Kreatifitas

Alga Hijau Sebagai Pengganti Plastik di Masa Depan

91% plastik tidak didaur ulang dan masing-masing dari kita mengonsumsi 5 gram plastik mikro setiap minggu, harus ada solusi yang lebih baik. Jamur dapat menjadi plastik, namun ada juga yang sedang jauh lebih berkembang yakni Alga.

Pungky Triwiya Nugraha29 September 2021

91% plastik tidak didaur ulang. Dan masing-masing dari kita mengonsumsi 5 gram plastik mikro setiap minggu. Beberapa penelitian mengatakan jamur dapat mengganti plastik di masa depan, tetapi alga dapat menjadi alternatif. Dan pemanfaatan Alga ini muncul di tempat yang mungkin tidak Anda duga.

penggunaan alga hijau alternatif

Alga berkembang di sejumlah bidang mulai dari produksi biofuel hingga penangkapan karbon. Namun gelombang alga sedang menginjak menuju tren mode baru, alas kaki berkelanjutan. Sandal jepit mengandung plastik yang tidak dapat didaur ulang. Produksi sandal jepit dapat memicu perubahan iklim dan polusi laut. Namun kita bisa segera memakai sandal jepit bebas plastik yang terbuat dari Alga.

Apa itu alga

Alga adalah organisme akuatik yang melakukan fotosintesis. Tidak seperti tanaman darat, strukturnya jauh lebih sederhana. Misalnya, alga tidak memiliki akar, batang atau daun dalam beberapa kasus.

Anda dapat menemukannya di air tawar, biasanya danau, dan air laut. Berdasarkan ukurannya, Anda dapat membedakan antara mikroalga atau fitoplankton. Bentuk Makroalga (alias rumput laut), seperti rumput laut raksasa.

Apa keistimewaan ganggang

Rahasianya terletak pada kandungan minyaknya yang dapat bekerja sebaik minyak bumi. Dalam dua dekade terakhir, para peneliti menggali potensi alga untuk bahan baku biofuel. Mereka fokus pada ekstraksi komponen yang mengandung minyak alga.

Hal ini digunakan untuk menggantikan minyak yang berasal dari minyak bumi. Namun, untuk meningkatkan teknologi masih membutuhkan sumber daya dalam jumlah besar. 50% dari pupuk tahunan yang dipakai produksi tanaman Eropa. Permitaan itu dapat memenuhi 10% dari permintaan bahan bakar transportasi Eropa.

Itu sebabnya startup biotek kini terjun ke lautan dan menawarkan tanaman laut ini. Salah satunya adalah C-kombinator. Perusahaan asal Pueeto Rico memanen kelebihan alga beracun unutk membuat produk bermanfaat. Serta mengatasi pertumbuhan alga Sargassum di laut Karibia.

Proses ekstraksi dengan cara mendaur ulang jenis rumput laut coklat menjadi sumber alternatif untuk industri pertanian, kosmetik, dan tekstil. Dunia mode adalah salah satu pendorong utama polusi plastik. 35% dari semua mikroplastik yang mengalir ke laut berasal dari mencuci pakaian sintetis. Percaya atau tidak, poliester ada dalam 60% dari apa yang kita kenakan. 

Polyester adalah serat yang berasal dari minyak bumi, dengan kata lain plastik! Lebih dari 200 tahun untuk terurai dan permintaan globalnya sekitar 70 juta barel minyak setiap tahun. Bagaimana dengan sepatu kita? Polyester adalah salah satu tekstil pokok dalam desain alas kaki kita.

Sepatu dapat melepas 450 milyar lbs CO2 tiap tahun

Rata-rata, produksi sepatu melepaskan 450 miliar lbs CO2 setiap tahun. Dengan harga yang sangat rendah, sandal jepit sangat terlaris di dunia. Maka Anda dapat melihat mengapa sandal ini bertanggung jawab atas sebagian besar shoes carbon foot print.

Selain itu, sandal jepit biasanya terbuat dari busa berbasis etilena-vinil asetat (EVA). EVA dapat didaur ulang karena tidak mengandung polimer seperti PVC dan poliuretan. Itu berarti sandal jepit akan terus ada sampai seratus tahun.

Ethiopia merupakan salah satu konsumen sandal jepit teratas. Menurut kelompok konservasi dan daur ulang Ocean Sole, tiap tahun ada 90 ton sampah sandal jepit di sepanjang pantai Afrika Timur. Beberapa peneliti mengambil 25 ton sampah di sepanjang pantai Aldabra, di lepas pantai Afrika Timur. Seperempat dari sampah itu adalah sandal jepit.

Jadi, bisakah kita menggunakan ganggang untuk menghapus noda plastik dari alas kaki kita? Startup Munjoi merancang All-Dai, sepasang sepatu 4-in-1 yang seluruhnya terbuat dari tanaman. Alas kaki fleksibel ini bisa membuat Anda bentuk menjadi empat jenis sepatu yang berbeda. Sepatu kets di siang hari, slide atau mule di malam hari, atau sandal di pantai. Kerenkan?

Bagian yang menarik adalah pada bagian bawah sepatu terbuat dari bloom foam (bunga busa). Yang merupakan campuran limbah ganggang dan tebu, alternatif busa EVA berbasis minyak bumi tradisional.

Alga dapat tumbuh lebih cepat dan irit lahan

Jadi, mengapa alga? Selain tumbuh 10 kali lebih cepat dari tanaman darat, budidaya alga membutuhkan kurang dari 10% lahan. Alga juga mengkonsumsi lebih sedikit air daripada tanaman darat. Peneliti dari University of California menanam mikroalga di kolam buatan. Setelah berkembang sepenuhnya, mereka memisahkan tanaman dari air untuk mendapatkan semacam pasta.

Mereka kemudian mengekstrak fraksi minyak dari pasta. Lalu mengubahnya menjadi bio-foam untuk membuat sandal jepit. Tapi bagaimana cara kerjanya? Menggunakan mesin di lab mereka, mereka menuangkan minyak hijau berlendir ke cetakan. Dengan menerapkan panas, minyak alga dipanggang menjadi kue vegan.

Busa padat yang berbentuk komponen sandal jepit, termasuk alas kaki dan sol luar. Setelah sepuluh menit, cetakan dibuka dan mengupas potongannya. Serta menyatukannya untuk membuat sandal terbarukan.

Dengan kandungan bio 52%, proses terurai memakan waktu 6 bulan di tumpukan kompos. Dan jika mengambang di laut, sandal jepit berbasis alga akan hilang dalam setahun. Itu jauh lebih cepat daripada alas kaki berbahan dasar minyak bumi.

Tapi bisakah ini ditingkatkan atau hanya gagal? Di tengah studi mereka, kelompok ilmuwan mendirikan startup Algenesis Materials untuk mencobanya. Perusahaan bekerja sama dengan sejumlah merek alas kaki untuk meluncurkan busa lembut ke pasar. REEF akan menjadi mitra resmi pertama mereka untuk pembuatan komersial sandal jepit mereka. Ini harus terjadi dalam satu tahun atau lebih. Teknologi Soleic™ Algenesis dapat secara besar-besaran mengurangi dampak perubahan iklim dari industri sepatu. Bahan bakar fosil tidak hanya tetap tinggal di tanah, namun dapat menangkap CO2.

Saat ini, mereka tidak dapat membeli cukup alga untuk mendukung produksi mereka. Pendiri Algenesis percaya pasokan akan tumbuh karena lebih banyak petani ganggang memasuki pasar. Berdasarkan Departemen Pertanian AS lewat RUU Pertanian 2018 memberi petani sumber daya untuk memanen biomassa alga.

Pemikiran ini sudah ada sejak tahun 2016 silam

Tapi Algenesis bukan satu-satunya yang mengerjakan alas kaki berbahan dasar alga. Pada tahun 2016, perusahaan Bloom dari AS menciptakan EVA, campuran ganggang pertama di dunia. Yang terdengar familiar dengan busa transformator sepatu Munjoi yang disebutkan sebelumnya.

Dengan kandungan sebanyak 45%, Bloom Foam dikenal dengan Rise dan mengganti sol plastik sepatu. Bermitra dengan Vivobarefoot yang berbasis di London, mereka meluncurkan sepatu air Ultra III. Berbeda dengan Algenesis, Bloom tidak membudidayakan alga namun memanfaatkan dari tanaman liar dari sungai Mississippi.

Penggundulan hutan, pertanian intensif, dan pengolahan air limbah memberi nutrisi sempurna bagi perkembangan ganggang. Hal ini menyebabkan penipisan oksigen dan menghalangi sinar matahari. Akibatnya  kematian satwa liar serta potensi pencemaran air minum.

Bloom memulai perang lingkungan di seluruh dunia. Orang mengejar harta karun hijau. Bukan dolar, hanya ganggang. Sejalan dengan apa yang dilakukan C-Combinator, pekerjaan mereka adalah mengubah masalah menjadi solusi. Perusahaan NorWegian, Dynaspace, mengembangkan algoritma  yang mampu mendeteksi pertumbuhan alga lewat citra satelit. Tetapi bagaimana cara kerja mesin Bloom?

Mesin ini memiliki ruang hampa yang menyedot ganggang. Dan sebuah layer untuk mencegah ikan dan satwa liar tertangkap. Mereka kemudian menyaring air dari tanaman melalui proses pengeringan matahari terus menerus. Sistem ini menyaring 175 galon air yang tercemar alga per menit, untuk pemulihan total 300 pon tanaman dalam sehari.

Ganggang kering pertama-tama dihaluskan dan kemudian dibuat menjadi pelet. Kemudian disuntikkan ke dalam cetakan untuk membuat bio-foam. Untuk sepasang sepatu kets Ultra III, Bloom membersihkan 57 galon air dan menghemat 40 balloons CO2. Busa EVA yang diperkaya alga dari Bloom untuk mendesain sepatu kets Native Shoes di tahun 2019. Merek ini pertama dan satu-satunya yang menggabungkan bahan ini untuk desain alas kaki. Juga, melalui Proyek Remix mereka, Anda dapat mendaur ulang sepatu mereka. 

Harga sepatu alga setara dengan sepasang sandal jepit

Meskipun masih belum sepenuhnya berbasis bio, ganggang sudah masuk ke sepatu kets dan sandal jepit. Jadi, bagaimana sepatu alga menumpuk dalam hal biaya dibandingkan dengan alas kaki tradisional? Algenesi memproyeksikan biaya yang keluar sebesar $3 per pasang, setara sandal jepit komersial.

Untuk sepatu Bloom, perkiraan kasarnya adalah biayanya masih sedikit lebih tinggi dari 100% sepatu EVA. Tapi ini diperkirakan akan turun karena prosesnya menjadi lebih efisien. Rupanya Bloom menciptakan 100% busa biodegradable dengan kandungan alga yang tinggi di laboratorium. Tetapi kelangsungan hidup mereka jauh dari adopsi pasar massal pada hari ini. Beban utama yang menahan sepatu alga ke bangku lab tampaknya adalah produksi bahan baku.

Masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut

Berdasarkan studi komprehensif menyebutkan butuh pengembangan lebih lanjut terkait pembuatan bioplastik turunan mikroalga untuk skala komersial. Di sisi lain, aliran kas akan mengurangi biaya ganggang karena perkembangan teknologi.  Pada tahun 2020 Departemen Energi AS keluar uang $27 juta dalam proyek R&D untuk mencari alternatif plastik.

Algenesis menerima sebagian dari dana ini untuk mengembangkan bioplastik berbasis alga mereka. Tapi, apakah benar-benar layak berselancar di gelombang alga dari sudut pandang ekonomi? Nah, pasar untuk produk alga diperkirakan akan tumbuh pada CAGR 6,30% dari tahun 2020 hingga 2027, dengan nilai mencapai $1 Miliar. Dan permintaan bioplastik tampaknya menjadi salah satu pendorong pertumbuhan organik ini.

Alga memiliki peluang untuk menjadi minyak masa depan. Sementara biofuel masih jauh dari aplikasi komersial. Industri sepatu tampaknya selangkah lebih maju memanfaatkan potensi bahan hijau ini. Meskipun busa masih belum 100% berbasis alga, perusahaan mungkin berada di jalur yang tepat. 

 

Share:

0 Komentar

Artikel Terkait