Pengetahuan

Museum Of The Future, Bukti Inovasi Arsitektur Masa Depan yang Futuristik

Ilustrasi Museum of The Future di Dubai dengan konsep arsitektur yang ramah lingkungan tanpa mengurangi tampilan modern dan futuristik.

Dubai selalu punya hal-hal menarik yang membuat wisatawan penasaran dengan negara ini. Salah satunya dengan kehadiran Museum of The Future yang tidak kalah terkenal dari Burj Khalifa. Pembangunan museum yang ikonik ini dilatarbelakangi atas keinginan memberikan gambaran dunia pada 50 tahun mendatang. 

Museum of The Future ini secara resmi dibuka untuk umum pada 22 Februari 2022 silam oleh Dubai Museum of The Future. Museum ini didirikan oleh Dubai Future Foundation yang ingin mengeksplorasi dunia masa depan dengan teknologi dan sains. Secara struktur dan fasad, museum ini tampil mengesankan dengan bentuk seperti torus. 

Museum ini menjadi salah satu bangunan unik yang menjadi ikon baru dan terkenal di Dubai karena keindahannya. Museum yang luasnya mencapai 17.000 m2 ini posisinya berdekatan dengan Emirates Tower, Dubai, Uni Emirat Arab. Tidak heran jika banyak wisatawan yang mengunjungi Museum of The Future ini ketika liburan ke Dubai. 

Konsep Arsitektur yang Unik

Museum of The Future telah dibangun sejak tahun 2018 silam dan dirancang oleh seorang arsitek yang bernama Shaun Killa. Bagian interior museum ini didominasi oleh warna putih yang elegan dan menyatu dengan konsep futuristiknya. Bangunan museum ini terinspirasi konsep Feng Shui dimana pada bagian dalamnya tidak menggunakan pilar internal. 

Museum terindah di dunia versi National Geographic ini mengusung konsep arsitektur yang istimewa. Museum ini menggabungkan konsep smart irrigation system, eco green, dan energi terbarukan. Museum dengan 7 lantai dan tinggi bangunan sekitar 77 m ini menawarkan tiga bagian yang menarik. 

Seperti The Building yang melingkar ini melambangkan nilai kemanusiaan. Lalu, ada The Green Hill menjadi simbol dari bumi dan The Avoid yang menjadi lingkaran kosong di bagian tengah bermakna masa depan yang penuh misteri. Selain itu, terdapat 7 lantai ruang pameran dan 3 lantai untuk podium, auditorium, lobi, kafe, restoran, dan tempat parkir. 

Setiap lantai pada museum ini menghadirkan pengalaman yang berbeda-beda. Lantai pertama terdapat pengembangan sumber daya luar angkasa, kesehatan, kesejahteraan, ekosistem, dan bioteknologi. Pada lantai kedua terdapat teknologi futuristik yang bertujuan untuk mengatasi tantangan yang ada dan mengubah dunia. 

Memasuki lantai ketiga, museum ini menyediakan future heroes atau tempat bermain untuk anak-anak. Dengan harapan, anak-anak bisa mengeksplorasi, bermain, dan mengembangkan potensi dalam dirinya secara bebas. 

Sistem Konstruksi yang Sangat Kompleks

Proses pembangunan Museum of The Fiture ini menggunakan lebih dari 1.000 panel plastik dengan serat kaca (GRP) dan disempurnakan oleh baja tahan karat. Bangunan museum ini dirancang sepenuhnya menggunakan bantuan BIM (Building Information Modelling). Sehingga, seluruh proses desain dan pengawasan konstruksi lancar dan terintegrasi dengan baik. 

Pada bangunannya juga menggunakan bantuan robot khususnya untuk membuat fasad stainless steel yang terdiri lebih dari 1.024 pelat dan membentang lebih dari 17.000 m2. Selama pembangunan, museum ini telah menghabiskan anggaran yang sangat fantastis yaitu 136 juta USD yang setara dengan Rp2 triliun. Untuk harga tiket masuk per orang yaitu AED 145 atau Rp585 ribu. Museum ini buka setiap hari pukul 10:00-18:00 waktu Dubai.

Daya Tarik Museum Of The Future

Museum of The Future dilengkapi dengan teknologi virtual dan augmented reality. Sehingga, menawarkan pengalaman multi indera melalui augmented, kecerdasan buatan, realitas virtual, analisis data, dan interaksi manusia dengan mesin untuk mengintip masa depan dunia pada 50 tahun mendatang. 

Bagian fasad museum dikelilingi oleh tulisan kaligrafi yang dibuat menggunakan kaca dan berfungsi sebagai jendela. Kaligrafi tersebut merupakan syair mahakarya Wakil Presiden dan Perdana Menteri UEA yaitu Sheikh Mohammed Bin Rashid Al Maktoum. Kemudian, oleh Mattar bin Lahej syair puisi yang berjumlah lebih dari 700 kata itu dibuat menjadi tulisan kaligrafi. 

Museum ini juga dilengkapi dengan sistem irigasi pintar yang fungsional dan menerapkan konsep keberlanjutan. Kehadiran sistem irigasi cerdas tersebut, kadar airnya bisa disesuaikan dengan penggunaan air untuk taman. Teknologi ini bekerja dengan menggunakan sensor dan sistem data. 

Museum ini kerap kali dijadikan sebagai landasan pesawat luar angkasa. Pada saat pesawat mendekat, maka bagian fasad museum akan terbuka dan pesawat akan turun. Lalu, melakukan pendaratan yang sukses di dalam Museum of The Future ini. 

Kesimpulan

Museum of The Future tidak hanya menjadi destinasi wisata yang menarik saja untuk dikunjungi. Namun, menjadi sumber ilmu pengetahuan masa depan untuk generasi muda mendatang. Untuk mendapatkan informasi terbaru seputar dunia keteknikan lainnya, jangan lupa kunjungi Anak Teknik ya

Share:

0 Komentar