Bagi banyak orang yang pertama kali melihat kapal tongkang atau kapal tunda beroperasi, terutama di perairan sungai dan pesisir, sering muncul pertanyaan tentang keberadaan rangka besi menyerupai jaring di sekitar baling-baling kapal. Sekilas, bentuknya memang tampak seperti jaring yang terhubung dari badan kapal atau poros baling-baling. Namun, komponen tersebut bukanlah alat tangkap ikan, melainkan bagian penting dari sistem keselamatan dan keandalan kapal.

Dalam dunia teknik perkapalan, struktur ini dikenal sebagai propeller guard atau rope guard. Fungsinya adalah melindungi baling-baling dan poros kapal dari benda asing yang berpotensi merusak sistem propulsi. Kapal tongkang dan kapal tunda umumnya beroperasi di wilayah perairan yang penuh risiko, seperti sungai, muara, dan perairan dangkal yang banyak dipenuhi tali, jaring nelayan, sampah kayu, hingga kabel.
Tanpa pelindung ini, benda-benda tersebut dapat dengan mudah melilit baling-baling. Dampaknya tidak sederhana. Baling-baling yang terlilit dapat menyebabkan getaran berlebih, beban mesin meningkat secara tiba-tiba, hingga kehilangan daya dorong. Dalam kondisi tertentu, kapal bahkan bisa mati mesin di tengah jalur pelayaran, yang sangat berbahaya terutama di perairan sempit atau area proyek.
Selain melindungi baling-baling, propeller guard juga berperan penting dalam menjaga poros (shaft) dan sistem seal di buritan kapal. Ketika baling-baling mengalami lilitan benda asing, gaya tarik yang tidak normal dapat merambat ke poros dan merusak stern tube seal. Jika seal rusak, air laut berisiko masuk ke ruang mesin dan menimbulkan kerusakan lanjutan yang jauh lebih serius.

Kapal Tugboat juga sering melakukan manuver di area dangkal atau sandar langsung ke pantai dan dermaga sederhana. Dalam kondisi seperti ini, baling-baling sangat rentan menghantam kayu, batu, atau struktur bawah air lainnya. Keberadaan rangka pelindung membantu meminimalkan risiko benturan langsung pada blade baling-baling yang dapat menyebabkan deformasi atau patah.
Dari sudut pandang teknik perkapalan, penggunaan propeller guard memang memiliki konsekuensi teknis berupa penurunan efisiensi baling-baling akibat gangguan aliran air. Namun, pada kapal kerja seperti tongkang dan tug boat, efisiensi maksimum bukanlah prioritas utama. Yang lebih penting adalah keandalan, keselamatan, dan kontinuitas operasi. Kapal kerja tidak boleh berhenti hanya karena baling-baling terlilit tali atau sampah.
Keberadaan pelindung baling-baling ini menunjukkan bahwa desain kapal selalu menyesuaikan dengan kondisi operasionalnya. Kapal yang beroperasi di laut lepas dengan jalur bersih tentu memiliki pendekatan desain yang berbeda dengan kapal tongkang yang bekerja di sungai dan wilayah proyek. Inilah salah satu contoh nyata bahwa teknik perkapalan bukan hanya soal kecepatan dan efisiensi, tetapi juga tentang bagaimana kapal mampu bertahan dan bekerja aman di lingkungan yang menantang.
Dengan memahami fungsi pelindung baling-baling pada kapal tongkang, kita dapat melihat bahwa setiap detail pada kapal memiliki tujuan teknis yang jelas. Apa yang terlihat sederhana di mata awam, justru menjadi komponen vital dalam menjaga keselamatan kapal, awak, dan kelancaran operasional di lapangan.
Propeller guard merupakan perangkat pelindung yang dipasang di sekitar baling-baling kapal tongkang untuk mencegah masuknya benda asing yang dapat mengganggu kinerja sistem propulsi.
0 Komentar
Artikel Terkait



