Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Baterai Nuklir buatan UGM yang memiliki daya tahan hingga 40 tahun

Sebuah tim asal universitas gajah mada tepatnya departemen teknik nuklir dan teknik fisika melakukan percobaan pembuatan prototype dari baterai nuklir yang dijadikan sebagai sumber energy listrik.

Baterai Nuklir buatan UGM yang memiliki daya tahan hingga 40 tahun

Sebuah tim asal universitas gajah mada tepatnya departemen teknik nuklir dan teknik fisika melakukan percobaan pembuatan prototype dari baterai nuklir yang dijadikan sebagai sumber energy listrik. Prototype baterai nuklir yang mereka buat bahkan diperkirakan mempunyai kekuatan daya tahan mencapai 40 tahun loh.

Penelitian yang diketuai oleh Yudi Utomo Imardjoko ini dibiayai oleh bapak Dahlan Iskan selaku mantan menteri BUMN. Namun tidak sepenuhnya dari pengeluaran penelitian dibiayai oleh bapak Dahlan Iskan melainkan hanya pada awalnya saja. selanjutnya pembiayaan penelitian ini dilanjutkan oleh Balitbang Kementrian Pertahanan.

Penelitian baterai nuklir ini dimulai sejak 2017 dan dilakukan oleh 4 orang dosen serta 6 asisten peneliti, hingga saat ini proyek tersebut sudah menimbulkan hasil walaupun dapat dikatakan belum memuaskan.

Yang menjadi kendala pada penelitian baterai nuklir ini adalah bahan baku utamanya yang harus didatangkan jauh-jauh dari negri Rusia. Bahan baku utama tersebut bernama plutonium 238 dengan harga per keeping 12 dolar tapi itu merupakan harga dari negara asalnya, kalau sudah sampai negara Indonesia kita harganya berubah mencapai 8600 dolar per keping. Sebenarnya hal ini bisa dihindari dan tidak lagi jadi kendala namun hal itu bisa terjadi jika negara kita memiliki reactor torium mandiri. kalau sudah punya reactor torium mandiri, tidak perlu repot-repot impor dari Rusia lagi.

Sumber ide penelitian baterai nuklir ini datang dari upaya guna mencari sumber tenaga sekecil mungkin dengan daya tahan selama mungkin. Kemudian setelah meninjau banyak jurnal, nuklir merupakan jawaban dari kebutuhan tenaga listrik tersebut karena memiliki daya tahan hingga 40 tahun berbeda dengan baterai jenis lithium yang hanya mampu bertahan maksimal selama 2 tahun.

Baterai nuklir yang dikemas berbentuk tabung ini menghasilkan daya listrik yang berasal dari pancaran radiasi plutonium 238 yang kemudian dikonversikan menjadi menjadi cahaya tampak. Lalu cahaya tersebut ditangkap menggunakan sel surya atau foto voltaik menjadi energy listrik.

Baterai nuklir ini bisa dimanfaatkan untuk digunakan pada daerah terpencil sebagai sumber energi alat sensor pendeteksi siapa saja yang melalui wilayah perbatasan Indonesia, misalnya. Bahkan jika teknologi Indonesia sudah banyak berukuran mikro, baterai nuklir ini sangat bisa digunakan untuk sumber energy di berbagai peralatan-peralatan elektronik.

Jika penelitian ini dikembangkan lebih lanjut, maka akan dapat menghasilkan output yang lebih besar dengan ukuran yang lebih kecil. Sebab baterai berukuran mikro memiliki banyak kemungkinan untuk dimanfaatkan menjadi lebih luas.

Dekan fukultas teknik, Prof Ir Nizam, MEng, D.ng mengungkapkan pihak fakultas mendorong para peneliti untuk dapat menghilirkan hasil-hasil riset supaya tidak hanya menjadi makalah. Maka, penelitian ini sungguh-sungguh menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Untuk itu diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari pihak pemerintah serta masyarakat guna mewujudkan pemanfaatan energy nuklir di Indonesia.

“menurut teman-teman salah satu yang potensial torium. Dari sisi teknologi kita sudah menguasai jadi tidak perlu berganrung kepada impor. Teman-teman juga sudah bisa mewujudkan bagaimana limbahnya nanti bisa dimanfaatkan menjadi baterai” ucap dekan fakultas teknik universitas gajah mada tersebut.

Wah, perkembangan teknologi di Indonesia semakin hari semakin keren-keren ya. semoga kedepannya semakin banyak putra putri bangsa yang membuat teknologi-teknologi baru dan banyak berguna bagi masyarakat Indonesia maupun internasional.

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

Sukris susanti

Universitas Trunojoyo Madura

Bangkalan

“love your life”