Scaffolding atau perancah adalah komponen untuk membantu pekerja konstruksi yang melakukan pekerjaan di ketinggian agar dapat menjangkau area yang sulit terjangkau. Kebutuhan seperti membawa material sampai memberi keamanan bagi pekerja membuat benda ini sangat penting.
Tetapi dalam prakteknya, pemasangan scaffolding membutuhkan berbagai pertimbangan, lebih dari sekedar memasang lalu jadi. Ada aspek penting yang harus diperhatikan untuk memastikan pemakaiannya aman dan mendukung keselamatan kerja.
Anak Teknik Indonesia akan membahas apa saja standar pemasangan scaffolding dan pentingnya untuk pekerjaan di area konstruksi.
Regulasi standar pemasangan scaffolding di Indonesia
Regulasi mengatur bagaimana pemasangan scaffolding diatur dalam undang-undang dan peraturan keselamatan kerja.
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
- Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen K3 (SMK3).
- Permenaker Nomor 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan Konstruksi Bangunan
Pentingnya pemasangan scaffolding sesuai regulasi keselamatan kerja

Standar instalasi scaffolding bukan hanya menjadi pedoman teknis, namun juga merupakan bagian dari regulasi untuk memastikan keselamatan kerja. Hal tersebut meliputi
Menurunkan risiko kecelakaan kerja
Kecelakaan kerja di industri konstruksi dapat terjadi kapan saja. Data dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) per April 2025 mencatat ada 47.300 kasus kecelakaan kerja. Dengan sektor konstruksi memiliki kasus tertinggi sebesar 29%.
Memasang scaffolding sesuai regulasi dapat menurunkan risiko kecelakaan kerja pada pekerja konstruksi karena memberi keamanan.
Menjamin stabilitas
Pemakaian scaffolding seringkali terjadi di area ketinggian. Agar pekerja dapat bekerja dengan aman di ketinggian membutuhkan struktur yang kuat. Tidak mudah goyang dan kokoh selama masa pemakaian.
Menaikkan produktivitas
Produktivitas pekerjaan naik ketika area kerja kondusif dan aman. Memberikan fleksibilitas gerak, kemudahan akses vertikal, serta mengurangi time waste pada saat mengambil peletakan kerja dan material.
Syarat pemasangan scaffolding
Pemasangan scaffolding yang aman harus memenuhi berbagai syarat teknis sebagai berikut.
Menentukan kapasitas beban
Scaffolding dibuat harus mampu menahan beban pekerja, material, peralatan kerja, dan beban tambahan selama aktivitas. Dengan merancang scaffolding sesuai kapasitas beban akan memberi keamanan bagi pekerja konstruksi.
Kapasitas beban ideal pemasangan scaffolding adalah sebagai berikut
- Beban Ringan (Light Duty): Kapasitas maksimal 225 kg per bay (bagian/kolom), cocok untuk pekerjaan cat, pembersihan, atau perbaikan ringan.
- Beban Sedang (Medium Duty): Kapasitas maksimal 450 kg per bay, ideal untuk pekerjaan plesteran atau instalasi pipa.
- Beban Berat (Heavy Duty): Kapasitas maksimal 675 kg per bay, digunakan untuk pekerjaan berat seperti pemasangan batu bata atau konstruksi masif.
Menentukan material berkualitas
Scaffolding perlu memastikan jenis material yang digunakan. Setiap materi memiliki kualifikasi sesuai kebutuhan.
Scaffolding baja merupakan paling kuat dan tahan lama untuk pengerjaan proyek skala besar.
Scaffolding aluminium lebih ringan, mudah dipindahkan dan dapat digunakna untuk pengerjaan skala terbatas.
Scaffolding fiberglass merupakan material non konduktif sehingga aman digunakan untuk pekerjaan di area instalasi listrik maupun gardu tegangan tinggi.
Dimensi scaffolding
Ukuran tidak menentukan besarnya harga pemakaian, namun juga mempengaruhi ergonomi. Memastikan jarak antar lantai sesuai standar dan nyaman untuk berlaku-lalang.
Dimensi scaffolding yang aman memiliki ukuran rangka utama lebar 120 cm, panjang 180 cm, dan tinggi standar sekitar 170 cm.
Kesimpulan
Standar Pemasangan Scaffolding merupakan hal penting untuk melindungi pekerja, meningkatkan produktivitas pekerjaan, serta memastikan aktivitas konstruksi berjalan aman.
Terdapat regulasi yang mengatur pemasangan scaffolding sebagai bentuk perlindungan bagi ekosistem industri konsturksi.
0 Komentar
Artikel Terkait







