Berbicara tentang gedung pencakar langit pasti sangat menarik sekali bukan? Apalagi jika gedung tersebut memiliki sentuhan desain arsitektur yang sangat unik. Kalau Dubai punya Burj Khalifa, maka London punya The Shard yang tidak kalah memukau.
London, Inggris selalu punya daya tarik tersendiri yang bikin turis selalu sulit untuk move on. Selain suasana kotanya yang dinamis, London juga punya mahakarya arsitektur yang menarik lho. Salah satunya The Shard atau yang dikenal dengan London Bridge Tower.
Gedung pencakar langit yang berdiri megah dengan ketinggian 310 meter ini menjadi wisata ikonik di London. Berkat strukturnya yang unik, banyak wisatawan mengunjungi The Shard hanya untuk mengabadikan foto estetik. Selain itu, merupakan tempat yang ideal untuk menikmati kuliner dan menginap di hotel mewah.
Apa Itu The Shard?
Buat kamu yang belum tahu apa itu The Shard, semoga penjelasan ini bisa membantu mengedukasi ya! Jadi, The Shard adalah menara multifungsi yang terdiri atas 72 lantai dan lokasinya ada di samping Stasiun London Bridge. Tepatnya, di tepi selatan Sungai Thames.
Nama The Shard sendiri terinspirasi dari pecahan kaca selama tahap perencanaan berlangsung. Selain itu, dari segi desainnya bangunan ini memiliki bentuk lahan yang tidak beraturan.
Gedung pencakar langit ini merupakan karya dari arsitek Italia yang bernama Renzo Piano. Pembangunannya melibatkan Sellar Property Group yang bekerja sama dengan London Bridge Quarter Ltd.
The Shard menjadi salah satu proyek yang paling ambisius dan pertama kali diresmikan pada bulan Juli tahun 2012 silam. Dengan ketinggian mencapai 310 meter, menjadikannya sebagai jajaran gedung tertinggi di Inggris dan gedung tertinggi ke-4 di Eropa.
Proyek pembangunan ini merupakan salah satu kebijakan Walikota London yaitu Ken Livingstone. Tujuan utama pembangunan The Shard adalah untuk mendorong perluasan perkotaan yang berkelanjutan. Sehingga, dapat menciptakan pusat kota yang dinamis, semarak, dan mengurangi kemacetan lalu lintas.
Konstruksi Bangunan
Ada yang istimewa dari konstruksi bangunan The Shard ini. Pasalnya, konstruksi yang digunakan tergolong unik yaitu mengaplikasikan teknik konstruksi dari atas ke bawah. Tujuannya untuk menghemat waktu pengerjaan konstruksi yang panjang dan memudahkan pembangunan 23 lantai pertama dari inti beton dan sebagian menara.
Selama proses pembangunan, telah digunakan kolom baja yang ukurannya 500 mm x 500 mm. Lalu, kolom baja tersebut ditanamkan ke permukaan tanah melalui lubang pada tiang kosong dengan beton yang dicor.
Selanjutnya, pelat beton dicor secara langsung di atas permukaan tanah hingga mencapai kekuatan yang diinginkan. Kemudian, pelat beton ditopang oleh kolom-kolom penopang untuk melanjutkan penggalian. Fungsinya adalah untuk memudahkan pembangunan struktur atas dan struktur ruang bawah tanah secara bersamaan.
Material Konstruksi
The Shard dibuat dari material konstruksi yang yang terdiri dari struktur-struktur terbaik. Untuk 40 lantai pertama menggunakan rangka baja komposit dan lantai 41-60 menggunakan angka beton prategang.
Lalu, lantai 61-72 terbuat dari struktur rangka beton bertulang konvensional. Kemudian, pada bagian puncak menara The Shard hingga lantai 87 tersusun atas baja pracetak. Penggunaan beton dan baja ini berfungsi untuk meningkatkan efisiensi struktur bangunan.
Penggunaan beton prategang lebih ideal untuk bagian atas bangunan dan bisa menghemat 550 mm per lantai. Untuk ruang langit-langit bagian instalasi utilitasnya ditingkatkan menggunakan balok baja dan pelat lantai beton dengan kedalaman yang seragam.
Struktur tersebut berisi 11.000 panel kaca dan memiliki total luas permukaan 56.000 m2. Beton juga digunakan pada inti bangunan The Shard karena dapat meminimalkan percepatan lateral dan peredaman bangunan dengan baik akibat goyangan angin.
Dalam proses pembangunannya telah dilakukan pra-fabrikasi dan pra-perakitan menara baja dengan berat 500 ton dan tinggi 66 m. Tujuannya adalah untuk mengurangi bahaya dan kecelakaan kerja pada ketinggian tertentu.
Fondasi Bangunan
Bangunan The Shard memiliki fondasi yang terhubung dengan tiang pancang Southwark Towers. Dimana struktur tersebut tidak memiliki ruang bawah tanah dan ditopang tiang pancang yang tertanam di dalam tanah. Hal inilah yang membuat pembangunan gedung pencakar langit tersebut sedikit lebih sulit.
Apalagi kedalamannya hanyalah beberapa meter di bawah fondasi dasar The Shard. Sehingga, tiang-tiang tersebut kurang cocok digunakan kembali untuk penyangga vertikal gedung pencakar langit yang baru. Selain itu, rig pengeboran juga dipandu dengan metode laser untuk memasukkan tiang-tiang secara presisi.
Untuk kondisi tanahnya sendiri terdiri dari tanah buatan yang berada pada bagian atas lapisan tanah alami. Kemudian, tiang pancang bor putar dengan diameter 1,2 m dan 1,5 m digunakan untuk menahan beban terkonsentrasi yang sangat besar.
Kesimpulan
Itulah informasi tentang The Shard, sebuah bangunan pencakar langit yang menakjubkan di London, Inggris. Selain estetika bangunan yang indah, The Shard juga dibangun atas fondasi dan konstruksi yang profesional oleh insinyur ternama di dunia. Jangan lewatkan informasi menarik lainnya seputar dunia teknik hanya di anakteknik ya!
0 Komentar
Artikel Terkait







