Pengetahuan

Apa itu Struktur Flying Buttress pada Arsitektur

Flying Buttress adalah penopang mendukung fungsi bangunan dan menaikan nilai estetika. Penopang jenis ini berfungsi menyangga beban atap dan langit-langit dengan menyalurkan gaya lateral horizontal dari kubah ke pilar di luar dinding

Ishak Okta Sagita9 Januari 2026

Struktur flying buttress menjadi salah satu desain terbaik dalam dunia arsitektur. Menempel di sisi bangunan megah sebagai penopang yang menambah daya pikat bagi orang yang melihatnya.

Jenis penopang ini mempertemukan integritas struktural dengan seni. Lekungan tinggi membuat pembangunan gedung besar dapat terealisasikan. Yang mana dapat ditemukan pada bangunan beraliran arsitektur gothic.

Struktur flying buttress

Penopang terbang (flying buttress) adalah struktur yang menempel pada struktur lain sebagai penopang, yang terdiri dari balok miring yang ditopang oleh setengah lengkungan yang menjorok dari dinding struktur ke pilar yang menopang berat dan dorongan horizontal atap, kubah, maupun atap lengkung.

Gaya dorong kemudian disalurkan oleh flying buttress agar menjauh dari bangunan, kemudian disalurkan dari pier ke tanah. Pier memiliki hiasan berupa ornamen piramida pada puncak menara, yang membantu menambah bobot dan stabilitas.

Sistem ini digunakan untuk mengimbangi dorongan ke luar sehingga dapat membangun struktur bangunan lebih tinggi dengan dinding tipis serta bukaan jendela yang lebih besar.

Komponen flying buttress

Penopang ini menggunakan tiga komponen penting yang memiliki peran dalam struktur bangunan..

  • Penopang (Buttress) : Struktur besar yang menonjol dari bangunan utama. 
  • Lengkungan (Arch) : Lengkungan dari penopang terbang yang menghubungkan penopang dan bangunan. Berbentuk setengah lingkaran maupun runcing.
  • Pilar (pier) : Penyangga yang kokoh, menahan penopang terbang ke tanah dan mendukung stabilitas sembri mentransmisikan beban secara merata.

Bagaimana cara kerja Struktur flying buttress

Flying buttress bekerja dimulai dari dorongan beban lateral dari atap maupun langit-langit memberi dorongan lateral yang signifikan pada bagian atas dinding penyangga. Kemudian, balok lengkung melompat dari dinding atas ke penopang yang berdiri bebas untuk menangkap gaya ke luar. 

Pilar pada struktur flying buttress berguna sebagai penyerap gaya dari lengkungan dan mengarahkannya ke bawah tanah. Tujuannya untuk menghasilkan keseimbangan gaya.

Keseimbangan gaya digunakan untuk merambatkan gaya ke bawah pilar dan ke dalam tanah, agar mampu menetralkan tekanan.

Kelebihan dan kekurangan Struktur flying buttress

Struktur flying buttress memainkan peran vital dalam perkembangan arsitektur dunia. Dalam penggunaannya, ada beberapa batasan dan keunggulan dari struktur penopang terbang.

Integritas struktural

Flying buttress dapat dimaksimalkan karena sebagian besar berat struktur bangunan dipindahkan ke luar. Ini membuat dinding bangunan lebih tipis dibandingkan dinding biasa ketika harus menopang beban sendiri.

Memiliki daya tarik estetika

Bentuk lengkung pada penopang terbang memberi elemen visual yang menaikan nilai estetika. Membuat bangunan tersebut lebih menarik dan megah.

Mendapatkan pencahayaan alami

Flying buttress membantu membuat jendela berukuran besar. Ukuran jendela yang besar memungkinkan sinar matahari lebih mudah masuk ke dalam ruangan. Apabila diterapkan di siang hari, Anda dapat memanfaatkannya sebagai penerang ruangan alami.

Membutuhkan perawatan secara berkala

Flying buttress membutuhkan pemeliharaan secara berkala agar pondasinya tetap utuh sepanjang zaman. Terkena paparan cuaca secara konstan membuat pondasi mengalami penurunan kekuatan. 

Memakan ruang yang luas

Bentangan flying buttres memberi pencahayaan alami dan keamanan struktural, tetapi membutuhkan ruang yang luas. Dengan kata lain, penopang ini memakan banyak tempat.

Contoh bangunan yang memakai struktur flying buttress

struktur flying buttress

Gereja Katedral Notre-Dame menjadi contoh bangunan penggunaan flying buttress. Dengan 28 penopang mengelilingi aspe dan tempat paduan suara, serta dua tambahan di transpert. Penggunaannya sudah dimulai pada fase awal pembangunan di abad ke-13.

Flying buttress digunakan untuk mendukung fungsi bangunan dan menambah nilai estetika. Setiap penopang dengan hiasan pahatan dan detail ornamen dari tokoh-tokoh Alkitab.

Pada abad ke-14, gereja Notre-Dame mendapat penguatan penopang untuk memberi dukungan beban bagi dinding katedral. Abad ke-19, penopang baru ditambahkan untuk memperkuat stabilitas struktur. 

Penopang tersebut masih bertahan ketika terjadi Notre Dame mengalami kebakaran pada April 2019. Dampak kebakaran menyebabkan kerusakan pada atap dan menara gereja, tetapi penopang tetap utuh.

Kesimpulan

Flying Buttress adalah penopang mendukung fungsi bangunan dan menaikan nilai estetika. Penopang jenis ini berfungsi menyangga beban atap dan langit-langit dengan menyalurkan gaya lateral horizontal dari kubah ke pilar di luar dinding. Ini membuat dinding lebih tipis, tinggi, dan banyak jendela kaca.

Dengan penopang ini, beban atap dapat terdistribusi agar menciptakan stabilitas beban. Jika beban pada atap stabil, maka bangunan tersebut layak dihuni karena memberi keamanan.

ventilasi atap

Berbicara soal atap, Anak Teknik Indonesia memiliki koleksi buku tentang atap yang cocok masuk dalam koleksi Arsitek. Buku Ventilasi Atap menjelaskan bagaimana membuat atap yang aman dan nyaman. Memberi fungsi perlindungan sekaligus kenyamanan distribusi udara.

Klik tautan ini untuk melakukan pemesanan Buku Ventilasi Atap.
 

Share:

0 Komentar