Pengetahuan

Bagaimana Cara Melakukan Pengelolaan Limbah Konstruksi?

Dalam mencapai Green Construction pada pelaksanaan proyek, sangat penting diperhatikan ialah Pengelolaan Limbah konstruksi itu sendiri.

Berkaitan dengan tulisan saya sebelumnya yang berjudul Tahapan Green Construction pada Pelaksanaan Proyek. Dalam mencapai Green Construction pada pelaksanaan proyek, sangat penting diperhatikan ialah Pengelolaan Limbah konstruksi itu sendiri. 

Pengelolaan Limbah Konstruksi

Lingkungan adalah salah satu sasaran utama dari dampak buruknya limbah kontruksi. Dalam hal menanggulangi dampak buruk tersebut, dibutuhkan proses dalam hal pengelolaannya. Secara umum ada tiga hal yang perlu diingat dalam pengelolaan limbah konstruksi :

1.       Design (desain bangunan)

Desain bangunan sangat berkaitan dengan proses konstruksi. Untuk mewujudkan proses konstruksi yang ramah lingkungan harus memakai desain yang ramah lingkungan juga. Green Building Index Malaysia (GBI Malaysia) mengembangkan 

Green Rating Tool punya tujuan untuk membantu menilai sebuah konstruksi dalam bentuk index. Indikator ini bisa menjadi salah satu pertimbangan dalam menciptakan bangunan yang berkelanjutan dan meningkatkan kesadaran berbagai pihak yang terkait tentang isu-isu lingkungan.

Indikator ini dinamakan Green Building Index Residensial New Construction (GBI-RNC). Untuk mendapatkan kredit poin yang sesuai, ada 6 parameter penting yaitu sebagai berikut :

a)       Efisiensi Energi

b)       Kualitas didalam ruangan

c)       Manajemen dan perencanan lokasi

d)       Material dan sumber daya alam

e)       Efisiensi Air

f)        Inovasi

 

2.       Build  (pelaksanaan konstruksi)

Dalam mewujudkan konstruksi yang lebih ramah lingkungan pada tahap pelaksanaan harus menjadi perhatian serius. Karena pada tahap ini banyak menghasilkan limbah mulai dari proses pembangunan, renovasi sampai pembongkaran.

Berbagai piranti pengukur indikator dikembangkan tidak lain adalah untuk meminimalisasi dampak negatif terhadap lingkungan. Mulai dari proses pemilihan perencana sampai pengelolaan bangunan akan menimbulkan dampak pada lingkungan. Konsep green construction dibutuhkan sebagai acuan dalam mengendalikan dampak yang ditembulkan. Dengan adanyan Green Construction Index (GCI) akan mempermudah kita untuk mengetahui informasi tentang proses konstruksi yang mengacu pada green construction

3.       Worker’s Attitude  (perilaku pekerja proyek)

Perilaku pekerja proyek yang tidak ramah lingkungan menjadi salah satu faktor. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan dalam proses pembangunan yang ramah lingkungan, agar tidak hanya patuh pada desain dan pelaksanaan konstruksi yang ramah lingkungan, namun juga pada perilaku dan sistem kerja para pelaku proyek.

Konsep green menjadi acuan para pihak dalam menetapkan sistem kerja yaitu dengan tetap mengukur tingkat kebisingan dan polutan yang mungkin ditimbulkan dai pelaksanaan proyek. Demikian halnya untuk alat-alat berat yang masuk ke proyek kemudian menjadi kotor maka wajib dibersihkan lebih dahulu sebelum keluar dari lokasi proyek dengan memanfaatkan air hujan yang telah ditampung.

Hierarki pengolahan limbah dalam Strategies for Succesful Construction and Demolition Waste Recycling Opertions adalah :

1. Reduce (mengurangi)

Reduce merupakan cara terbaik dan efisien dalam meminimasi limbah yang dihasilkan. Reduce limbah konstruksi dibagi menjadi dua cara, yaitu :

  • Prevention (pencegahan), metode yang digunakan untuk mengatasi penggunaan material yang dapat menghasilkan limbah. Contohnya dengan penggunaan  beton pracetak, meminimalisir over ordering, dan pemakaian half slab pada desain.
  • Minimalization (minimalisasi), merupakan usaha yang dilakukan untuk mengurangi limbah konstruksi dengan cara mempersiapkan rencana penanganan limbah konstruksi. Contohnya dengan membuang limbah konstruksi ke tempat khusus ataupun menjualnya.

2. Reuse (penggunaan ulang)

Reuse ialah pemanfaatan ulang dari limbah konstruksi yang masih layak pakai. Untuk memudahkan dalam penggunaan kembali, pemisahan material konstruksi berdasarkan jenis pekerjaannya harus deilakukan.

Misalnya pemisahan kayu bekisting sisa pengecoran. Penggunaan kembali dapat menghemat biaya pemakaian material baru baik dalam proyek yang sama ataupun proyek yang akan datang.

3. Recycle (daur ulang)

Recycle yaitu teknik pengelolaan ulang limbah konstruksi agar menjadi material konstruksi yang memiliki kualitas yang mirip dengan material yang baru. Misalnya teknologi daur ulang beton.

4. Landfilling (tempat pembuangan akhir)

Landfilling merupakan membuang ketempat penampungan akhir adalah alternatif terakhir dalam proses pengelolaan limbah konstruksi. Landfilling dilakukan jika alternatif yang lain sudah tidak dapat dilakukan.

 

Share:

0 Komentar

Artikel Terkait