Proyek data center AI BDX di Jatiluhur disetop sementara karena masih menyelesaikan persyaratan pembangunan meliputi AMDAL dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat Adi Komar menyatakan dukungan terhadap pembangunan data center. Namun tetap dibarengi memenuhi prasyarat ketentuan mendirikan bangunan tersebut.
Penundaan pembangunan proyek data center AI ini berkaitan dengan kebutuhan air untuk proses pendinginan yang berdampak pada kelangkaan sumber air. Sebab, data center menghabiskan sampai 33.000 meter kubik per hari untuk menjaga suhu server tetap stabil. Dengan dimulai dari 6.000 meter kubik per hari.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan kebutuhan air untuk mendinginkan data center harus dihitung secara transparan agar tidak mengobarkan kebutuhan air warga. Apalagi kawasan tersebut dikelilingi oleh sawah yang membutuhkan irigasi.
Kemudian, pemilihan sumber air tidak boleh langsung ambil dari waduk maupun sungai, melainkan melalui mekanisme sebagai konsumen komersial. Serta dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dipublikasikan secara terbuka ke media sosial supaya diketahui masyarakat.
Permasalah air ini menimbulkan pertanyaan, apakah memang data center AI butuh air dalam jumlah banyak
Air merupakan komponen pendingin data center
Wakil Ketua Umum 2 Cyber Security APTIKNAS, Alfons Tanujaya, mengatakan dua dampak signifikan dalam pembangunan data center AI.
“Pertama, konsumsi air untuk pendinginan dalam jumlah banyak. Kedua, konsumsi listrik untuk proses cara center,” kata Alfons ketika dihubungi Kompas.com.
Menurut dia, konsumsi listrik akan main besar seiring meningkatnya kapasitas data center. Rencana pembangunan data center AI di kawasan Jatiluhur memiliki kapasitas mencapai 600 megawatt (MW). Sedangkan rencana awal pembangunan memiliki kapasitas 100 MW.
Tidak hanya listrik, air menjadi kebutuhan penting untuk menjaga suhu data center tetap stabil sehingga membutuhkan jumlah yang sangat besar. Alfons menjelaskan, kalau data center AI konvensional memang menyedot air dalam jumlah banyak, yang mana dapat mencapai kebutuhan air di kota kecil.
Data Center AI Jatiluhur memakai sistem pendingin close loop
Alfons menambahkan data center AI memakai dua metode pendinginan yaitu close loop dan open loop. Perbedaan mendasar terlihat dari hasil pemakaian air.
Sistem pendingin open loop memakai air untuk proses pendinginan, kemudian menguap sehingga membutuhkan air dalam jumlah besar.
Sistem close loop memakai air dalam sistem tertutup sehingga tidak banyak air yang menguap karena proses perpindahan panas.
Secara teknis, sistem close loop lebih hemat konsumsi air daripada open loop namun memakan konsumsi listrik lebih banyak.
“Close loop bisa menghemat air dengan sangat signifikan, tetapi lebih boros listrik sekitar 15 sampai 20 persen,” kata Alfons.
“Kalau ini sudah cata center baru dibangun, bisa langsung memakai close loop. Nvidia prosesor terbaru yang sedemikian panasnya mewajibkan semuanya memakai close loop” ujarnya.
Berapa jumlah air untuk mendinginkan data center AI
Data Center AI membutuhkan air dalam jumlah banyak supaya server tidak mengalami overheat saat beroperasi selama 24 jam. Apalagi untuk masyarakat sekarang yang memakai AI untuk kegiatan sehari-hari.
Secara umum, kapasitas air yang dibutuhkan data center adalah 25,5 juta liter per tahun untuk kapasitas 1 megawatt (MW) untuk mendinginkan server dan chip berperforma tinggi.
Tetapi jumlah pemakaian air sangatlah bergantung dari kepadatan chip dengan konsumsi daya 700W - 1200W per chip, sistem pendingin yang memicu penguapan, dan suhu lingkungan di area tersebut.



