Tahukah kamu bahwa ada masjid di dunia ini yang terbuat dari lumpur sebagai material utamanya? Jawabannya ada yaitu Masjid Agung Djenne yang terletak di tepi sungai Bani, Mali, Afrika Barat. Masjid dengan konstruksi batu bata lumpur ini sangat unik dan termasuk ke dalam warisan dunia UNESCO. Seperti apa kisah menarik dari arsitektur masjid lumpur yang populer ini? Yuk, simak informasi lengkapnya sebagai berikut!
Sejarah Pembangunan Masjid Agung Djenne
Masjid ini pertama kali di bangun pada abad ke-13 silam. Tepatnya, pada saat kota Djenne menjadi pusat perdagangan, kebudayaan, dan pendidikan Islam di Afrika Barat. Sehingga, banyak para pedagang, ulama, dan pelajar yang berkumpul di kota Djenne ini untuk berdagang dan menimba ilmu.
Sayangnya, bentuk asli dari Masjid Agung Djenne yang sekarang bukanlah konstruksi awalnya. Melainkan, sudah mengalami beberapa kali rekonstruksi dan perubahan besar yang dimulai sejak tahun 1907. Proses rekonstruksi ini melibatkan arsitektur lokal dengan konsep arsitektur awalnya dan material aslinya.
Tujuan dari melakukan perubahan ini adalah agar bangunan masjid menjadi lebih kuat dalam menghadapi perubahan cuaca dan lebih fungsional. Selama proses perbaikan ulang masjid menggunakan metode tradisional sebagai simbol ketahanan budaya lokal dan kekuatan di tengah perubahan zaman.
Keunikan Gaya Arsitektur
Masjid Agung Djenne ini mengadopsi arsitektur bangunan bergaya Sudano-Sahelian yang sangat unik dan khas. Masjid ini memiliki ciri khas tiga buah menara utama yang bentuknya seperti kerucut dan menjulang tinggi. Pada bagian dinding masjid dipenuhi dengan balok-balok kayu atau toron.
Balok kayu ini berfungsi sebagai pijakan dan perancah ketika masyarakat Djenne melakukan perawatan tahunan pada masjid. Selain itu, struktur kayu dipilih karena mampu memperkuat dinding dari tekanan secara internal dan eksternal dengan optimal. Kehadiran toron ini menciptakan kesan dan pola bayangan yang menarik ketika terkena sinar matahari.
Ide pembangunan masjid ini dipelopori oleh arsitek bernama Ismaila Traore. Menariknya, masjid ini dibangun oleh tanah liat berlumpur atau ferey yang menjadi bahan utamanya. Selanjutnya, digunakan campuran pasir, jerami, dan semen untuk melapisi bangunan masjid tersebut.
Masjid Agung Djenne dibangun dengan panjang 73 m dan lebar 50 m. Inilah yang menjadikannya masjid dari tanah liat terbesar yang ada di dunia. Sementara itu, penggunaan toron yang menonjol berukuran 60 cm dari permukaan fasad masjid tersebut. Selain itu, tidak ada cat yang digunakan untuk menutupi bagian eksterior masjid.
Terdapat kubah-kubah berukuran kecil yang menghiasi atap masjid sekaligus menjadi bagian penting dari desain arsitektur. Kubah ini berfungsi untuk mempertahankan suhu dalam masjid agar tetap sejuk dan memberikan tampilan yang sederhana, elegan, serta harmonis. Ada juga jendela kecil untuk tempat masuknya cahaya.
Masjid yang satu ini juga dilengkapi dengan ruang shalat utama berukuran 26 x 50 m dan 9 buah tiang-tiang penopang atas. Sehingga, menciptakan rasa ketenangan, keteraturan yang kental, dan kenyamanan untuk para jamaah yang beribadah. Bagian lantai masjid ditutupi menggunakan tikar anyaman tanpa ada ornamen rumit dan dekorasi yang berlebihan.
Fakta Unik Masjid Agung Djenne
Ada beberapa fakta unik dan menarik yang perlu kamu ketahui tentang masjid lumpur ini diantaranya sebagai berikut ini.
1. Tradisi Unik dalam Renovasi Masjid
Proses perawatan masjid ini setiap tahunnya menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap tahunnya, seluruh masyarakat Djenne selalu mengadakan tradisi besar yaitu Crepissage de la Grande Mosquée. Tradisi ini berfungsi untuk melapisi ulang dinding masjid melalui partisipasi warga setempat.
Setiap warga akan membawa campuran tanah liat untuk memperbaiki retakan yang muncul selama musim panas berlangsung. Selama gotong-royong dalam rangka renovasi masjid biasanya diiringi dengan tawa, kerja sama yang hangat, dan musik. Tradisi ini juga berperan penting dalam memelihara rasa persatuan dan kebersamaan warga Djenne.
2. Simbol Identitas Islam di Afrika Barat
Keberadaan Masjid Agung Djenne ini menjadi simbol dari perkembangan agama Islam yang sangat berpengaruh di kawasan Afrika Barat. Selama berabad-abad lamanya, masjid ini menjadi saksi dari masyarakat Djenne untuk bertukar ilmu. Tidak heran jika masjid ini memancarkan nilai budaya yang sangat mengakar bagi kehidupan masyarakat lokal.
Meskipun terbuat dari lumpur, masjid ini menjadi kebanggan spiritual dan kultural bagi masyarakat Afrika Barat. Masjid ini memiliki peranan penting bagi kehidupan penduduk lokal sekaligus menjadi situs bersejarah yang sangat berharga. Latar belakang inilah yang membuat kesadaran warga lokal meningkat untuk melestarikan aset warisan dunia tersebut.
3. Terbuat dari Material dan Teknologi yang Masih Tradisional
Masjid ini dibangun menggunakan bahan-bahan alami yang melimpah di wilayah kota Djenne. Mulai dari tanah liat, air, dan jerami yang dipadatkan hingga menciptakan struktur masif secara sempurna. Teknik yang seperti ini membuat bangunan masjid mampu bertahan dari cuaca panas yang ekstrim dan tetap terasa sejuk.
Penggunaan material tanah liat ini dinilai lebih cocok dengan karakteristik iklim yang cenderung panas dan kering. Tanah liat ini diambil dari dasar sungai lalu dicampur dengan jerami. Kemudian, air ditambahkan untuk mendapatkan bata lumpur dan dikeringkan secara alami menggunakan bantuan sinar matahari.
Kesimpulan
Masjid Agung Djenne merupakan simbol kesederhanaan arsitektur Sudano-Sahelian yang menawarkan kesejukan dan kenyamanan bagi para jamaah selama melaksanakan ibadah. Yuk, cek informasi selanjutnya melalui website anakteknik untuk mendapatkan artikel up to date lainnya!
0 Komentar
Artikel Terkait



