Pembangunan Data Center AI di Jatiluhur mengundang perhatian masyarakat karena masalah kebutuhan air untuk pendinginan. Data Center AI memiliki ribuan komputer yang bekerja sepanjang hari dan akan menghasilkan panas. Oleh sebab itu, perangkat ini membutuhkan sistem pendingin agar kinerja tetap optimal.
World Economic Forum (WEF) mengungkapkan data center dengan kapasitas 1 megawatt (MW) menghabiskan 25,5 juta liter air per tahun untuk menjadi pendingin. Jumlah air ini setara dengan konsumsi air harian bagi 300.000 orang.
Sistem pendingin data center membutuhkan air yang akan digunakan pada komponen seperti chiller, cooling tower, hingga liquid cooling. Kemudian, air melalui proses intensif air agar menghasilkan uap.
Penyebab Data Center AI konsumsi air jumlah besar
Besarnya konsumsi air disebabkan karena keterbatasan pemakaian ulang air untuk mendinginkan data center. Sebagian air akan menguap selama proses pendinginan, sedangkan sisanya akan berubah menjadi air limbah yang mengandung bahan kimia dan mineral.
Air limbah data center AI tidak selalu dapat didaur ulang karena dapat menurunkan efisiensi sistem pendinginan. Selama ini, konsumsi air data center masih jarang mendapatkan pembahasan apabila dibandingkan emisi karbon. Maka itulah, pengelolaan air sirkular seperti penggantian kembali sumber air menjadi peluang untuk menekan dampak lingkungan dari data center.
Dampak pemakaian daur ulang limbah ataupun memakai air hujan untuk pada sistem pendingin dapat mengurangi penggunaan air tahar, dengan nilai penghematan 50-70% di lokasi penerapannya.
Bagaimana air menjadi pendingin Data Center AI
Dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (PTMD) Institut Teknologi Bandung, Ir. Poetro Lebdo Sambegoro menjelaskan air digunakan karena memiliki kemampuan pendinginan yang relatif tinggi dan mudah diperoleh dalam jumlah besar.
Air dalam sistem pendinginan tidak sekadar digunakan lalu dibuang. Air fungsinya sebagai medium untuk memindahkan panas dari komponen elektronik sebelum panas tersebut dilepaskan ke lingkungan melalui sistem pendingin.
Mekanisme pendingin semacam ini dapat ditemukan pada sistem closed loop, yakni panas dari perangkat elektronik dipindahkan ke fluida pendingin, kemudian panas tersebut dilepaskan ke udara menggunakan sistem pendingin udara.
“Air digunakan untuk mendinginkan dengan cara memindahkan panas dari komponen elektronik di data center-nya ke airnya. Kemudian air harus didinginkan lagi,” ujarnya.
Poetro mengatakan kebutuhan air sangat tergantung dari besarnya ukuran data center, konsumsi listrik, jumlah panas yang dihasilkan, serta desain sistem pendingin yang digunakan.
“Data center yang makin besar, listrik yang digunakan semakin besar, panas yang dihasilkan semakin besar, sehingga jumlah air yang dibutuhkan untuk mendinginkan juga semakin besar”, ujarnya.
Penggunaan air menjadi media pendingin data center sudah dilakukan di berbagai negara. Namun, pengelolaannya perlu mengandalkan teknologi yang tepat agar tidak mengkonsumsi jumlah air yang besar. Salah satu kemungkinannya adalah pemakaian sistem daur ulang air untuk mengurangi jumlah konsumsi air tahunan.
Apabila data center AI kekurangan pasokan air dapat mempengaruhi kinerja perangkat elektronik di dalamnya. Jika jumlah air berada di bawah kebutuhan sistem pendinginan, kapasitas pendinginan akan menurun dan temperatur akan meningkat, membuat makin panas.





