Yuk berkontribusi, menjadi akselerator IPTEK anak bangsa !

Breaking News

Indonesia Darurat Sains dan Matematika, Kedua Terendah setelah Afrika

Fakta pendidikan di Indpnesia saat ini sedang gawat-gawatnya. Selain masih rendah dari tingkat kualitas, anak-anak Indonesia juga diprediksi belum siap menghadapi abad 21.

Pendidikan di Indonesia menjadi sorotan bahkan disebut sedang berada dalam kondisi darurat dari segi kualitas. Selain jika ditinjau dari sisi infrastrukturnya yang masih belum semuanya bisa dikatakan layak, sistem pendidikannya pun demikian adanya—masih belum layak.

Berdasarkan Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia menempati posisi 2 dari bawah. PISA sendiri merupakan salah satu alat ukur perkembangan negara berkembang, khususnya pada bidang pendidikan. Menurut studi lainnya menyatakan bahwa anak muda Indonesia selama sekian tahun sejak masuk SD hingga lulus SMA sekolah hanya meningkatkan keterampilan menghitung atau aritmatika sederhana dari peserta didik sebanyak nol koma nol sekian persen.

Mengejutkan, bukan? Negara-negara berkembang diukur dan ditingkatkan berdasarkan kemampuan pelajarnya pada bidang matematika, sains, dan literasi. Kesimpulannya, kendati duduk di kelas IPA, faktanya murid tak terampil menyelesaikan operasi sederhana “tambah, kurang, kali dan bagi”, termasuk pengertian “peratus atau prosen”, perpuluhan dan pecahan.

Padahal, sebuah operasi paling dasar dari aritmatika ini sama krusialnya seperti menyambung huruf dan membentuk kata serta kalimat “I-ni Bu-di…” dalam konteks membaca dan menulis. Artinya? RI berada pada peringkat nomor dua dari bawah! Sebuah kondisi buta total matematika, yang membuat mereka diramalkan tidak akan siap menghadapi abad 21.

Padahal tahun ini banyak pelajar SMP dari Indonesia berhasil memborong medali olimpiade Matematika pada tingkat internasional? Dalam ajang olimpiade tersebut, mereka berhasil meraih satu medali emas, tiga medali perak, dua medali perunggu, dan empat penghargaan Merit di olimpiade sains dan matematika dunia.

Artinya? RI berada pada peringkat nomor dua dari bawah! Sebuah kondisi buta total matematika, yang membuat mereka diramalkan tidak akan siap menghadapi abad 21. Selain itu, berdasarkan Uji Kompetensi Guru (UKG), rata-rata nilai yang diperoleh guru Indonesia hanya sebesar 53 dari 100. Kalau masih terus seperti ini, bagaimana bisa mengharapkan muridnya untuk maju jika kualitas guru yang tersediamasih tergolong minim.

ARTIKEL TERKAIT

Profile Kontributor

yudi

Jakarta

“”