Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Keikutsertaan Indonesia di Asian Games 1962 dan Awal GBK Dibangun

Sejarah pembangunan GBK dan keikutsertaan aktif Indonesia di gelanggang ASIAN GAMES tak lepas dari peran pemimpin kita saat itu. Yuk simak sejarahnya!

Asian Games ke 4 Kala itu menjadi Momentum

Tahun 1958 menjadi momen bersejarah bagi Indonesia. Negara Indonesia yang saat itu baru berusia 13 tahun, dipilih Federasi Asian Games (FAG) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games ke-4 pada 1962. Dimana Jakarta saat itu harus bersaing dengan kota lain seperti Karachi (Pakistan) dan Taipei (Taiwan), yang juga mengincar kesempatan tersebut.

Perwakilan Indonesia yang terdiri dari Sri Paku Alam VIII, Maladi dan dr. A Halim harus melihat kondisi riil, betapa superiornya kedua kota itu karena lebih diunggulkan. Bisa dibayangkan, Jakarta diragukan dapat menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertandingan antar negara saat itu. Selain belum memiliki stadion besar, Jakarta juga belum punya fasilitas pendukung kegiatan olahraga lain yang dapat menampung beragam jenis pertandingan. Maka pada saat itu Presiden Pertama Ir. Soekarno segera menjawab tantangan dengan menentukan lokasi yang tepat untuk perhelatan akbar tersebut, dengan membangun Sarana dan Prasarana Olahraga.

"Saat itu cuma ada kolam renang di Manggarai, Lapangan Ikada. Kurang banget," ungkap dosen Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia, M Nanda Widyarta.  Melihat letak geografis dan pengembangan kota Jakarta di kemudian hari, maka pilihan jatuh ke arah selatan yaitu daerah Senayan, yang merupakan batas antara Jakarta Kota dan Satelit Kebayoran Baru. Dan setahun kemudian, dengan selesainya pembangunan Gelanggang Olahraga Bung Karno pada saat itu membuktikan bahwa bangsa Indonesia mampu melaksanakan pembangunan sebuah komplek olahraga bertaraf international yang pada masa itu belum banyak dimiliki oleh Negara maju sekalipun.

"Pertanyaannya, uangnya dari mana?

Ternyata kedekatan Soekarno dengan Uni Soviet memutus kebuntuan tersebut. Saat mengunjungi Stadion Luzhniki di Moskwa pada 1956, Sang Proklamator terkesima dengan kehebatan struktur dan arsitektur stadion berkapasitas 81.000 penonton itu.

Ia berharap suatu saat Indonesia dapat memiliki stadion serupa. Soekarno lantas mengajukan pinjaman lunak (soft loan) kepada Pemerintah Uni Soviet.  Dan pada 1959, pinjaman itu akhirnya diberikan. Tidak tanggung-tanggung, besaran pinjaman mencapai 12,5 juta dollar AS, dengan kurs 1 dollar AS saat itu Rp 250 maka nilainya setara sekitar Rp 3,1 miliar.

Saat ini Kawasan Gelora Bung Karno berdiri berbagai macam fasilitas untuk kegiatan olahraga sebanyak 36 Venues, Politik, Bisnis, Rekreasi dan Pariwisata.  Fungsi lain Kawasan Gelora Bung Karno adalah memiliki 84% Kawasan Terbuka Hijau yang merupakan daerah resapan air dengan lingkungan hijau seluas 67,5% yang masih terdapat kelestarian aneka pepohonan langka yang besar dan rindang yang merupakan hutan kota juga sebagai tempat bermukimnya 22 jenis burung liar yang senantiasa berkicau sepanjang hari menambah suasana asri di kawasan ini.

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

winda

“”