp mendapatkan tempat tersendiri di hati penggunanya.

Termasuk kamu, iya kamu yang lagi baca artikel ini. Hmm, apaansi?

Sebenernya bukan hanya WA aja sih, lihat tuh IG sama FB rame juga dengan status-status netizen.

Bedanya, WhatsApp seperti sudah menjadi sahabat karib, tempat yang pas untuk menuangkan semua isi hati. Baca (curhat)!

WhatsApp juga menjadi tempat yang nyaman buat berkumpunya temen-temen alumni sekolah.

Coba cek dulu deh, ada berapa banyak grub sekolah di akun WA mu?

Pasti bentaran lagi, bakalan rame dengan wacana acara bukber bersama. Eh bukber kan (buka bersama), kenapa masih ditambahin jadi bukber bersama, #LOL.

Bedanya lagi, WhatsApp itu gratis men! Iya gratis.

Nah, inilah yang sebenernya jadi topik pembahasan kali ini. Kenapa WA nggak berbayar, atau seenggaknya nampilin iklan lah di aplikasinya.

Eh tapi, kenapa tadi malah nyrempet ke acara bukber yah?

Hmm, mohon bersabar ini ujian. Semoga bisa sampai bedug magrib puasanya!

Lalu kenapa WhatsApp Messenger tidak berbayar?

Balik ke topik pembahasan.

Sebenernya nih, aplikasi WA yang kita gunakan saat ini dulunya tuh harus bayar sebelum memakai.

Kalau nggak salah, kita harus bayar sekitar 1 $ per tahun (Rp. 14,278.00) untuk kurs saat ini.

Nah, semenjak paman Mark Zuckerberg mengakuisisi menjadi miliknya. Kini WhatsApp pun menjadi bagian dari Facebook.

Dan sejak saat itu, WhatsApp belum mau melakukan monetisasi pada aplikasinya. Tentu WhatsApp punya strategi sendiri dalam memajukan bisnisnya.

Salah satu caranya yaitu dengan itu tadi, menjaring sebanyak-banyaknya pengguna lewat sebuah aplikasi pesan (dengan segala kemudahan dan segudang fitur)

Bayangin aja, kamu..

Nggak perlu submit email, username dan password.

Kamu bisa nikmatin aplikasi ini hanya dengan cara daftarin nomer telepon, dan BOOM kamu sudah bisa nge-chat si dia. Apaansi?

Iya itu adalah salah satu contoh, bagaimana WA bisa menjadikan penggunanya jatuh hati sama aplikasi yang satu ini.

Tentu, efek sampingnya akan terus menguat.

Orang selalu ingin menggunakannya lagi dan lagi.

Nih inilah yang aku bilang di awal, WA menjadikanmu CANDU baginya.

Lalu apa yang terjadi selanjutnya, monetisasi? Bisa jadi.

Bisa aja WA nyisipin iklan pada intastory, seperti terdahulunya yaitu Facebook dan Instagram.

Bisa juga melakukan program berbayar dengan cara berlangganan tiap bulannya.

Kita tak pernah tahu.

Namun, namun, dan namun.

Ada satu hal yang perlu kita ketahui dan analisis lebih dalam.

BIG DATA.

Bagaimana WA mengolah data kamu menjadikannya emas yang sangat bernilai harganya?

Haaaa, WA ngejual kita?

Bukan, bukan. Jangan salah paham dulu.

Mari kita analisis dalam-dalam.

Sebagai bocorannya, WA tidak menjual kamu. Tapi WA menjadikanmu sebagai ladang yang empuk untuk menjual produknya.

Apa itu?

IKLAN. Yah, lagi-lagi iklan.

Tapi serius, kamu bisa cek beranda Facebook dan Instagram-mu.

Perhatikan, ada iklan nggak?

Ada kan? Coba cek lagi, bener ada kan? Masih nggak percaya, ada lho.

Nah, faktanya WA sekarang kan udah jadi miliknya Facebook.

Bukan tidak mungkin jika esok atau lusa kamu dijadikan lahan basah (target pasar) untuk menjual produk-produknya.

Aku beri satu bukti buat kalian, coba deh perhatikan pada waktu kalian scrolling di beranda FB/IG.

Lihat pada kolom teman yang direkomendasikan buat kamu follow. Sedikit banyak pasti ada rekomendasi berdasarkan pada nomor telepon yang ada di kontakmu.

Yah seperti itulah algoritma yang dibikin oleh Paman Mark.

Kamu dijadikan market yang empuk buat produk-produknya.

Di sinilah kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, aplikasi yang gratis sekalipun seperti WA. Fakta di lapangan menunjukkan, “tidak sepenuhnya gratis”.

Dari mana WhatsApp mendapat keuntungan dan (berbayarnya)?

Ya itu tadi, mengolah data yang kamu miliki menjadi emas yang sangat berharga, bahkan bisa jadi tidak ternilai harganya.

Apa boleh buat, inilah yang saat ini sedang terjadi, BIG DATA.

Di mana segala informasi tentang data yang kamu miliki tersimpan rapi dan dapat diakses disegala penjuru dunia.

Nah itulah, informasi sepele namaun sedikit orang yang tau. Semoga bisa menambah wawasanmu ya!

Share, jika bermanfaat!

Sekian, dan ”selamat menunaikan ibadah puasa!” *

*Bagi yang menjalankan

Salam Teknik.

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Kak Yull

“Sharing is a part of my soul”