Pengetahuan

Kapal Nelayan Tanpa Awak: Solusi Teknologi Masa Kini untuk Perikanan yang Lebih Aman dan Efisien

Kapal nelayan tanpa awak hadir sebagai jawaban atas tantangan keselamatan, efisiensi, dan keterbatasan sumber daya manusia di laut

Kapal nelayan telah lama menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat pesisir di Indonesia dan banyak negara lain. Namun di balik perannya yang penting itu, aktivitas melaut menyimpan risiko keselamatan yang sangat tinggi.

Selama puluhan tahun terakhir, sejumlah kecelakaan kapal nelayan terus terjadi, menimbulkan dampak besar bagi keselamatan jiwa nelayan, produktivitas perikanan, dan keberlanjutan ekonomi keluarga nelayan.

Menurut laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), aktivitas penangkapan ikan merupakan salah satu pekerjaan paling berbahaya di dunia laut. Diperkirakan sekitar 32 000 jiwa tewas setiap tahun akibat kecelakaan kerja di laut, dengan jumlah luka atau cedera yang jauh lebih tinggi. Sebagian besar armada global — sekitar 97 % kapal berukuran di bawah 24 meter — tidak sepenuhnya dilindungi oleh konvensi maritim internasional, sehingga nelayan kecil tetap rentan terhadap risiko cuaca dan laut yang keras.

Kecelakaan Nelayan di Indonesia Angka yang Memprihatinkan

Di Indonesia sendiri, data dari berbagai lembaga menunjukkan realitas yang mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya, dalam periode Desember 2020 hingga Juni 2021, Lembaga Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia mencatat 42 insiden kecelakaan yang dialami kapal nelayan dan kapal ikan di perairan Indonesia. Dari total tersebut, terdapat 142 korban, terdiri dari 83 orang hilang di laut, 14 meninggal, dan 42 orang selamat. Rata-rata, insiden terjadi sekitar 7 kali per bulan pada periode tersebut.

Data lain pada awal tahun 2021 juga menunjukkan bahwa 13 insiden kecelakaan kapal nelayan di perairan Indonesia menimbulkan 48 korban, termasuk 28 orang hilang di laut. Penyebab umum yang diidentifikasi meliputi cuaca ekstrem, gelombang tinggi, tabrakan dengan kapal besar, kerusakan mesin, dan arus laut yang kuat.

Kecelakaan-kecelakaan ini tidak hanya berdampak pada hilangnya nyawa, tetapi juga tekanan emosional dan finansial terhadap keluarga nelayan yang bergantung pada hasil laut untuk kehidupan sehari-hari.

Faktor Penyebab Kecelakaan Kapal Nelayan

Ada berbagai faktor yang membuat kapal nelayan lebih rentan terhadap kecelakaan:

  • Cuaca buruk dan ombak tinggi, terutama di musim barat atau musim angin besar.

  • Kurangnya sistem navigasi dan pengawasan yang lebih canggih, sehingga deteksi bahaya dini masih terbatas.

  • Kurangnya perlindungan sosial dan jaminan asuransi bagi awak kapal, yang membuat risiko kerja menjadi semakin berat. Hingga Juni 2024, masih banyak awak kapal perikanan di Indonesia yang belum terdaftar dalam jaminan sosial atau asuransi kerja yang memadai.

  • Keterbatasan perlindungan teknologi dasar, seperti sistem pemantauan posisi kapal bagi unit berukuran kecil, juga memperbesar risiko keselamatan.

Kebutuhan Teknologi yang Lebih Canggih

Melihat tingkat kecelakaan dan risiko keselamatan yang terus terjadi, sudah saatnya sektor perikanan global dan nasional mengevaluasi pendekatan tradisional. Teknologi modern dapat membantu mengurangi risiko-risiko tersebut melalui pengawasan yang lebih cermat, deteksi dini terhadap kondisi berbahaya, dan otomatisasi aktivitas yang selama ini sangat bergantung pada keterlibatan langsung awak kapal di laut.

Salah satu inovasi yang semakin banyak diperbincangkan adalah kapal nelayan tanpa awak atau autonomous fishing vessel. Kapal otonom ini dirancang untuk beroperasi dengan sistem kontrol otomatis, sensor canggih, serta teknologi navigasi dan monitoring real-time yang terintegrasi. Teknologi ini memiliki beberapa keuntungan utama:

  1. Mengurangi risiko keselamatan awak kapal, karena operasi dapat dilakukan tanpa perlu manusia berada langsung di geladak kapal saat kondisi laut sedang buruk atau berbahaya.

  2. Monitoring dan pemantauan real-time, yang memungkinkan pusat kendali untuk memantau posisi kapal, kondisi lingkungan laut, dan status operasi kapal kapan saja.

  3. Integrasi sensor cuaca dan sistem prediksi ancaman, sehingga kapal dapat mengambil rute yang lebih aman dan menghindari kondisi ekstrem yang berpotensi menyebabkan kecelakaan.

  4. Efisiensi operasi, yang dapat menurunkan kebutuhan tenaga manusia di laut dan mengurangi paparan terhadap risiko kerja laut yang ekstrem.

Solusi Teknologi sebagai Langkah ke Depan

Inovasi kapal nelayan tanpa awak bukan sekadar tren teknologi; ini merupakan respons konkret terhadap kenyataan risiko yang dialami oleh nelayan tradisional dan modern. Dengan meningkatnya kemampuan teknologi seperti kecerdasan buatan, sensor otomatis, dan sistem kendali jarak jauh, kapal tanpa awak dapat menjadi alat bantu yang meminimalisir risiko keselamatan nelayan sekaligus meningkatkan produktivitas penangkapan ikan melalui operasi yang lebih terukur dan terencana.

Transformasi ini juga sejalan dengan kebutuhan untuk memberikan standar keselamatan yang lebih baik bagi para pekerja laut serta mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan dan aman di masa depan. Integrasi teknologi otomatis dalam kapal penangkapan ikan dapat menjadi bagian penting dari strategi modernisasi sektor perikanan global,Lalu dari data yang telah tercatat selama 10 tahun terakhir ini dapat di simpulkan

1. Kecelakaan kapal nelayan masih tinggi di tingkat global dan nasional dalam 10 tahun terakhir.

2. Indonesia sendiri mencatat ratusan korban jiwa dari kecelakaan kapal nelayan dalam beberapa tahun terakhir.

3. Banyak faktor penyebabnya berkaitan dengan keterbatasan teknologi dan keselamatan konvensional.

4. Inovasi kapal nelayan tanpa awak berpotensi mengurangi risiko keselamatan dan meningkatkan efisiensi operasi perikanan secara signifikan.

Share:

0 Komentar

Artikel Terkait