Pada konstruksi kapal, khususnya pada tangki, sekat kedap air, dan pelat alas, sambungan las harus benar-benar kedap terhadap fluida dan tekanan. Untuk memastikan kondisi tersebut, galangan kapal tidak hanya mengandalkan inspeksi visual atau metode NDT canggih, tetapi juga menggunakan metode pengujian sederhana namun efektif seperti uji minyak–kapur, vacuum test, dan pressure test.
Berbagai studi pada jurnal Q1 di bidang struktur kapal menunjukkan bahwa metode ini sangat efektif untuk mendeteksi kebocoran mikro yang berpotensi berkembang menjadi kegagalan serius saat kapal beroperasi.
Pengujian Minyak dan Kapur (Oil–Chalk Test)
Uji minyak dan kapur merupakan metode sederhana untuk mendeteksi kebocoran pada sambungan las, terutama pada pelat dan tangki. Prinsip pengujian ini adalah memanfaatkan kemampuan minyak untuk meresap melalui celah mikro pada las yang tidak sempurna.
Pada pelaksanaannya, satu sisi sambungan las dilapisi minyak, sementara sisi lainnya dilapisi kapur atau serbuk putih. Jika terdapat cacat seperti porositas atau retak mikro, minyak akan merembes dan membentuk noda pada permukaan kapur. Jurnal Marine Structures dan Engineering Failure Analysis menyebutkan bahwa metode ini efektif untuk mendeteksi cacat tembus pada pelat tipis dan struktur tangki kapal, terutama sebagai pengujian awal sebelum dilakukan metode NDT lanjutan.
Keunggulan uji minyak–kapur terletak pada kesederhanaan, biaya rendah, dan kemudahan penerapan di lapangan. Namun, metode ini terbatas pada deteksi cacat tembus dan tidak dapat mengidentifikasi cacat internal yang tidak menembus permukaan.
Vacuum Test pada Sambungan Las Kapal
Vacuum test digunakan untuk memeriksa kekedapan sambungan las dengan menciptakan tekanan negatif pada area tertentu. Metode ini banyak diterapkan pada pengujian las tangki, pelat alas, dan sambungan datar kapal.
Proses vacuum test dilakukan dengan menempatkan vacuum box di atas sambungan las yang telah dilapisi cairan pendeteksi (biasanya larutan sabun). Ketika tekanan di dalam box diturunkan, udara akan tersedot melalui cacat las yang ada, sehingga menghasilkan gelembung udara yang terlihat jelas. Penelitian dalam jurnal Ocean Engineering menunjukkan bahwa vacuum test sangat sensitif terhadap kebocoran kecil dan dapat mendeteksi cacat yang tidak teridentifikasi melalui inspeksi visual.
Vacuum test dinilai aman karena tidak memberikan tekanan berlebih pada struktur, sehingga cocok digunakan pada pelat tipis dan area yang belum diperkuat sepenuhnya.
Pressure Test (Uji Tekanan)
Pressure test merupakan metode pengujian lanjutan yang dilakukan dengan memberikan tekanan positif pada struktur tertutup, seperti tangki bahan bakar, ballast tank, atau pipa kapal. Media yang digunakan dapat berupa udara, air, atau fluida lain sesuai dengan standar keselamatan.
Dalam pressure test, struktur dipantau untuk melihat adanya penurunan tekanan atau kebocoran visual. Jurnal Q1 di bidang keselamatan kapal menegaskan bahwa pressure test memberikan gambaran kondisi aktual struktur saat menerima beban operasional, sehingga sering digunakan sebagai tahap akhir sebelum kapal dinyatakan laik laut.
Meskipun sangat andal, pressure test memerlukan pengendalian ketat karena risiko deformasi atau kegagalan struktur jika tekanan melebihi batas desain. Oleh karena itu, pengujian ini harus mengacu pada standar klasifikasi kapal dan prosedur keselamatan yang ketat.

Perbandingan dan Peran dalam Inspeksi Kapal
Secara umum, uji minyak–kapur cocok untuk inspeksi awal dan area terbuka, vacuum test efektif untuk sambungan las datar dan tangki, sedangkan pressure test digunakan untuk verifikasi akhir struktur tertutup. Studi komparatif dalam jurnal Welding Journal menyimpulkan bahwa kombinasi beberapa metode pengujian memberikan tingkat keandalan yang jauh lebih tinggi dibandingkan penggunaan satu metode saja.
Pengujian cacat las menggunakan minyak–kapur, vacuum test, dan pressure test memiliki peran penting dalam menjamin kekedapan dan keselamatan struktur kapal. Meskipun tergolong metode sederhana, efektivitasnya telah banyak dibuktikan dalam penelitian jurnal Q1 dan praktik industri perkapalan. Dengan penerapan yang tepat sejak tahap galangan, risiko kebocoran dan kegagalan struktur saat kapal beroperasi di laut dapat diminimalkan secara signifikan.
0 Komentar
Artikel Terkait





