Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa angka harapan hidup di Indonesia pada tahun 2026 mencapai rata-rata usia 74 tahun. Data di tahun 2026 ini masih kalah dengan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Dari data PBB terbaru di tahun 2026, Singapura menjadi pemimpin sebagai negara dengan angka harapan hidup tertinggi di ASEAN. Rata-rata angka harapan hidup masyarakatnya adalah 84 tahun.
Di urutan kedua ada Thailand dengan angka harapan hidup 78 tahun, disusul oleh Malaysia yakni 76 tahun. Lantas, apa yang menjadikan negara-negara maju atau bahkan negara tetangga memiliki angka harapan hidup yang tinggi?Apakah bonus demografi yang terjadi pada Indonesia lebih penting dari angka harapan hidup? Dua pertanyaan ini akan menjadi fokus utama pembahasan kita di dalam artikel. Jadi, silakan simak baik-baik ya!
Apakah Bonus Demografi Lebih Penting dari Angka Harapan Hidup?
Wakil Presiden Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menyebut bahwa Indonesia sedang mengalami bonus demografi. Dalam video yang diunggah oleh Sekretariat Wakil Presiden, Gibran menegaskan bahwa periode antara tahun 2030 hingga 2045 akan menjadi masa yang sangat menentukan bagi Indonesia. Ia menyebut bahwa sekitar 208 juta penduduk Indonesia akan berada dalam usia produktif.
Videonya ini sempat menjadi bahan perbincangan netizen, tidak terkecuali dari kalangan ahli. Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Andreas Budi Widyanto menilai video monolog Gibran sebagai contradictio in terminis. Pernyataan beliau disandarkan pada proses terpilihnya Gibran sebagai wakil presiden yang dinilai penuh problematika.
Nailul Huda selaku peneliti dari Center of Economics and Law Studies (CELIOS). Ia menjelaskan bahwa bonus demografi layaknya bencana demografi, karena kebanyakan pemuda kita menjadi pengangguran. Ferry Irwandi, pendiri Malaka Project juga ikut memberikan argumen tandingan. Ia menjelaskan bahwa beban pemanfaatan momen emas tidak bisa diberikan seutuhnya kepada anak muda. Ia berkata:
"Yang menentukan keberhasilan kita memanfaatkan bonus demografi ini berhasil atau tidak, tak lain dan tak bukan adalah pemerintah yang berkuasa".
Apa yang disampaikan oleh tiga orang ahli ini tentu bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk pemerintah lebih serius lagi membenahi sistem pemerintahannya agar benar-benar dapat menampung tenaga muda sebagai penggerak negara menuju status yang lebih tinggi, yakni negara maju. Semoga. Apakah ini artinya bonus demografi tidak penting? Tentu tidak.
Baca Juga: 7 Alasan Mengapa Banyak Lulusan Perguruan Tidak Bekerja Sesuai Jurusannya!
Bonus demografi tetap penting, hanya saja data tersebut tidak menunjukkan bahwa Indonesia sudah masuk kategori negara maju atau berhasil. Angka tersebut menggambarkan potensi peluang ekonomi jangka pendek. Momentum bonus demografi Indonesia ini bahkan diprediksi hanya terjadi sampai pada tahun 2039. Yang artinya, masih ada banyak masalah kependudukan lainnya yang masih harus diperhatikan. Salah satunya adalah angka harapan hidup.
Semakin rendah angka harapan hidup, maka semakin jelas pula kekurangan pada pengelolaan tata negara. Semakin tinggi angka harapan hidup, maka semakin bagus pula pengelolaan tata negara. Angka harapan hidup mencerminkan kualitas tata negara yang baik. Jika ditanya manakah yang lebih penting antara bonus demografi dan angka harapan hidup, maka jawabannya, tidak ada yang lebih penting.
Keduanya memiliki tingkat porsi kepentingannya masing-masing. Namun, angka harapan hidup memiliki fondasi yang lebih mendasar bagi keberlanjutan jangka panjang dibandingkan bonus demografi. Lantas, apa saja yang menjadikan negara-negara lain memiliki angka harapan hidup yang lebih tinggi dari Indonesia?
7 Poin Penting yang Memengaruhi Tingginya Angka Harapan Hidup di Sebuah Negara
1. Akses dan Layanan Kesehatan
Poin penting pertama yang memengaruhi tingginya angka harapan hidup di sebuah negara adalah akses dan layanan kesehatan. Tentu saja akses dan layanan kesehatan yang mudah, cepat, dan berkualitas akan berdampak pada tingginya angka harapan hidup sebuah negara. Mari kita lihat dari negara tetangga Malaysia dan Singapura, dua negara yang paling banyak menjadi destinasi terdekat untuk orang Indonesia mendapatkan pengobatan yang lebih baik.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahkan mengakui bahwa Indonesia masih tertinggal jauh dari dua negara tersebut. Harga yang murah dan kualitas layanan menjadi poin penting di mana Indonesia masih tertinggal. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Malaysia mampu memberikan kualitas diagnostik, administrasi, hingga hospitality yang jauh lebih baik.
“Di Malaysia masuk rumah sakit langsung ketemu dokter, di kita mungkin bisa 3-5 jam” kata Menteri Budi Gunadi di acara Health Summit 2025.
Kualitas layanan kesehatan yang belum mumpuni ini tentu berdampak pada pengalaman pasien. Data dari African Journal of Hospitality, Tourism, and Leisure mengungkap bahwa 60% wisatawan medis mengalami salah diagnosis saat di rumah sakit dalam negeri.
2. Pola Hidup Masyarakat
Poin selanjutnya adalah pola hidup masyarakat. Di negara maju, masyarakat umumnya memiliki kebiasaan yang baik, seperti disiplin waktu, memiliki budaya membaca yang kuat, serta kebiasaan jalan kaki untuk bepergian ke mana pun. Laporan dari World Population Review mengungkapkan bahwa warga Amerika Serikat mampu setidaknya membaca 17 buku dalam setahun.
Rata-rata waktu yang dihabiskan oleh warga AS untuk membaca adalah 357 jam per tahun. Selain Amerika, negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, Italia, Belanda, Swiss berada di urutan teratas negara dengan minat membaca paling tinggi. Hebatnya, India jadi satu-satunya negara non-Eropa yang berada di urutan teratas.
India menempati urutan kedua negara dengan minat membaca tinggi, dengan rata-rata buku yang dapat dibaca oleh warganya yakni 16 buku per tahun atau setara 352 jam per tahun. Indonesia? Negara kita ada di urutan 30 dengan rata-rata waktu warga membaca buku hanya 129 jam per tahun. Bagaimana dengan kebiasaan jalan kaki? Negara maju seperti Hongkong dan China menjadi negara yang warganya paling aktif berjalan kaki.
Secara berurutan jumlahnya mencapai 6.800 dan 6.100 langkah per hari. Angka ini jauh di atas Indonesia yang hanya mencapai rata-rata 3.513 langkah per hari.
3. Keamanan Pangan
Keamanan pangan adalah aspek krusial dalam menjamin kesehatan masyarakat. Selain itu, keamanan pangan juga berdampak pada aktivitas perdagangan internasional sebuah negara. Semakin baik status keamanan pangan yang dimiliki, maka semakin tinggi pula jaminan kesehatan yang didapatkan dan semakin aktif perdagangan internasional yang dilakukan.
Jika kita lihat dari negara maju seperti Singapura, negara ini menerapkan sistem keamanan pangan melalui Singapore Food Agency (SFA). Lembaga inilah yang nantinya akan menjamin keamanan pangan negara melalui layanan terpadu dan pendekatan berbasis risiko. SFA melakukan pendekatan berbasis risiko ini dari tahap paling awal, yakni From Farm to Fork.
Meskipun kebutuhan pangan Singapura 90% dipenuhi dari aktivitas impor, tetapi pemerintah memberlakukan persyaratan yang ketat untuk negara pengimpor. Negara pengeskpor wajib menerapkan science based risk management. Pendekatan ini meliputi pre-import control, import control, post-import control. Bagaimana dengan Indonesia?
Aprianda Prastama dari Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pascapanen Pertanian mengungkapkan bahwa pengawasan pangan di Indonesia masih bersifat konvensional. Pemeriksaan sampling dilakukan secara acak tanpa mempertimbangkan prioritas risiko.
4. Lingkungan dan Sanitasi
Selanjutnya adalah lingkungan dan sanitasi. Di poin ini, kita akan berbicara tentang bagaimana pengelolaan sampah di Indonesia dan negara maju. Di negara maju seperti di Jerman, tanggung jawab pengelolaan sampah diberikan kepada produsen dan distributor melalui kebijakan manajemen siklus tertutup. Kebijakan tersebut mau tidak mau mendorong produsen dan distributor untuk ikut serta dalam pengelolaan sampah yang baik.
Hal ini juga diterapkan negara lain seperti Swedia, Jepang, dan Korea Selatan. Korea Selatan bahkan menerapkan sistem volume-based waste fee (VBWF). Sistem ini menjadikan besarnya biaya pembuangan sampah sesuai dengan volume sampah yang dihasilkan. Keberhasilan negara maju ini tidak serta-merta disandarkan pada kesadaran individu saja.
Terdapat andil besar pemerintah dalam merancang sistem nasional yang mampu memastikan pengelolaan sampah dengan baik. Bagaimana dengan Indonesia? Pengelolaan sampah di Indonesia masih didominasi dengan metode open dumping dan landfill. Kedua metode ini memiliki banyak kekurangan, seperti menimbulkan bau menyengat, mencemari tanah serta air, menghasilkan gas metana berbahaya dan lain-lain.
5. Status Gizi
Gizi anak juga bagian tanggung jawab dari negara. Tentu saja pelaksanaan tanggung jawab yang dilakukan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara. Solusi memberikan makan langsung kepada anak dapat dilaksanakan apabila perencanaan, pemilihan SDM, dan skala prioritas kerja telah ditentukan dengan baik.
Jika tidak, maka tentu solusi edukasi panganan bergizi kepada orang tua harus lebih dikedepankan. Indonesia mungkin dapat mencontoh Singapura dalam upaya menurunkan angka stunting. Sebanyak 4,4% anak di bawah 5 tahun mengalami stunting, sehingga Singapura menjadi negara dengan angka stunting terendah di Asia. Obesitas perempuan dan laki-laki di Singapura mencapai angka 6,9% dan 6,7%, angka ini lebih rendah dari rata-rata Asia (10,3% & 7,5%).
Apakah di Singapura ada program MBG? Ada, tetapi tidak sama persis dan ya, kualitas pelaksanaannya jauh lebih baik. “MBG di Singapura” dikelola dengan sistem subsidi silang. Siswa sekolah dasar di bawah MOE FAS akan mendapat subsidi makanan untuk tujuh kali makan per pekan sekolah. Sementara siswa menengah MOE FAS mendapatkan subsidi makanan untuk 10 kali makan per pekan sekolah.
Indonesia saat ini mengalami permasalahan gizi ganda, yakni kurang gizi dan kelebihan gizi. Masalah kurang gizi masyarakat Indonesia disebabkan oleh banyak faktor seperti kemiskinan, keterbatasan persediaan pangan bergizi, kualitas lingkungan yang buruk, dan kurangnya pengetahuan gizi seimbang. Adapun masalah kelebihan gizi umumnya dialami oleh masyarakat ekonomi kelas menengah ke atas.
Masalah tersebut salah satunya timbul karena kurangnya pengetahuan pengelolaan gizi yang seimbang.
6. Pendidikan
Poin selanjutnya yang memengaruhi angka harapan hidup adalah pendidikan. Negara dengan angka harapan hidup yang tinggi, pastinya menaruh perhatian lebih pada aspek ini. Dari aspek inilah, kepala keluarga dapat mengerti bagaimana caranya mengatur gizi seimbang untuk istri dan anak-anaknya. Negara tetangga seperti Malaysia sudah lama memberikan perhatiannya di aspek ini.
Bahkan di Malaysia seorang guru bisa mendapatkan gaji 2.500 hingga 4.000 ringgit yang jika dirupiahkan menjadi Rp8,2 hingga Rp13 juta. Didapatkan dari SUN Education Group, rata-rata biaya hidup di negeri Jiran per bulan adalah 1.200 - 1.700 ringgit, atau sekitar Rp4,1 juta hingga Rp5,8 juta per bulan. Guru di Singapura mendapatkan gaji 3.000 hingga 6.000 dollar per bulan atau sekitar Rp33 hingga Rp67 juta per bulan.
Baca Juga: 7 Alasan Mengapa Pendidikan di Indonesia Hanya di "Situ-Situ Saja"
Adapun biaya hidup per bulan di Singapura berdasarkan sumber yang sama, berkisar di angka 2.300 - 3.500 dollar atau sekitar Rp28 juta hingga Rp43 juta per bulan. Ini artinya besaran gaji yang didapatkan oleh guru dipertimbangkan juga dengan biaya hidup.
7. Pengelolaan Pemerintahan
Sulit untuk tidak mengaitkan poin terakhir ini sebagai salah satu faktor yang memengaruhi angka harapan hidup. Hal ini wajar mengingat pemerintah langsung dan tidak langsung berperan pada minat baca warganya. Langsung dan tidak langsung peran pada seberapa sering warganya ingin berjalan kaki, mengelola sampah dengan baik, dan lain sebagainya.
Terkhusus buku misalnya, kamu pasti sering menahan uang jajannya beberapa bulan sebelum bisa membeli buku tertentu bukan? Ya, buku di Indonesia dianggap sebagai barang mahal. Ada banyak sebab mengapa hal ini bisa terjadi. Dimulai dari biaya distribusi yang mahal, biaya untuk impor kertas, penerbit, toko buku, sampai penulis. Bahkan untuk buku masuk ke dalam program pajak pemerintah.
Bagaimana dengan negara lain? Kamu bisa lihat datanya dengan jelas melalui gambar di atas. Pada akhirnya, ada banyak permasalahan bangsa yang memang tidak bisa diselesaikan dengan berharap seluruh masyarakat Indonesia menjadi lebih baik, lebih peduli budaya membaca, belajar, jalan kaki, menerapkan hidup sehat, pintar mengelola sampah dan lain-lain.
Baca Juga: 7 Alasan Mengapa Mahasiswa Harus Melek Politik!
Tetap harus ada andil kebijakan pemerintah yang benar-benar matang di dalamnya. Kebijakan tersebut harus benar-benar matang, dijalankan oleh SDM terbaik, serta diawasi melalui sistem yang terintegrasi dengan nilai keadilan dan kebersamaan, bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
Semoga artikel ini bermanfaat ya!



