Pengetahuan

Potensi Kabel Bawah Laut sebagai Media Sensor Gempa dan Tsunami

Kabel bawah laut bukan hanya tulang punggung internet dunia, tapi juga bisa menjadi alat deteksi early warning system gempa bumi dan tsunami yang revolusioner.

Irfan Naufal Marwan11 April 2026

Kabel bawah laut serat optik menjadi infrastruktur vital yang menghubungkan jutaan jaringan di seluruh dunia. Lebih dari 99% lalu lintas internet global sebenarnya melewati jaringan kabel optik yang membentang sejauh lebih dari 1,7 juta kilometer di dasar samudra.

Namun, penelitian terkini membuka peluang baru yang luar biasa: kabel-kabel ini bisa berfungsi sebagai sensor akustik raksasa yang mampu mendeteksi getaran gempa bumi, tekanan gelombang tsunami, bahkan suara paus di laut dalam.

Teknologi Distributed Acoustic Sensing (DAS)

Kunci dari kemampuan tersebut adalah teknologi Distributed Acoustic Sensing (DAS). Metode ini menggunakan pulsa laser yang dikirimkan melalui serat optik untuk membaca perubahan sangat kecil pada pantulan cahaya akibat getaran atau tekanan di sekitar kabel. Getaran ini bisa berasal dari pergeseran lempeng bumi, gelombang tsunami, bahkan aktivitas hewan laut besar.

Karena kabel berada langsung di dasar laut, dekat dengan sumber gempa bawah laut, sistem ini potensial memberikan peringatan lebih cepat dibanding sensor yang hanya dipasang di daratan. Dalam konteks mitigasi bencana tsunami, tambahan waktu beberapa menit saja dapat menyelamatkan ribuan nyawa.

Kolaborasi Telkom dan UGM: Langkah Strategis Nasional

Di Indonesia, kolaborasi nyata diwujudkan oleh PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Kedua institusi ini tengah mengembangkan sistem deteksi berbasis DAS dengan memanfaatkan kabel optik eksisting Telkom sebagai sensor real-time untuk aktivitas seismik.

Menurut Direktur Utama Telkom, Ririek Adriansyah, langkah ini tidak hanya memperkuat sistem mitigasi bencana nasional, tetapi juga meningkatkan keamanan aset kabel laut dari ancaman kerusakan. Uji coba awal dilakukan di pantai barat Sumatra dan selatan Jawa, dua wilayah aktif secara tektonik yang rawan gempa megathrust dan tsunami.

Wakil Rektor UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah contoh ideal sinergi antara industri dan akademisi. Teknologi DAS memungkinkan pemantauan kondisi laut dalam secara berkelanjutan dan efisien tanpa perlu pemasangan sensor infrastruktur kabel optik yang sudah ada.

Dukungan BMKG dan Potensi Global

BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) juga menyambut baik inisiatif ini. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyebut pemanfaatan kabel bawah laut untuk deteksi tsunami sebagai langkah visioner dan relevan, mengingat jaringan kabel tersebut telah terbentang hampir di seluruh nusantara.

Secara global, konsep serupa telah diuji oleh Google dan California Institute of Technology (Caltech) dengan memanfaatkan trafik data kabel optik di Samudra Pasifik. Mereka berhasil mendeteksi gempa berkekuatan 5 skala Richter dan fenomena gelombang besar tanpa perlu menambah perangkat keras baru.

Dampak Strategis bagi Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, berada di titik pertemuan tiga lempeng besar dunia: Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Kondisi ini menjadikan potensi gempa dan tsunami sangat tinggi. Dengan mengintegrasikan teknologi DAS ke kabel optik bawah laut nasional, Indonesia dapat memiliki sistem peringatan dini yang luas, cepat, dan ekonomis.

Selain itu, sistem ini bisa dikembangkan lebih jauh untuk pengawasan lingkungan laut, penelitian biogeofisika, hingga monitoring infrastruktur bawah air seperti pipa dan jalur energi.

Kesimpulan

Pemanfaatan kabel bawah laut sebagai sensor gempa dan tsunami menawarkan solusi revolusioner di bidang mitigasi bencana. Teknologi DAS (Distributed Acoustic Sensing) memungkinkan pemantauan real-time, cakupan luas, dan efisiensi biaya tinggi karena memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia. Dengan dukungan kolaborasi dari Telkom, UGM, dan BMKG, Indonesia berpotensi menjadi negara pionir dalam penerapan teknologi ini di kawasan Asia Pasifik.

Langkah ini bukan hanya melindungi jutaan penduduk pesisir dari bahaya, tetapi juga menandai transformasi kabel bawah laut dari sekadar media komunikasi menjadi “urat nadi intelijen geofisika” bawah laut yang menyelamatkan nyawa. 

Share:

0 Komentar

Artikel Terkait