Kreatifitas

Mirip Buah Nanas, Al Bahr Tower Hadir dengan Arsitektur Megah yang Ramah Lingkungan

Menara Al Bahr ini memiliki gaya arsitektur yang unik seperti buah nanas dengan teknologi modern dan keberlanjutan.

Sinta Safira Virginia3 Oktober 2026

Uni Emirat Arab kembali membuat publik terpukau untuk beberapa kalinya lewat kehadiran Al Bahr Tower yang memukau. Menara ini merupakan salah satu gedung pencakar langit kembar yang menjulang tinggi dengan megah di Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. 

Gedung seluas 56.000 m2 dengan ketinggian 145 meter dan 29 lantai ini didesain oleh firma arsitektur terkenal yaitu Aedas Architects. Gedung ikonik yang mirip dengan buah nanas ini selesai dibangun pada Juni 2012 dan langsung diresmikan pada tahun yang sama.  

Pembangunan gedung ini berfungsi sebagai kantor pusat Abu Dhabi Investment Council. Kehadirannya di jantung Kota Abu Dhabi menjadi simbol dari kemajuan teknologi sekaligus menawarkan pesona keindahan arsitektur modern di kawasan Timur Tengah. 

Gaya Arsitektur Mashrabiya yang Menyerupai Nanas 

Menara Al-Bahr ini dirancang secara khusus dengan konsep arsitektur yang inovatif, berkelanjutan, dan biomimetik. Selain itu, gedung ini juga sudah dilengkapi dengan teknologi modern yang menyatu dengan nuansa budaya Islam. Tidak heran jika gedung yang satu ini menjadi salah satu keajaiban teknologi di dunia arsitektur. 

Al Bahr Tower juga menjadi cerminan dari kombinasi harmonis, modernisme, dan warisan budaya Timur Tengah. Sehingga, tujuan desainnya adalah menitikberatkan terhadap perpaduan arsitektur lokal, teknologi yang berorientasi terhadap kinerja, dan inspirasi alam. 

Yang menarik dari gedung ini adalah pendekatan terhadap mashrabiya yang menjadi inspirasi utamanya. Secara umum, fasad gedung ini mirip dengan kulit buah nanas yang memiliki pola geometris. Hal ini bisa terlihat dari layar berbentuk kisi-kisi Islam tradisional yang berfungsi untuk menghadapi panas dan cahaya ekstrem di kawasan Abu Dhabi. 

Penggunaan lebih dari 2.000 panel payung otomatis yang berlapis fiberglass ini dipasang 2 meter dari bagian luar bangunan. Fungsinya yaitu sebagai layar surya yang canggih sekaligus karya seni yang luar biasa. Pasalnya, sistem tersebut akan bergerak membuka dan menutup sesuai dengan posisi cahaya matahari. Sehingga, lebih ramah lingkungan. 

Pemilihannya juga bukan sekedar menonjolkan aspek estetika saja, namun menjadi solusi cerdas untuk mengatasi cuaca panas akibat iklim gurun di Abu Dhabi. Dengan begitu, dapat mengurangi panas matahari hingga 50% dan meningkatkan efisiensi energi. Bahkan, bisa menciptakan pencahayaan alami di dalam gedung secara optimal dan melindungi privasi. 

Manfaat lainnya dari fasad yang adaptif ini yaitu bisa meningkatkan produktivitas penghuninya dan mengurangi silau dari cahaya matahari. Lalu, bisa menjaga suhu di dalam ruangan menjadi lebih seragam yang membuat penghuninya merasa lebih nyaman. 

Inovasi Arsitektur Modern Pada Al Bahr Tower

Tak hanya mengedepankan aspek fungsionalitas dan estetika saja, Al Bahr Tower juga memiliki sejumlah inovasi terbaru yang berkelanjutan. Salah satunya adalah belajar dari alam melalui prinsip adaptasi tanaman nanas terhadap lingkungan di sekitarnya. Pada tanaman nanas terdapat mekanisme khusus yang berfungsi mengatur konservasi air dan penyerapan cahaya lewat struktur daun yang khas. 

Inilah yang diadopsi oleh Menara Al-Bahr, dimana fasadnya seperti payung yang dapat membuka dan menutup. Pada siang hari, fasad akan menutup untuk memberikan perlindungan yang maksimal. Namun, saat malam hari fasad akan terbuka sehingga bisa menyaksikan pemandangan yang indah dari dalam gedung tanpa hambatan. 

Menara Al Bahr ini juga memiliki keunggulan yang berbeda dari gedung pencakar langit lainnya. Tentunya, berkat kehadiran sistem fasad yang revolusioner dan responsif. Alhasil, dapat menghemat penggunaan energi dan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman. Selain itu, pada setiap fasad dibuat dari material fiberglass ringan yang tahan cuaca karena terdapat lapisan PTFE (polytetrafluoroethylene).

Fasad peneduh dinamis pada gedung ini dikendalikan oleh sistem komputerisasi yang pintar. Pastinya, sudah terhubung dengan sensor jaringan yang canggih untuk memantau kondisi lingkungan di sekitar gedung. Sejumlah sensor tersebut berfungsi untuk mengukur arah angin, intensitas matahari, hingga suhu udara. 

Nantinya, data yang berasal dari sensor ini akan diproses melalui sistem komputer pusat yang bertugas mengendalikan aktuator mekanis pada setiap unit fasad. Dengan begitu, sistem dapat bekerja secara real-time dan bisa menyesuaikan konfigurasi fasad hanya dalam hitungan menit saja. Sehingga, kenyamanan termal dan visual bisa didapatkan secara optimal. 

Mahakarya yang Menakjubkan 

Melihat keunggulan yang diperlihatkan pada mahakarya arsitektur Al Bahr Tower ini membuatnya mendapatkan penghargaan yang bergengsi di dunia arsitektur dan konstruksi. Al Bahr Tower berhasil menerima penghargaan Best Sustainable Design pada International Property Awards dan Best Innovative Design of the Year pada Middle East Architect Awards. 

Sebuah mahakarya yang diakui oleh dunia ini kembali mendapatkan penghargaan dari Council on Tall Buildings and Urban Habitat dengan nominasi Best Tall Building Middle East & Africa.

Dengan konsep desain arsitek yang mengadopsi strategi keberlanjutan ini membuat Menara Al Bahr mendapat peringkat perak dari sertifikasi LEED (Leadership in Energy and Environmental Design). 

Kesimpulan 

Menara Al Bahr menjadi inspirasi masa depan dunia arsitektur yang menggabungkan konsep arsitektur Islam, modern, dan teknologi yang ramah lingkungan. Kolaborasi tersebut juga berhasil melahirkan solusi terbaik yang hemat energi, unik, responsif namun tetap menghormati budaya dan tradisi lokal khas Timur Tengah melalui karya arsitektur.

Gimana, tertarik untuk mempelajari dunia teknik lebih dalam? Yuk, cek artikel menarik lainnya yang ada di website Anak Teknik! Pastinya, cocok untuk belajar dan memperdalam keilmuan teknik

Share:

0 Komentar