Kapal tongkang (barge) dikenal sebagai kapal tanpa sistem propulsi yang dirancang untuk mengangkut muatan berat dalam jumlah besar. Karena bentuknya sederhana dan lambungnya relatif datar, tongkang sering dianggap kuat dan “tahan banting”. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit kasus tongkang mengalami retak serius bahkan patah di bagian tengah lambung. Kondisi ini bukan peristiwa tiba-tiba, melainkan akumulasi berbagai faktor struktural, operasional, dan manajerial.
Salah satu penyebab utama tongkang patah adalah kegagalan struktur akibat beban berlebih dan distribusi muatan yang tidak merata. Ketika muatan terkonsentrasi di satu area, terutama di bagian tengah, lambung akan mengalami momen lentur yang besar. Dalam kondisi gelombang tertentu, gaya hogging dan sagging dapat meningkat drastis, sehingga pelat alas dan struktur memanjang bekerja melampaui kapasitas desainnya. Jika kondisi ini berlangsung berulang, retakan mikro dapat berkembang menjadi kegagalan besar.
Faktor lain yang sering luput dari perhatian adalah kelelahan material (fatigue). Tongkang umumnya beroperasi dalam jangka waktu panjang dengan siklus beban yang berulang. Retakan kecil akibat kelelahan, khususnya di sambungan las, akan semakin membesar jika tidak terdeteksi sejak dini. Sayangnya, pemeriksaan struktur sering kali hanya bersifat visual dan tidak menyentuh area kritis lambung.
Selain itu, korosi menjadi musuh utama struktur baja tongkang. Lingkungan laut yang agresif mempercepat penipisan pelat, terutama di bagian alas dan sisi lambung. Jika ketebalan pelat sudah jauh berkurang dari desain awal, kemampuan struktur untuk menahan beban akan menurun signifikan. Dalam banyak kasus, tongkang tetap dioperasikan meskipun ketebalan pelat sudah tidak memenuhi batas aman.
Dari sisi operasional, penggunaan tongkang di luar kondisi desain juga berkontribusi besar terhadap risiko patah. Tongkang yang dirancang untuk perairan tenang sering dipaksakan beroperasi di laut terbuka dengan gelombang tinggi. Ditambah lagi dengan praktik penarikan (towing) yang tidak sesuai prosedur, gaya tarik dan gerakan dinamis dapat memperparah tegangan pada struktur lambung.
Akhirnya, persoalan pengawasan dan budaya keselamatan tidak bisa diabaikan. Lemahnya pengawasan teknis, keterbatasan inspeksi menyeluruh, serta tekanan ekonomi untuk terus beroperasi sering membuat risiko struktural diabaikan. Dalam kondisi ini, patahnya kapal tongkang bukan lagi sekadar kecelakaan, melainkan konsekuensi dari akumulasi keputusan manusia yang tidak mengutamakan keselamatan.
Kesimpulannya, kapal tongkang bisa patah bukan karena satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari desain struktur, kondisi material, cara operasi, dan sistem pengawasan. Pencegahan hanya dapat dilakukan melalui perencanaan struktur yang memadai, inspeksi berkala yang ketat, pengelolaan muatan yang benar, serta komitmen kuat terhadap keselamatan pelayaran.
10 penyebab utama kegagalan struktur pada kapal tongkang, disusun ringkas, teknis, dan sesuai kondisi lapangan maritim Indonesia:
-
Distribusi muatan tidak merata
Muatan yang terkonsentrasi di satu area menimbulkan momen lentur berlebih (hogging–sagging) pada lambung. -
Beban muatan melebihi kapasitas desain
Overloading menyebabkan tegangan struktur melampaui batas izin material. -
Penipisan pelat akibat korosi
Korosi jangka panjang mengurangi ketebalan efektif pelat alas dan sisi lambung. -
Kelelahan material (fatigue)
Beban berulang dalam waktu lama memicu retak mikro pada sambungan las dan pelat. -
Kualitas pengelasan yang buruk
Cacat las menjadi titik awal retakan dan kegagalan struktur progresif. -
Kegagalan struktur penegar (stiffener & girder)
Penegar yang rusak atau terdegradasi tidak mampu menahan deformasi pelat. -
Operasi di luar kondisi desain
Tongkang perairan tenang dipaksakan beroperasi di laut terbuka dengan gelombang tinggi. -
Tekuk pelat (buckling) akibat kelangsingan tinggi
Pelat alas tipis mudah mengalami buckling sebelum mencapai tegangan leleh. -
Metode penarikan (towing) yang tidak sesuai
Gaya tarik berlebih dan sudut towing yang salah meningkatkan tegangan longitudinal. -
Kurangnya inspeksi dan perawatan struktural
Kerusakan awal tidak terdeteksi hingga berkembang menjadi kegagalan total.
Tongkang patah adalah alarm keras, desain, perawatan, dan operasi harus kembali pada standar keselamatan, bukan kompromi.
0 Komentar
Artikel Terkait



